Dokter RSHS Ungkap Alasan Pemeriksaan Corona di Indonesia Tidak Masif

  Senin, 24 Februari 2020   Nur Khansa Ranawati
Wakil Ketua Tim Penanganan Infeksi Khusus Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung Anggraeni Alam. (Ayobandung.com/Nur Khansa)

SUKAJADI, AYOBANDUNG.COM -- Saat ini, virus Corona atau Covid-19 telah merebak ke sejumlah negara lain di luar China. Hingga hari ini, Senin (24/2/2020), penularan infeksi Covid-19 di luar negara asal kemunculannya terus meningkat, sebagaimana yang terjadi di Iran, Korea Selatan, hingga Italia.

Menyikapi hal ini sejumlah negara pun melakukan pengecekan kesehatan ke lebih banyak warga sehingga lebih banyak kasus terkonfirmasi Covid-19 ditemukan. Namun, pemeriksaan masif tidak dilakukan di Indonesia.

Wakil Ketua Tim Penanganan Infeksi Khusus Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung Anggraeni Alam mengatakan, pemeriksaan tidak dilakukan kepada warga karena hingga saat ini belum ada kasus positif Covid-19 yang ditemukan di Indonesia. Dia menjelaskan, selama ini pasien terduga Covid-19 yang ditangani RSHS dan rumah sakit lainnya di Indonesia tidak pernah lebih dari status 'dalam pengawasan', dan selalu membaik setelah diberi pengobatan.

AYO BACA : Begini Kondisi Terakhir 3 Pasien Terduga Corona di RSHS

"Harus ada satu positif dulu, baru bisa bergerak memeriksa warga lainnya. Sampai sekarang dengan pemeriksaan  Litbangkes Kementerian Kesehatan yang sangat kita percaya dan sudah diakui WHO, hasilnya semua negatif," ungkapnya ketika ditemui selepas konferensi pers di RSHS Bandung, Senin (24/2/2020).

Dia mengatakan, negara-negara yang memeriksakan warganya secara masif adalah negara yang minimal sudah memiliki satu kasus terkonfirmasi Covid-19. Pasalnya, Anggraeni mengatakan, WHO sudah mengatur prosedur bahwa otoritas kesehatan di negara yang memiliki kasus Covid-19 terkonfirmasi harus menelusuri kemungkinan penyebaran virus tersebut di kawasan-kawasan yang memiliki kontak dengan pembawa virus.

"Apabila ada yang positif, pasti orang-orang di sekitarnya akan diperiksa. Begitu dapat satu kasus saja, toko yang disambangi pasien tersebut harus dicek, orang yang pernah ngobrol dengan jarak 1 meter dengan pasien harus dilacak. Ini yang dilakukan negara-negara yang sudah positif terinfeksi, sehingga pemeriksaannya masif," ungkapnya.

AYO BACA : 2 dari 3 Pasien Terduga Corona di RSHS Dinyatakan Negatif

Karena hingga saat ini Indonesia tidak memiliki kasus terkonfirmasi Covid-19, maka pemeriksaan hanya dilakukan pada pasien-pasien yang diduga terpapar virus tersebut, yang memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Anggraeni juga menegaskan bahwa Indonesia sejak awal memiliki kemampuan dan kapasitas sesuai standar untuk mendeteksi keberadaan virus tersebut.

"Sejak awal Indonesia mampu mendeteksi Covid-19, standar pemeriksaan di Litbangkes Kementerian Kesehatan itu sudah diakui WHO," ungkapnya.

Dia mengatakan, apabila Indonesia suatu waktu mendapat kasus terkonfirmasi Covid-19, maka prosedur penanganan dan pemeriksaan yang dilakukan pun sama dengan yang diterapkan di negara lainnya. Selain pasien terkonfirmasi akan dirawat sesuai SOP, orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien pun akan diperiksa.

"Tentunya kita akan lacak semuanya. Kalau ada yang positif, siapa yang menerima pasien, siapa yang mengurus termasuk cleaning service dan seluruh petugas akan diperiksa dalam 14 hari. Termasuk orang serumah dan rekan kerja atau sekolahnya," ungkapnya.

Dia mengatakan, prosedur tersebut dilakukan bekerjasama dengan fasilitas kesehatan di daerah hingga pusat. Prosedur surveillance (pengawasan) telah disiagakan.

"Dari dinas kesehatan setempat hingga pusat sudah ada formula surveillance yang disiapkan, termasuk kepada petugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan," jelasnya.

AYO BACA : RSHS Bagikan Tips Cegah Penularan Virus Corona

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar