Corona dan Sembako untuk Guru Honorer

  Senin, 06 April 2020   Netizen Djasepudin
Djasepudin, Guru honorer SMA Negeri 1 Cibinong

AYOBANDUNG.COM -- Wabah Covid-19 sungguh membuat sulit. Tidak hanya yang terpapar jadi sakit hingga meninggal dunia, namun menyebabkan perkonomian macet dan rakyat kecil makin tercekik.

Tak terkecuali kalangan pegawai honorer. Padahal, pegawai honorer, terutama guru honorer sekolah dan madrasah merasakan betul dampak Covid 19 dan kebijakan “peliburan” ini. Apalagi bagi guru honorer harian.

Langsung atau tidak langsung guru honorer meraakan betul belajar dari rumah. Anak-anak diinstrusikan belajar dalam jaringan (daring/online) namun guru tidak dibekali paket data atau kuota internet. Hal ini tentu menyebabkan kaum guru mesti mengetatkan ikat pinggang lebih kencang.

Pertanyaannya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari saja sangat minim, bagaimana bisa mengembangkan diri dan menunjang kegiatan sekolah yang perlu membutuhkan biaya tambahan dari kantong sendiri?

O, ya, mungkin belum tahu semua. Okelah, saya sedikit terangkan tentang sumber dan pendapatan honor guru. Dari segi sumber pendapatan, guru honorer itu ada yang mendapat gaji (honor) dari pemerintah daerah dan ada yang dapat honor dari manajemen sekolah. Hitungan pembayarannya, ada yang dibayar perbulan, ada yang harian. Pembayaran harian itu hitungannya per-jam kedatangan ke sekolah. Jika guru tersebut tidak ke sekolah, misal sakit atau ada halangan lainnya, ya uang honor dalam sebulan itu bisa berkurang malah tidak dapat sama sekali.

Agar semua tahu, “gaji” alias bayaran guru honor sekolah dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara umum di kisaran Rp 500.000 dalam setiap bulannya.  Itu pun terkadang dibayar tidak tepat tiap bulan. Ada kalanya dibayarkan pertriwulan atau empat bulan sekali. Terkadang, saya kerap mendengar di beberapa daerah ada pemotongan juga oleh oknum tertentu.

Di Kabupaten Bogor, sejumlah guru madrasah malah dibayar Rp 300.000 dalam setiap bulannya. Sedangkan tugas dan kewajiban mereka dalam memajukan pendidikan sama saja dengan guru-guru non-PNS lainnya.

Adapun jumlah guru honorer sekolah di Kabupaten Bogor menurut Bupati Bogor mencapai 17.600 orang. Jumlah itu meliputi guru honorer kategori dua (K2) 2400 orang, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) 1200 orang, dan tenaga harian lepas 14.000 orang.

Memang, di beberapa daerah ada semacam tunjangan. Namun, tidak semua guru honorer mendapatkan. Hanya yang memenuhi adminitrai tertentu yang berhak. Lama pengabdian di sekolah tidak dihitung selama, misal, guru tersebut tidak punya NUPTK.

Bahkan guru dalam golongan P3K pun hingga saat ini belum mendapatkan haknya. Terutama dalam penggajian. Sebab, mereka belum mendapat semacam Keputuan Presiden (Kepres). Sudah lebih dari setahun ini mereka terkatung-katung menunggu kejelasan P3K.

Okelah, para guru honorer bisa mencari tambahan dengan menjadi ojeg daring, berjualan gorengan, atau les privat. Namun, itu belum menjadi jawaban tepat atas permasalahan hidup mereka. Bukan melulu ihwal profesionalisme. Namun perkara keadilan dan kepatutan perlakuan.

Terlebih dalam kondisi wabah Covid-19 yang membuat gerak langkah kaum guru honorer pun kian terbatas. Sedangkan kebutuhan sehari-hari tidak bisa dihindari, baik terkait dapur maupun kebutuhan anak-anaknya.

Membaca fenomena itu, dalam ruang ini, dalam artikel yang sederhana ini, saya mengajak, yuk, kita peduli kepada nasib guru honorer di lingkungan kita. Sungguh mulia jika saudara-saudaara semua yang memiliki rizki agak berlebih, untuk bahu-membahu membantu ekonomi kaum guru honorer.

Saya berharap ada penggalangan dana bukan untuk Alat Pelindung Diri (APD) dan penyemprotan disinfektan saja. Namun, mari, kita galang dana untuk membantu ekonomi kaum guru honorer juga.

Ihwal data dan cara penyaluran, kita bisa bekerja sama dengan organisai profesi guru. Misal, di Kabupaten Bogor ada Perkumpulan Guru Honorer (PGH), ada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) atau ada Musyawara Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang pasti ada di setiap daerah.

Memang, dengan ribuan jumlah guru honorer di sekolah dan madrasah tidak mungkin semua terbantu. Namun, satu rupiah saja dana yang kita ulurkan sudah membantu Indonesia secara keseluruhan.

Saya berharap, jika dana terkumpul, tidak dibagikan dalam bentuk uang. Namun langsung diwujudkan kepada kebutuhan pokok keluarga berupa paket sembako yang memang sangat dibutuhkan dan tidak bisa ditangguhkan.

Dengan bantuan paket sembako untuk guru honorer bukan saja membuktikan rasa empati kita pada kondisi yang memprihatinkan ini, namun diharapkan daya tahan keluarga besar guru honorer menjadi lebih kuat serta menunjang kinerja mereka dalam membina anak-anak kita dalam bidang pendidikan.

Yuk, kita mulai, sekarang juga, tanpa tapi tanpa nanti.   

***  

Djasepudin, Guru honorer SMA Negeri 1 Cibinong. Penulis lepas di berbagai media cetak dan daring

Netizen : Djasepudin
Guru honorer SMA Negeri 1 Cibinong. Penulis lepas di berbagai media cetak dan daring

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar