Garda Terdepan Melawan Musuh Tak Terlihat

  Senin, 30 Maret 2020   Netizen Jasmine Rahmanizahra
[Ilustrasi] Dokter. (Pinterest)

“Ketika seorang dokter tidak berani untuk berada di lini terdepan, maka siapa lagi yang harus ada disana?”

AYOBANDUNG.COM -- Kalimat itu seolah-olah menampar keras pemuda yang usianya baru saja memasuki kepala dua. Kalimat yang didengarnya  pada hari pertama saat dia resmi menjadi mahasiswa kedokteran pendidikan keprofesian pun seakan-akan terperangkap di dalam pikirannya, tak bisa keluar dan terus-menerus terdengar di telinganya.

Melewati hari demi hari di rumah tanpa bisa melakukan rutinitas yang selalu dia jalani saat menjadi mahasiswa, terasa sangat membosankan bagi dirinya. Hatinya terasa sepi dan kosong di saat bumi pertiwi sedang dilanda keriuhan dalam kecemasan di setiap sudutnya. Pikirannya seringkali kalut setiap melihat berita yang disiarkan di televisi.

AYO BACA:  Ini Bentuk Virus Corona Jika Diperbesar 2.600 Kali?

AYO BACA: 5 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 yang Keliru

AYO BACA: Nekat Resepsi Nikah di Tengah Corona Akan Dipenjara 1 Tahun?

“Saya sedih melihat berita tentang covid-19 di televisi, karena gak ada yang bisa saya lakukan, gelar sebagai dokter pun saya belum dapat karena saya istilahnya masih jadi mahasiswa,” ujar Ekral Delhaldita, mahasiswa kedokteran pendidikan keprofesian, Universitas Riau, Selasa (24/3/2020).

Setiap hari dirinya dihantui oleh perasaan resah dan gelisah. Dia sempat kebingungan untuk mencari cara bagaimana agar dirinya dapat membantu menyembuhkan negeri ini dengan berbekal ilmu yang telah didapatnya selama menjadi mahasiswa. Namun semua rasa resahnya terjawab saat dia melihat informasi mengenai pendaftaran untuk menjadi relawan yang ditawarkan oleh pihak universitasnya.

Tanpa pikir panjang, dia memantapkan hatinya mendaftarkan dirinya menjadi relawan. Hal ini tentu dia lakukan untuk mengatasi rasa gundah gulana yang selama ini dirasakannya.

AYO BACA: Corona Masuk ke Indonesia, Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Berbahaya

AYO BACA: Cara Membuat Hand Sanitizer Sesuai Standar WHO untuk Cegah Corona

AYO BACA: Bacaan Qunut Nazilah, Doa Menangkal Malapetaka

“Saya di rumah juga gak ada kerjaan karena saya sebenernya masih koas (pendidikan profesi) jadi ke rumah sakit juga gak boleh karena statusnya masih mahasiswa. Kelas online juga gak ada karena kalau koas sebetulnya lebih banyak praktik,” tuturnya.

Atas Dasar Kemanusiaan

Saat ditanyai lebih dalam alasan mengapa dia memutuskan tetap mendaftarkan dirinya menjadi relawan, Ekral mengatakan, apa yang dilakukannya atas dasar kemanusiaan. “Kalau kata dosen saya, pendidikan profesi itu pendidikan kemanusiaan. Mungkin yang saya lakukan adalah level terendahnya humanism. Tapi dengan gini setidaknya saya bisa ikut membantu,” ucapnya.

Walaupun imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing dan adanya tagar #DiRumahAja gencar dilakukan di mana-mana, Ekral tetap melanjutkan niatnya menjadi relawan. Saat ditanya apakah ada sedikit keraguan saat mendaftar menjadi relawan, Ekral mengatakan, sebelum dirinya mendaftar, dia telah membaca seluruh kriteria pendaftaran dan prosedur dari kegiatan relawan ini.

“Kriteria yang paling utama itu sehat sih, jadi kalau sehat ya kita bisa jadi relawan. Selain itu juga karena kegiatan relawan ini sebenarnya lebih menitiberatkan pada edukasi untuk masyarakat, jadi kita diposisikan di tempat aman. Seperti memberikan penyuluhan ke masyarakat melalui kader-kader desa atau ke lingkup yang lebih kecil. Saya juga udah baca bahwa kita (relawan) dijamin untuk mendapat alat pelindung diri yang sesuai standar untuk di tempat tertentu,” ujar Ekral.

Namun, menurut Ekral, tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya dapat dihadapkan dengan Pasien Dengan Pengawasan (PDP) jika memang dalam keadaan yang sangat diperlukan. Sejauh ini, Ekral masih diberi pembekalan untuk menjadi relawan secara online oleh dosennya.

“Sejauh ini sih masih diberi pembekalan online sama dosen. Tapi saya sama teman juga sebelumnya sudah pernah memberikan penyuluhan ke desa terdekat terkait pencegahan virus corona ini,” tuturnya.

AYO BACA: 8 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Saat Keluar Rumah

AYO BACA: Cara Salam Alternatif untuk Cegah Corona Sesuai Anjuran WHO

AYO BACA: Cara Buat Masker Anticorona Murah dan Ramah Lingkungan ala Dokter Taiwan

Selain melakukan penyuluhan kepada masyarakat, Ekral mengatakan, kegiatan relawan ini bisa jadi tidak hanya untuk memberikan informasi kepada masyarakat sekitar. Kegiatan relawan ini juga bisa saja ada yang ditempatkan sebagai call center pelayanan informasi mengenai Covid-19 atau dapat juga membantu untuk menyalurkan Alat Pelindung Diri (APD) ke rumah sakit yang membutuhkan.

“Kegiatannya itu sebenarnya banyak, ada yang bekerja untuk membantu menyalurkan APD, menjadi call center juga ada karena dasarnya edukasi kan. Tapi juga kita bisa ditempatkan di tempat yang resikonya tinggi. Seperti dilibatkan ke tracing (penelusuran) untuk membantu dinas kesehatan tapi dengan syarat full APD. Jadi gak boleh sembarangan,” paparnya.

Ekral memiliki orang tua yang mendukungnya untuk melakukan kegiatan sebagai relawan ini. Dia mengatakan, orang tuanya memberikan dukungan penuh kepada dirinya walaupun kedua orang tuanya sempat khawatir karena apa yang akan dilakukan anaknya cukup riskan. Namun, Ekral juga menjelaskan secara rinci kepada orang tuanya mengenai kegiatan sebagai relawan yang akan dilakukannya.

“Awalnya orang tua pasti takut dan khawatir, soalnya kalau liat di berita kan  virus ini sangat cepat dan mudah menyebar. Tapi saya kasih tau kegiatan dan prosedur jadi relawan itu seperti apa. Akhirnya mereka memberi saya izin, juga mereka berpesan untuk niatkan semuanya sama Allah,” tutur Ekral.

Dia pun mengatakan, keputusannya mendaftar sebagai relawan bukanlah sebuah keterpaksaan melainkan kesadaran sendiri untuk membantu sesama, melawan musuh yang tak terlihat.

***

Jasmine Rahmanizahra, biasa dipanggil Jasmine. Saat ini merupakan mahasiswa aktif Jurnalistik, Universitas Padjadjaran.

Netizen : Jasmine Rahmanizahra
Jasmine Rahmanizahra, biasa dipanggil Jasmine. Saat ini merupakan mahasiswa aktif Jurnalistik, Universitas Padjadjaran.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar