Dua Kabupaten Kecil: Cibalagung dan Cikalong

  Jumat, 28 Februari 2020   Netizen Atep Kurnia
Peta Distrik Cibalagung. Distrik ini terletak di utara Cianjur, berbatasan dengan Maleber (di tenggara), Cibeureum (barat), dan Mande, Majalaya, dan Ciputri (utara). (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)

AYOBANDUNG.COM -- Dulu pernah ada dua kabupaten kecil di Cianjur, yaitu Kabupaten Cibalagung dan Kabupaten Cikalong. Wilayah Kabupaten Cibalagung kini tersebar di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Mande, Kecamatan Ciranjang, dan Kecamatan Cianjur, tapi sekarang tidak menjadi nama wilayah administratif. Sementara Kabupaten Cikalong saat ini menjadi Kecamatan Cikalongkulon, yang memang berbatasan langsung dengan wilayah yang dulu termasuk Kabupaten Cibalagung.

Kedua kabupaten ini terkait erat dengan Banten, Cirebon, dan Cianjur. Banten mulai menduduki Cikalong sejak 1633, sementara Cirebon, terutama Talaga, bahkan menjadi asal-usul para pembesar Cianjur, Cibalagung, dan Cikalong. Menurut catatan pada 1679, Nambo, Cihea, dan Cibalagung berada di bawah kekuasaan Cirebon dan wilayah-wilayah yang dikuasainya dinamakan Kacirebonan.

Di sisi lain, pada 1684, Pangeran Purbaya dari Banten dan Letnan Surapati menjadikan Cikalong sebagai tempat pelarian sekaligus perlawanan mereka terhadap kompeni. Di Cikalong pasukan gabungan tersebut dapat menyerang dan membunuh serdadu kompeni.

AYO BACA: Kopi dari Batulayang, 1777-1802

AYO BACA: Gelar Bupati karena Kopi

Alhasil, Cianjur, Cibalagung, dan Cikalong merupakan tempat sengketa antara Kesultanan Banten dan Cirebon. Bahkan pada 1678 orang-orang Banten yang juga mengklaim daerah itu datang menyerang. Padahal saat itu, Cirebon sedang berkuasa di sana. Karena pada catatan kompeni (VOC) tanggal 9 Juni 1684 disebutkan Kiai Lumaju merupakan mantri Cirebon untuk negeri-negeri di dataran tinggi. Namun, setelah Mataram mengadakan perjanjian dengan kompeni terkait Priangan pada 1677 dan Cirebon menyatakan takluk pada kompeni sejak 1681, wilayah Cianjur, Cibalagung, dan Cikalong berada di bawah kendali VOC. Namun, tidak secara otomatis, karena pada 24 Juli 1685, masih disebutkan Cikalong membayar upeti kepada Sultan Sepuh Cirebon. Meski justru Sultan Sepuh mengeluhkan Cikalong tidak lagi mau membayar upeti.

Foto-01

Peta Distrik Cibalagung. Distrik ini terletak di utara Cianjur, berbatasan dengan Maleber (di tenggara), Cibeureum (barat), dan Mande, Majalaya, dan Ciputri (utara). (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)

Menurut surat bupati Bandung pada 4 April 1703, Cibalagung bernama lain Datar. Daerahnya mencapai arah selatan Cimandiri, termasuk Cibadak di tengah-tengah antara Cipamingkis dan Cikalong. Demikian pula dengan Cisero. Ibu kota Cibalagung disebut sebagai Kademangan, yang berjarak tempuh sekitar dua jam dari Cianjur. Kini Kademangan menjadi nama desa di Kecamatan Mande.

AYO BACA: Produksi Kopi Bandung Tahun 1712-1799

AYO BACA: Kopi dan Dalem Condre

Bupati pertama Kabupaten Cibalagung adalah Kiai Aria Natamanggala I (1690-1705). Ia masih masih berkerabat dengan bupati Cianjur pertama, karena sama-sama berasal dari wilayah Talaga, Cirebon. Bahkan terjadi kerumitan hubungan dan kesimpangsiuran informasi di antara para pembesar Cianjur, Cibalagung, dan Cikalong. Ini terlihat dari bukti bahwa Wiratanu yang disebut sebagai Bupati Cilaku pada 1685 dan pada 4 April 1686 disebutkan tinggal di Cibalagung, tetapi pada 6 Mei 1686 disebutkan tinggal di Cikalong. Kemudian pada 24 Januari 1680; 18 Agustus 1694; dan 4 November 1701, Wiratanu disebut-sebut sebagai bupati Cianjur.

Menurut berita 19 September dan 7 Oktober 1681; 19 Februari 1683; dan 21 Maret 1685, Natamanggala berada di bawah kekuasaan Sultan Sepuh dari Cirebon. Natamanggala disebut sebagai bupati Cikalong pada 4 Januari 1684 dan Wangsakusuma pada 16 Agustus 1684. Sejak 8 Februari 1690, Natamanggala tercatat mengepalai Cibalagung. Saat dia menjabat, Umbul Lumaju yang termasuk Kabupaten Cibalagung dibuang ke Batavia karena membantu perlawanan Prawatasari terhadap kompeni pada 19 Juni 1705.

Setelah kematiannya pada 1706, Aria Natamanggala digantikan anak tertuanya, Raden Anggadiwangsa alias Aria Natamanggala II (1706-1730). Pada masa selanjutnya, ketika diperintah Aria Natamanggala III (1730-1772), produksi kopi dari Cibalagung dianggap rendah sehingga ia tidak dipromosikan dan dijadikan bawahan Cianjur. Pengganti selanjutnya adalah Raden Purbadinata alias Aria Natamanggala IV (1772-1788). Lalu pada 30 Desember 1788, Kumitir Pribumi mencalonkan Raden Oasi Tardja yang disebut-sebut sebagai saudara atau ipar bupati Cianjur. Di masa bupati ini (1788-1789), Kabupaten Cibalagung dilebur dengan Cianjur sebagai salah satu cutak.

AYO BACA: Sajen Kopi

AYO BACA: Awal Kopi di Tanah Jawa

Foto-02

Distrik Cikalong berbatasan dengan Cibalagung (di utara), Mande (tenggara), Cinusa, Gandasoli (timur laut), Majalaya (barat) . (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)

Sementara Cikalong mulai mandiri sebagai kabupaten pada 9 Mei 1695. Bupati pertamanya adalah Aria Wangsakusuma (1695-1731). Batas wilayahnya adalah Cimapar. Ibu kotanya Cikartanagara. Namun, Cikalong dan Cibalagung paling tidak hingga kematian Natamangga I pada 27 Agustus 1706, nampak masih bersatu, dengan keterangan tambahan bahwa ia juga menjadi bupati Cikalong. Kemudian pada 18 dan 28 September 1706, Wangsakusuma disebut lagi sebagai bupati Cikalong.

Wangsakusuma yang meninggal pada 29 Juli 1731 memiliki lima orang anak, yakni Wangsadikusuma, Suranagara, Kusumayuda, Singadipraja dan Kartanata. Pada 28 Agustus 1731, Wangsadikusuma diangkat menjadi bupati Cikalong (1731-1755) dengan gelar yang sama dengan ayahnya, Aria Wangsakusuma II. Setelah meninggal, dia digantikan oleh anaknya yang tertua Wangsanagara dengan gelar Aria Wangsakusuma III (1755-1759).

AYO BACA: Kopi dalam Rekaman Musik

AYO BACA: Pecandu Kopi

Karena Aria Wangsakusuma III dianggap tidak mampu mengolah negaranya, dia dipecat. Sebagai gantinya adalah saudara dan patih Cianjur, Aria Natanagara (1759-1769) tetapi kemudian dia memilih berhenti sebagai bupati Cikalong. Pada 25 Agustus 1769, atas usulan kompeni, yang diangkat menjadi bupati Cikalong adalah Tumenggung Natanagara (1769-1788). Saat meninggal pada 8 Februari 1788, anaknya Aria Surianagara (yang pernah menjadi patih Cianjur sebentar) bertingkah buruk, sehingga diasingkan ke Batavia. Meskipun dapat kembali ke Cikalong, tetapi atas perintah Komandan di Bogor, Cikalong harus dimasukkan ke Cianjur. Lagi pula Cianjur sudah banyak mengeluarkan biaya untuk membayar utang-utang bupati Cikalong. Surianagara pada 20 Oktober 1788 menerima surat ancaman dari Rolff, terkait transportasi kopi dan penjualannya.

Bila dikaitkan dengan kehadiran kopi di Priangan, bisa dipastikan tanaman itu mulai dibudidayakan saat Aria Natamanggala II (1706-1730) menjabat sebagai bupati Cibalagung dan Aria Wangsakusuma (1695-1731) menjabat sebagai bupati Cikalong. Bila dihitung sejak penyetoran pertama dari bupati Cianjur pada 1711, bisa jadi hasil tanam kopi dari Cibalagung dan Cikalong juga disatukan dengan dari Cianjur hingga tahun 1720. Karena pada statistik penyetoran kopi dari Priangan ke Batavia, pada 1721 hingga 1725, disebutkan masing-masing: Cibalagung menyerahkan secara beturut-turut sebanyak  46, 209, 583, 552, 927 pikul dan dari Cikalong sebanyak 35, 118, 257, 392, 578 pikul. Dalam lima tahun itu, produksi kopi dari kedua kabupaten cenderung kian bertambah.

Namun, antara 1726 hingga 1744 tidak tercatat setoran kopi dari kedua kabupaten tersebut. Kemungkinan besar penyebabnya adalah hasil panennya disatukan dengan Cianjur, sebagaimana terbukti dari catatan tahun 1738. Saat itu, hasil panen Kabupaten Cibalagung dan Kabupaten Cikalong disatukan dengan dari Kabupaten Cianjur sebanyak 29.645,5 pikul. Dalam statistik setoran kopi mulai ada data lagi dari Cibalagung dan Cikalong adalah pada tahun 1745 hingga 1755. Namun, data dari tahun 1756 hingga 1765 tidak ada lagi dalam statistik. Ini juga berkaitan dengan penyatuan hasil dari ketiga kabupaten. Buktinya, pada catatan perjalanan Tisson dan Weiss (15 April 1766) disebutkan bahwa kebun kopi di Kabupaten Cibalagung dan Cikalong berada di Tanah Balubur yang juga bercampur dengan Cianjur.

AYO BACA: Motif Kopi Batik Priangan

AYO BACA: Sisindiran Kopi

Antara 1766 hingga Cikalong disatukan dengan Cianjur pada 1788 dan Cibalagung pada 1789, setoran kopi dari masing-masing kedua kabupaten tercatat pada tahun 1766, 1773, 1777, 1778, 1785, dan 1786 dengan jumlah secara berturut-turut: dari Cibalagung sebanyak  168, 363, 182, 440, 227, dan 256, sementara dari Cikalong sebanyak 254, 500, 100, 325, 235 pikul dengan catatan pada 1778 tidak tercatat ada setoran kopi dari Cikalong. Namun, dari data antara 1766 hingga 1786 itu nampak produksi kopi dari kedua kabupaten menunjukkan kecenderungan naik dan turun.

Selanjutnya sejak 1787 hingga 1790 tidak tercatat hasil kopi dari Cibalagung dan Cikalong, dengan kemungkinan disatukan dengan hasil kopi dari Cianjur. Namun, kondisi perkebunan kopi di Cikalong masih dapat disimak dari keterangan Belanda. Dalam salah satu surat Kumitir Pribumi Rolff bertitimangsa Februari 1788, disebutkan bahwa Cikalong merupakan kabupaten yang menyenangkan dan memiliki kebun-kebun kopi yang bagus. Namun, bagian baratnya yang terdiri dari pegunungan tidak terlalu subur.

Dari statistik setoran kopi, data gabungan ketiga kabupaten tersebut baru ada sejak 1791. Untuk perbandingan hasil kopi dari Cianjur sebelum dan sesudah penggabungan Cibalagung dan Cikalong, paling tidak hingga bangkrutnya kompeni pada 1799, dapat diuraikan sebagai berikut: Cianjur masih menghasilkan 6711 pikul kopi pada 1786. Sementara setelah penyatuan, pada 1791, Cianjur memperoleh 26.454 pikul; 1792 mendapat 45.220 pikul; 1793 mendapatkan 55.724 pikul dan pada masa akhir kompeni yaitu tahun 1799 mendapatkan 21.566 pikul.

AYO BACA: Warna Kopi

Itulah hasil penelusuran saya dari buku babon mengenai sejarah Priangan yang disusun arsiparis F. De Haan (1910-1912). Tentu saja, masih banyak hal lainnya yang akan saya gali dari buku bertajuk Priangan: de Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811 itu.

Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda.

Netizen : Atep Kurnia

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar