Wabah Virus Corona, Bisa Menginspirasi Perang Biologi?

  Rabu, 26 Februari 2020   Netizen Sjarifuddin
[Ilustrasi] Virus Corona. (Pixabay)

Kissinger mengutip pernyataan penulis militer Romawi, Publius Flavius Vegetius Renatus..Si vis pacem para bellum ,..jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.

AYOBANDUNG.COM -- Seandainya pecah perang nuklir, Hasilnya sudah pasti kerusakan massal. Jutaan orang meninggal dunia dan luka-luka. Infrastruktur fisik dan sosial hancur lebur. Wilayah yang menjadi target, bertahun-tahun menjadi kota mati.

Sadar akan resiko yang dahsyat itu. Berpuluh kali lipat dari yang dialami Hiroshima dan Nagasaki. Negara-negara pemilik senjata nuklir membuat keputusan yang bersifat mengekang.

Amerika Serikat dan Uni Soviet mencapai kesepakatan dalam dua Perundingan Perjanjian Pembatasan Senjata Strategis (SALT 1 dan SALT II). Materi perundingan yang disepakati mencakup pembatasan pengembangan dan pembuatan senjata nuklir strategis dan penentuan jaraknya. Penghancuran pembom B-52 yang dapat membawa bom nuklir merupakan bukti kesepakatan dipenuhi.

Dewasa ini, Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, dan Cina tidak lagi melakukan percobaan senjata nuklir baik di atmosfir maupun di darat. Namun, India dan Pakistan masih melakukan uji coba rudal balistik yang dapat diperlengkapi hulu ledak nuklir. Adapun Israel yang kerap melakukan percobaan di gurun Negev mengaku tidak memiliki senjata nuklir.

Ternyata sekalipun mencapai kesepakatan, para anggota klub nuklir tetap menyisakan peluang untuk pemilikan maupun mengembangkan dan meningkatkan kecepatan jelajah rudal-rudalnya.

Rusia tengah membuat rudal hipersonik udara ke udara untuk mencegat rudal berkecepatan tinggi. Kelak rudal serupa ini akan dikembangkan hingga mampu membawa kepala nuklir dengan sasaran di darat.

Pemerintah Inggris diam-diam membeli hulu ledak nuklir dari AS untuk rudal Trident yang ditembakkan dari kapal selam. Anggota parlemen Inggris, pada Minggu (23/2/2020) memprotes dan menyebut Inggris negara bagian ke-51 AS.

Sebenarnya pembelian ini pernah terjadi pada 1962, saat Inggris membeli dari AS rudal Polaris yang bisa membawa hulu ledak nuklir seberat setengah megaton. Persetujuan dibuat oleh Presiden John F Kennedy dan PM Harrold McMillan.

Masih Jadi Andalan

Sepertinya, senjata nuklir masih menjadi andalan sebagai penggentar. Suatu simulasi yang dilakukan Universitas Princeton pada September 2019, menyebut 34 juta orang mati dalam lima jam pertama bila berlangsung perang nuklir AS-Rusia. Sejumlah 60 juta orang luka-luka dan lebih banyak lagi yang akan tewas karena berbagai sebab.

Perang nuklir India-Pakistan juga akan menyebabkan 135 juta orang tewas. Perang bakal merusak lingkungan dengan amat dahsyat. Dampak buruk akan dialami selama bertahun-tahun.

Disrupsi Luar Biasa

Tak satu negara yang mau memulai perang nuklir. Tapi niat melemahkan negara pesaing dengan cara lain tak pernah surut. Ini menyangkut supremasi dan masa depan suatu bangsa. Yang dicemaskan adalah bila wabah virus Corona (Covid-19) jadi bahan inspirasi perang biologi. 

Wabah Covid-19 yang disebut terjadi mulai Desember tahun lalu di Wuhan, provinsi Hubei, Cina tengah menimbulkan akibat luar biasa. Selain Cina, lebih dari 80 negara terpengaruh baik karena penduduknya terinfeksi maupun ekonominya rusak.

Wabah Covid-19 ini berdampak luas karena berpusat di negara yang peringkat ekonominya kedua terbesar di dunia. Produknya pada 2018 mencapai US$9.732 triliun. Produk-produk Cina mengalir ke 65 negara dan menerima produk-produk dari 33 negara.

Dengan banyak negara yang terkait, maka dengan sendirinya wabah virus ini menganggu kelancaran produksi, investasi, perdagangan bahkan kesejahteraan rakyat.

World Economic Forum dalam laporannya menyatakan, pertumbuhan ekonomi Cina diperkirakan turun dari 1,5 % pada kuartal pertama 2020. Permintaan global atas minyak mentah sangat terpukul dan diperkirakan berkurang 435 ribu barel pada kurun waktu yang sama.

Banyak pabrik di seluruh dunia ditutup karena pelambatan arus produk dan perkakas dari Cina. Produsen otomotif hingga komputer merugi. Bisnis retail kacau.

Puluhan juta orang masih berada di lusinan kota Cina yang ‘ditutup’.  Negara-negara lain memperpanjang pembatasan larangan mengunjungi Cina.

Seberapa hebat kesiapan Cina menerima kedatangan turis asing?

Menurut China Travel Guide 2019, terdapat 70 bandara internasional di Cina yang berhubungan dengan lebih dari 60 negara. Sebagian besar kota-kota di dalam negeri dihubungkan dengan kereta api berkecepatan tinggi. Kota dan desa terkoneksi dengan jalan bebas hambatan.

Dewasa ini, menurut laman itu, Cina mempunyai industri hiburan, budaya dan katering berkualitas tinggi. Tersedia 300 ribu hotel untuk wisatawan. Makin banyak pemandu wisata yang menguasai paling sedikit satu bahasa asing.

Turisme menjadi salah satu sumber pendapatan. Pada festival musim semi tahun 2019, jumlah wisatawan mencapai 4,15 juta atau naik 7,% dari tahun sebelumnya. Total pendapatan 513,9 miliar yuan, naik 8,2% dari tahun 2019.

Sementara iut, jumlah turis Cina yang piknik pada kuartal pertama tahun 2019, menurut Dinas Migrasi Nasional, berjumlah 6,311 juta. Bertambah 12,48% dari tahun 2018.

Setiap wisatawan Cina menghabiskan sekitar 7.000 yuan bila mengadakan lawatan ke luar negeri. Kota-kota yang banyak dikunjungi adalah London, Paris, Dubai, Okinawa, Kyoto, Osaka, Nagoya, Singapura dan Fukuoka.

Kekacauan di sektor pariwisata adalah salah satu contoh jelas dari dampak wabah Covid-19. Implikasi yang ditimbulkan amat panjang dan beragam karena membentang dari rangkaian hotel hingga UMKM penjual cenderamata.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) memperkirakan akibat pembatalan penerbangan, maskapai penerbangan global akan kehilangan pendapatan antara US$4 hingga US$5 miliar dalam kuartal pertama tahun ini. Kemerosotan pendapatan ini akan mempengaruhi pembayaran cicilan maupun utang pokok dan memperlambat produksi pesawat terbang.

Imajinasi Liar

Banyak negara akan mengalami resesi hanya karena wabah dari mahluk yang bernama virus. Ukurannya lebih kecil dari bakteri dan bisa berkembang biak bila tinggal pada mahluk lain seperti hewan. Kemudian pindah ke manusia dan selanjutnya dari manusia ke manusia.

Virus bisa dipelihara bahkan dimodifikasi agar mampu membunuh mahluk hidup atau melemahkan daya tahan mahluk hidup. Virus diambil dari berbagai negara dan dibiakkan di laboratorium untuk maksud-maksud tertentu.

Virus dapat digunakan menghancurkan negara lain dalam perang biologi. Biayanya lebih murah ketimbang membuat senjata nuklir. Lagipula bisa disamarkan sebagai berasal dari hewan. Lebih unik lagi, tidak merusak infrastruktur fisik seperti bila menggunakan nuklir.

Larangan

Kengerian dampak perang biologi/kimia telah lama didasari. Maka dari itu Protokol Jenewa 1925 melarang penggunaan gas pencekik, beracun, maupun jenis gas lainnya dan juga cara berperang biologis yang menggunakan bakteri untuk kepentingan perang.

Kemudian Konvensi  1972  tentang  pelarangan  pengembangan,  pembuatan , dan penimbunan  senjata  biologis  atau  bakteriologis  dan  beracun,  dan  tentang pemusnahannya.

Konvensi 1980 tentang larangan atau pembatasan penggunaan senjata konvensional tertentu yang dianggap  dapat  mengakibatkan  luka  yang  berlebihan  atau  dapat memberikan  efek  tidak  pandang  bulu.

Sebelumnya, yakni di tahun 1972, lebih dari seratus negara menandatangani kesepakatan dalam Konvensi Senjata Biologi yang melarang pembuatan atau penyimpanan senjata biologi.

Perang dalam bentuk apapun tidak dikehendaki. Tetapi seperti dikatakan Mantan Menlu AS Henry Alfred Kissinger,...bila ingin damai bersiaplah untuk perang.

Kissinger mengutip pernyataan penulis militer Romawi, Publius Flavius Vegetius Renatus..Si vis pacem para bellum ,..jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.

Sjafruddin Hamid, Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

Netizen : Sjarifuddin

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar