Investor West Java Investment Summit Berharap Dukungan Pemprov Jabar

  Jumat, 14 Februari 2020   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
FGD Potensi Investasi Energi Jawa Barat di Bandung, Jumat (14/2/2020). (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

ANDIR, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum lama ini menyepakati investasi 26 proyek strategis senilai Rp53,8 triliun. Investasi ini berasal baik dari luar maupun dalam negeri. 26 proyek investasi ini pun digadang-gadang bisa menyerap 30.000 tenaga kerja serta akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyampaikan, investasi ini masuk dari kunjungan kerja ke luar negeri selama hampir satu tahun bersama tim Pemerintah Provinsi Jabar. Dia menyebutkan, investasi yang masuk tidak hanya berasal dari sektor infrastruktur, industri tapi juga pariwisata.

"Ada tanda tangan MoU untuk project di Jabar, ada 26 project dengan nilai investasi sekitar Rp53,8 triliun," ujarnya di West Java Investment Summit, Bandung, Jumat (18/10/2020).

Sementara itu dalam realisasinya, investasi ini bakal diprogramkan di sektor industri manufaktur, energi pariwisata, dan pangan. Pasalnya, di tengah ekonomi global. perekonomian di Jabar tidak hanya terbangun melalui sektor manufaktur saja.

Dari sisi investor, Ketua Kompartemen Industri Gas Bumi dan Perminyakan Bidang 3 BPP HIPMI sekaligus CEO Aico Energi, Ainun Rochani menyampaikan, investasi yang terjalin antara Pemprov Jawa Barat dengan PT AICO Energi senilai Rp709,4 miliar dalam penyediaan dan distribusi liquefied natural gas (LNG).

Sekadar informasi, Aico Energi merupakan perusahaan energi di Indonesia yang bergerak di sektor gas. Perusahaan ini bekerja sama dengan pemerintah di seluruh Indonesia untuk pengayaan ketahanan energi.

Ainun mengatakan, sedianya target investasi terdiri dari tiga hal, yakni regulasi, birokrasi, dan eksekusi. Dia pun mengaku regulasi dan birokrasi di Jawa Barat telah mendukung untum terjalinnya investasi untuk pembangunan daerah. Hanya saja, yang kerap menjadi persoalan adalah proses eksekusi di lapangan.

AYO BACA : West Java Investment Summit Hasilkan Perjanjian Senilai Rp53,8 Triliun

"Di Jawa Barat regulasi ini sudah mantap banget nih. Kedua, dukungan birokrasi. Investasi ini sudah didukung sama pemerintah sama gubernur, birokrasinya juga bagus, tinggal nomor tiga, eksekusinya di lapangan. Kami dari HIPMI, khususnya Aico bawa uang 500 Juta Dolar AS ke Jawa Barat untuk investasi di semua energi. Tinggal Pemprov Jabar mau kerja sama dimana? Agar eksekusinya bisa cepet. Kita sudah tanda tangan (MoU) waktu West Java Investment Summit, Rp700 miliar kita komitmen, tapi sampai sekarang belum eksekusi," kata Ainun usai forum diskusi di Bandung, Jumat (14/2/2020).

Kendati demikian, Ainun menyadari birokrasi dan proses administratif kerap menjadi penyebab molornya eksekusi investasi di Jawa Barat. Karenanya, dalam hal ini, dia bersama HIPMI mencari solusi dengan forum diskusi yang lebih mengerucut terkait potensi energi di Jawa Barat. 

Terlebih Ainun menyadari, Jaw Barat memiliki potensi yang besar dalam investasi di sektor energi. Pasalnya, Jawa Barat menjadi provinsi yang memiliki penduduk menginjak angka sekitar 50 juta orang atau 20% dari penduduk Indonesia.

"Dengan penduduk 50 juta energinya sangat butuh banyak sekali. Dan memang duit ada, market ada, terus kendala di gas itu di alokasi gas yang didapat Pmprov Jabar itu harus persetujuan pusat lagi, itu salah satunya yang memghambat. Kalau Pemprov Jabarnya mah hari ini ada gas, kita bangun, langsung ground breaking tapi administrasi harus diselesaikan sama Pemprov Jabar," katanya.

Sementara itu, Ainun mengatakan dari total investasi 500 juta dolar AS, pihaknya menawarkan kepada Pemprov Jabar untuk pembangunan di sektor energi, mulai dari gas, waste energy atau sampai menjadi gas, hingga penyediaan dan distribusi liquefied natural gas (LNG).

"Ada 10 sampai 11 potensi yang ditawarkan di bidang energi. Karena kita selain investor, kita juga penyedia jasa dan transfer energi. Kita juga mengerjakan supaya lapangan kerja tercipta. Adapun yang udah kita tanda tangani inveatasi liquefied natural gas (LNG) itu Rp700 miliar. Masih terbuka banyak, tinggal secepat apa PR eksekusi lagi," katanya.

Di sisi lain, Ainun mengatakan liquefied natural gas (LNG) amat potensial untuk penyediaan enegi di Jawa Barat. Sebab LNG diklaim murah dan bersih jika dibandingkan dengan impor elpiji.

"Ketika ada elpiji kan 70% impor jadi mengganggu neraca perdagangan Indonesia. Kita usahakan ganti pakai LNG ini, apalagi LNG ini bisa dari Jawa Barat jadi impornya hilang, LNG murah, dinikmati sama industri sama masyarakat. Karenanya kalau bisa tahun ini target kerja sama bisa dimulai, karena di West Java Summit itu kan tahun kemarin. Harusnya estimasi udah mulai jalan kuartal ketiga," ujarnya.

AYO BACA : Jabar Tawarkan Proyek Strategis pada 300 Investor Asing

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar