Keterlibatan Muda dalam Politik

  Senin, 17 Februari 2020   Netizen Fanny S. Alam
[Ilustrasi] Pemuda berperan dalam perpolitikan bangsa. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- "Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia."

Seluruh masyarakat Indonesia pasti sudah mengenal kutipan terkenal di atas oleh proklamator kemerdekaan negara kita, Ir Soekarno. Betapa beliau ingin melibatkan generasi muda dalam proses kemerdekaan. Betapa mereka mendapat porsi penting dalam pembangunan ke depannya.

Mantan Sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-Moon, juga menggarisbawahi peran generasi muda dalam menciptakan dunia yang lebih baik dan aman, lalu penggalangan kekuatan mereka dalam pengambilan keputusan, program pembangunan serta kebijakan yang menguntungkan kelompok mereka, masyarakat secara umumnya, serta masa depan negara.

Presiden Joko Widodo menyadari pentingnya peran generasi muda yang selanjutnya disebut milenial dalam tatanan pembangunan Indonesia, sehingga merefleksikan pada sumpah pemuda tahun 1928 silam.

Beliau menekankan bahwa persatuan generasi muda dalam melihat negara di bingkai negara kesatuan republik Indonesia merupakan kunci pelaksanaan pembangunan negara dan keterlibatan krusial mereka, sehingga dalam tatanan praktisnya beliau mengangkat beberapa dari generasi milenial berprestasi sebagai bagian staf ahlinya.

Hal tersebut merupakan kunci penting keterlibatan dan pemberdayaan kelompok milenial muda untuk berkontribusi dalam pembangunan, baik dari level akar rumput hingga negara.

Keterlibatan muda untuk dapat berperan penting dalam pembangunan salah satunya dimulai dengan politik. Masih banyak generasi muda, terutama dari kelompok usia milenial,yang menunjukkan sifat antipati terhadap hal-hal yang berhubungan dengan politik.

Keengganan mereka dalam memilih pun jelas memberikan dampak krusial bagi masa depan perpolitikan di Indonesia sehingga jujur hal ini akan memberikan ekses terhadap keberlanjutan politik dalam hal pengambilan keputusan, penyusunan kebijakan politik bagi masyarakat.

Namun, kondisi ketidakpedulian generasi milenial terhadap politik pun bahkan diperlihatkan oleh salah satu negara terbesar dalam peran demokrasi, yaitu Amerika Serikat, karena mereka mengalami masa ketika hanya 10 persen dari kelompok usia 18 hingga 24 tahun yang memperlihatkan kecenderungan tidak memenuhi syarat keterlibatan penuh dalam pemungutan suara presiden 2012. Dilansir selanjutnya oleh Centre for information and research on civic learning and engagement (CIRCLE).

Selain itu, masih banyak orang tua yang menganggap pendidikan kewarganegaraan yang berkaitan dengan politik adalah tabu. Juga, iklim politik nasional turut serta mengalienasi anak-anak muda dalam kehidupan masyarakat publik secara politik. 

Kelompok Muda dalam Politik

Kehadiran kelompok muda dalam berpolitik di Indonesia tentu merupakan langkah positif untuk mengimbangi kekuatan politik yang selama ini dilaksanakan oleh para politisi berusia senior dengan segala pengalamannya.

Keberadaan kelompok muda ini diharapkan akan membawa dampak positif, terutama dalam dinamisnya pengambilan keputusan yang dinilai akan jauh lebih cepat dan energik. Hal ini dikemukakan oleh Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) ketika menganalisa daftar caleg sementara Pemilu Legislatif 2019 silam.

Kesimpulannya, menurut peneliti forum ini Lucius Karus, secara jumlah mayoritas calon legislatif adalah berusia 36-59 tahun dengan total 68% serta sekitar 21% berusia 21-35 tahun. Sisanya 11% adalah berusia 60 tahun ke atas.

Menjadi bagian legislatif pun pasti didasari oleh kepentingan masing-masing individu yang sudah mempersiapkan dirinya secara matang. Latar belakang mereka pun bermacam-macam, seperti ada yang sudah bekerja atau menjadi pengusaha, lalu memutuskan turun ke dunia politik.

Di sisi lain, ada juga mereka yang turun ke politik dan berharap akan terus melaju ke legislatif untuk meneruskan jejak keluarga yang sejak awal sudah berkecimpung dalam dunia politik.  Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Amalinda Savarini, dosen fakultas ilmu politik Universitas Gadjah Mada.

Dikutip dari wawancaranya bersama BBC, Amalinda menekankan adanya kehadiran politikus muda dalam setiap pemilihan anggota legislatif, namun sebagian mereka bersaing dalam dunia politik untuk mempertahankan pengaruh politik keluarga, atau bahkan yang hanya sekedar mengadu nasib. kampanye atau membeli suara, itu yang banyak berhasil, ujar dosen ilmu politik Universitas Gadjah Mada, Amalinda Savarani.

Kondisi yang mungkin berlawanan akan ditemukan di New Hamsphire, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, di mana seluruh anggota legislatifnya setingkat DPRD dibayar rendah untuk masa jabatan 2 tahun sejak tahun 1889.

Hal ini dikarenakan undang-undang untuk legislatifnya yang menuntut bahwa pekerjaan wakil rakyat adalah merupakan komitmen dedikasi dan kontribusional. Kondisi ini juga membuat mereka tidak berkantor di gedung perwakilan rakyat, tidak memiliki staf ahli atau staf khusus untuk membantu pekerjaan mereka.

Hal ini memperlihatkan kenyataan bahwa kebanyakan yang menduduki jabatan wakil rakyat adalah masyarakat dengan dana berlebih atau sudah pensiun. Namun, sejak dua tahun lalu kecenderungan ini agak berubah sejak bertambahnya jumlah kelompok muda bahkan milenial berpartisipasi menjadi bagian legislatif dengan memperhatikan realita pendapatan yang rendah.

Salah satunya adalah Joe Alexander, yang berasal dari partai Republik. Lulus kuliah, ia langsung menyatakan minatnya untuk menjadi bagian dari wakil rakyat dan didukung oleh partai Republik yang juga langsung memperlihatkan dukungannya dengan membantu proses kampanye hingga masa pemilihan datang.

Isu-isu yang dikemukan Joe sangat berkorelasi dengan situasi yang sangat mengakar kepada kepedulian dan kekhawatiran masyarakat akan regulasi mengenai kepemilikan senjata pribadi, transparansi anggaran, isu keluarga dan remaja, serta perubahan ikllim.

Rekan muda lainnya yang juga wakil rakyat, Cam Kenney juga memperlihatkan kekhawatiran mendalam terhadap situasi utang pinjaman kuliah yang semakin meningkat dan kerusakan lingkungan serta dampak negatifnya bagi masyarakat New Hamsphire, khususnya. Dengan penghasilan terbatas tersebut, Cam bahkan tidak ragu untuk bekerja paruh waktu di sebuah kafe dan sering bertemu dengan pelanggan sekaligus konstituen pemilihnya.

Tanggung Jawab Muda dalam Politik

Situasi politik di Indonesia dengan polarisasi isu yang luar biasa, mulai dari isu agama, suku, ras, etnis, sosial budaya, dan ekonomi, sebenarnya menjadi tantangan berat bagi teman-teman muda yang mendedikasikan dirinya dalam dunia politik, terutama jika bersinggungan dengan posisi mereka sebagai wakil rakyat.

Jumlah keterwakilan mereka yang meningkat dalam partai politik serta keberhasilannya melenggang ke legislatif sebenarnya merupakan pertanda bahwa kelompok muda akan memegang peranan lebih signifikan dalam politik. Riset Tirto.id memperlihatkan 878 caleg muda berusia di bawah 30 tahun, atau meningkat lebih dari 100 persen dari Pileg 2014. Caleg termuda berusia 21 tahun. Jumlah caleg muda ini sekitar 11 persen dari total 7.968 caleg. Ratusan caleg muda itu tersebar pada semua partai.

Namun, dengan situasi seperti di atas bagaimana kah mereka memperjuangkan isu-isu yang rentan dialami oleh masyarakat, seperti pemerataan ekonomi, Pendidikan, hingga pemerataan pembangunan yang masih berjalan di tempat?

Bagaimanakah mereka juga berperan sebagai perekat identitas bangsa yang perlahan semakin tidak pasti karena guncangan proses radikalisme yang akhirnya mengancam perpecahan di dalam ranah masyarakat sendiri.

Kelompok muda dalam berpolitik akhirnya harus mampu memperlihatkan tanggung jawab bahwa mereka akan menjadi bagian solusi dari permasalahan bangsa. Mereka harus memperlihatkan bahwa dipilihnya mereka bukan hanya penyambung tali dinasti politik keluarga semata atau bangga akan muda terpilih dalam politik.

Masyarakat menantikan kerja dinamis kelompok muda dalam kontribusinya mempercepat pengambilan keputusan dalam kebijakan-kebijakan yang diperlukan oleh masyarakat serta turun ke akar rumput untuk melihat situasi yang dialaminya. Jumlah partisipasi politik muda dalam memilih memperlihatkan bahwa suara mereka sangat penting untuk diwakili oleh para politisi muda sehingga mereka tidak terkesan menyia-nyiakan suara mereka, serta bagaimana pada akhirnya kelompok muda ini yang akan menjadi salah satu garda terdepan untuk kembali menata negara dan daerah melalui kerja-kerja politik mereka di Lembaga pemerintahan.

Fanny S Alam, Koordinator Bhinneka Nusantara Foundation Region Bandung, Koordinator Kota/Program Director Sekolah Damai Indonesia Bandung.

Netizen : Fanny S. Alam
Fanny S. Alam

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar