Garda Terdepan Juga Ada di Rumahmu, Nak!

  Kamis, 21 Mei 2020   Netizen Azizah Mutiara Rusli
Para pejuang garda terdepan perkembangan anak di rumah, Bandung, Sabtu (13/04/2019). (Azizah Mutiara)

AYOBANDUNG.COM -- Tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan saya mengangkat judul garda terdepan untuk pejuang kemampuan Anak Berkebutuhan Khusus di rumah.

“Kasus pasien karena Corona makin meningkat mba, jadi kita terpaksa meliburkan sementara anak-anak sampai kondisi sudah aman, semoga virus ini segera berakhir, anak-anak bisa kembali terapi dan kita bisa masuk kerja lagi,” ujar rekan kerja saya dari seberang melalui gawainya (Telepon Whatssapp Minggu, 15 Maret 2020 pukul 16.00 WIB).

Saya adalah seorang Terapis Wicara. Mungkin beberapa pembaca masih awam dengan pekerjaan ini. Sederhananya, kami bertugas membantu anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan atau keterlambatan dari proses bicara, bahasa, suara, irama kelancaran dan kesulitan makan minum (menelan).

Tentunya, kriteria anak atau orang tua dengan gangguan tersebut sangatlah banyak juga memerlukan pemeriksaan khusus dari seorang Terapis Wicara.

Pada anak, kami banyak menemukan gangguan tersebut pada Anak Berkebutuhan Khusus, sedangkan kasus dewasa, salah satunya pada pasien pasca stroke. Pada saat terapi, anak akan dipercayakan oleh orang tuanya belajar berdua dengan terapis, di dalam ruangan khusus dan tentunya ‘jarak dekat’ antar terapis dan anak.

Lalu setelah virus ini merebak bagaimana? Tentunya kami tidak bisa melakukan penanganan secara langsung. Terutama bicara, bagaimana bisa seorang terapis wicara tetap memberikan penanganan sementara salah satu penularan virus ini adalah melalui oral. Dilema.

Kali ini saya akan sedikit berbagi mengenai pejuang yang mempertahankan kemampuan anak dengan gangguan tersebut di rumah.

Bagi beberapa kasus, terapi sudah menjadi kebutuhan seorang anak. Memang proses terapi tidak bisa hanya dilakukan sebanyak 1 kali untuk mencapai kemampuan maksimal. Selama Covid19 terjadi, tentunya kami Terapis Wicara tidak melaksanakan secara langsung proses terapi, riskan, karena salah satu penyebaran virus ini adalah kontak jarak dekat dan melalui oral.

Lalu siapa yang bisa kami andalkan sebagai perantara paling aman untuk tetap melakukan program terapi? Jawabannya adalah orang tua. Tentunya orang tua harus mengikuti protokol perlindungan diri yang telah diperintahkan oleh pemerintah bila harus pergi keluar rumah.

Setelah Covid-19 merebak, orang tua mendadak menjadi Terapis Wicara. Dibekali handphone untuk konsultasi dengan Terapis Wicara dan alat seadanya yang ada di rumah perjuangan orang tua sebagai garda terdepan bagi kemampuan anaknya dimulai.

“Mba, kok si mas jadi susah ya menelannya sering tersedak sekarang saya sudah coba turunkan tekstur makanannya tapi masih tersedak, gimana ya mba?”, “The, ini anaknya maksa terus pengen main di tempat terapi, katanya. Akhirnya saya imingi dengan ice cream aja biar ga ngambek”, atau “Ka, allhamdulilah udah mulai biasa si teteh terapi di rumah, tapi ya harus diajak main dulu biar mood-nya bagus”,

Kemudian, ada juga yang bilang, “Mba, sekarang teteh udah bisa loh lancar bicara yang ada huruf /t/ nya tapi ya itu, kadang bisa kadang engga.” Ada juga yang pesan, “Si ade susah banget diajak terapi, alasannya banyak, malah jadi ngamuk dan nangis karena nolak,” atau “Gimana ya? Susah lagi nih ngunyahnya sekarang, kalau dikasih stimulasi nangis, jadi ga tega.”

Setidaknya itu sedikit pesan WhatssApp yang saya terima selama hampir  3 bulan memantau anak melalui daring. Lalu saya menjawab “Gapapa, mam, ayo pasti bisa, coba ajak bermain peran pake alat masak-masakan,” dan “Gapapa mam, nangis sebentar asal stimulasi harus tetap diberikan, mama papa pasti bisa, semangat!”

Lalu saya mengirimkan video contoh stimulasi yang dapat dilakukan orang tua sehubungan dengan keluhannya. Keesokan harinya saya dikirimi video anak sedang terapi, ada yang sambil tidur-tiduran dan menangis, glendotan dengan ayahnya yang sedang Work From Home  atau makan kue sambil lari sana-sini.

Kata gapapa dan semangat, rasanya kini sudah menjadi autotext keypad handphone saya. Juga menjadi satu-satunya pesan terbaik untuk orang tua yang sedang berjuang untuk kemampuan anaknya.

Beberapa orang tua bahkan menyampatkan waktu 15 menit untuk telepon dengan saya di akhir minggu, sekedar melaporkan hasil terapi dan  diakhiri pertanyaan “kapan pandemi ini berakhir?” yang kini sudah menjadi pertanyaan umum.

Pada suatu sore salah seorang ibu pasien menelepon saya, setelah 2 bulan di rumah ia berkata “Mba, karena pandemi ini saya jadi sadar, ternyata anak saya juga bisa nurut untuk ikut tetap terapi di rumah, yaaa walau tidak seanteng bila terapi dengan terapis di tempat terapi. Saya kira, kontribusi saya hanya sedikit untuk kemajuan bicara ade, tapi ternyata saya juga memegang peran penting. Kebayang deh, tanpa program dari terapis wicaranya saya harus mulai dari mana yaa... Sekarang, juga saya paham sedikit sedikit maksud anak saya yang belum tersampai melalui bicara, mba. Dulu saya liatnya dia ngamuk doang, tapi ternyata itu cara dia menyampaikan keinginan.Makasih ya mba,” kata ibu pasien itu (Melalui Whatssapp Sabtu sore, 2 Mei 2020).

“Iya ibu, setiap anak memiliki cara berkomunikasi masing-masing karena dia mengungkapkan keinginannya dengan cara yang dia bisa, terutama untuk anak yang masih mengalami keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara. Saya tau, mungkin tidak mudah menerapkan program terapi di rumah, apalagi mama dan papa bagi setiap anak adalah penolong pertama untuk setiap hal yang diinginkan sehingga anak lebih ngeyel dan sulit diatur, tapi mama pasti bisa, semangat ya mam.”

Entah, saya berkaca-kaca menjawab itu. Rindu dan empati merebak menjadi satu. Saya pribadi sangat menghargai usaha orang tua yang kini mendadak menjadi Terapis Wicara di rumah, walaupun memang sebelum pandemi ini dimulai, orang tua sudah terbiasa mengerjakan tugas terapi anak, namun tanpa ada pertemuan secara langsung dengan terapis, bukannya ada satu peran yang hilang dalam proses terapi wicara ini? karena sejatinya usaha anak, terapis dan orang tua merupakan aspek terpenting dalam keberhasilan terapi dan kini orang tua harus melengkapi setiap usaha tersebut.

Setiap kejadian pada hidup manusia memiliki hikmah. Dan saya menemukan salah satu hikmahnya. Garda terdepan yang baru kini saya temukan, pejuang kemampuan Anak Berkebutuhan Khusus pada masa pandemi ini adalah orang tuanya, yang perjuangan dan kesabarannya akan lebih dikuras dibanding saat anak bertemu saya Terapis Wicara selama 1 jam di tempat terapi biasanya.

Ibu yang kini menambah jadwal kesibukannya untuk menjalankan stimulasi dan program terapi wicara, mencari kuliah whatsapp atau webinar yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kebutuhan anaknya dan ayah yang kini kian membantangkan tangannya untuk lebih memeluk saat anak marah menolak.

Diakhiri cerita sedikit pada Terapis Wicaranya masing-masing. Bagi kami, Terapis Wicara, juga perlu lebih memutar otak, membayangkan bagaimana keluhan anak melalui cerita orang tuanya dan kemudian mencari solusi untuk kesulitannya tersebut, kami perlu lebih sering memegang handphone untuk kegiatan yang lebih bermanfaat yaitu memberikan konsultasi dan bimbingan untuk orang tua. Semangat ya nak, kami garda terdepan yang terus membantumu.

***

Azizah Mutiara Rusli, Terapis Wicara di Kids Learning Center Bandung.

Netizen : Azizah Mutiara Rusli
Azizah Mutiara Rusli, Terapis Wicara di Kids Learning Center Bandung.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar