Nasib Indonesia dari Waktu ke Waktu

  Kamis, 13 Februari 2020   Netizen Sjarifuddin
Ilustrasi.

AYOBANDUNG.COM -- Bagi negara-negara lain, Indonesia sejak dahulu sangat bernilai. Orang-orang Portugis dan Spanyol datang dengan mengusung prinsip Gold, Glory dan Gospel. Orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya konon, datang hanya buat berdagang rempah-rempah sampai jualan es krim. Belakangan, orang Belanda mendominasi.

Korporasi-korporasi Belanda yang bergabung dalam Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau disingkat VOC) menguasai perdagangan cengkih, pala dan berbagai rempah. Bahkan beranjak kesektor perkebunan karena permintaan meninggi sebagai akibat Revolusi Industri.

Kongsi menjadi sangat kaya dan berkuasa. Diizinkan mempunyai pasukan sendiri, kewenangan politik dan ekonomi. Kabarnya, valuasi VOC saat itu sudah mencapai US$ 7,4 triliun.

Bagi Kerajaan Belanda, menjajah Indonesia merupakan kenangan manis. Banyak cara untuk mengenangnya. Di Den Haag, ibukota Belanda, ada Javastraat, Soendastraat, Celebesstraat, Borneostraat. Di musim panas, Mei-Juni, orang-orang Belanda menyelenggarakan Pasar Tongtong yang 99% berbau Indonesia.

Makanan asing yang populer adalah risjtaffel yang tak beda dengan nasi rames. Ada cerita, satu restoran Indonesia di Amsterdam sangat banyak pengunjungnya.

Suatu ketika terjadi kegelisahan sebab juru masak akan diusir kantor imigrasi. Keruan saja para pelanggan protes. Akhirnya koki memperoleh izin tinggal.  

Belanda makmur lahir batin berkat menjajah Indonesia. Usahanya untuk berkuasa kembali tak tercapai, namun ada peninggalannya di bidang hukum sampai sekarang. Sebagian kecil orang Indonesia juga masih bergaya ambtenaar.

Meski lama dijajah, kebenciaan orang Indonesia tak mendalam. Apa mungkin juga karena ada bekas Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau apa lantaran banyak lulusan Leiden dalam pemerintahan?

Berpindah Tangan

Setelah Belanda berlalu, negara-negara Barat dipimpin Amerikat Serikat dan Inggris datang dalam bentuk lain. Mereka haus dengan sumber daya alam mineral dan hayati, bahkan makin menjadi-jadi seiring dengan kebutuhan kemajuan teknologi. Emas, nikel, perak, minyak bumi dan sebagainya jadi sasaran.

Dua tahun lalu, Indonesia memproduksi hampir 200 ton emas. Nomor enam di dunia, setelah China (400), Australia (300-an), Russia (hampir 300 ton), AS (250 ton), dan Kanada, sedikit di atas produksi Indonesia. Tak ada satupun anggota Asean lainnya yang menghasilkan emas.

Mereka buat Indonesia sebagai lahan investasi dan pasar untuk produk-produknya. Secara ideologis dan geopolitis, Indonesia menjadi bagian strategi pembendungan pengaruh komunis.

Amerika Serikat cs melakukan penjajahan dalam bentuk lain yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Mengundang generasi muda di berbagai lembaga pendidikan. Mereka ini yang berperan dalam menegakkan sistem politik dan ekonomi ala Barat.

Penerapan sistem politik yang demokratis pada mulanya sempat ditentang karena pendapatan per kapita rakyat Indonesia masih rendah. Pilpres dan Pilkada menjadi lahan subur politik uang. Apakah dari sistem ini muncul pemimpin baru?

Kebijaksanaan ekonomi yang berorientasi pertumbuhan juga sempat ditentang karena mengakibatkan kesenjangan ekonomi. Mereka yang dekat dengan pusat-pusat kekuasaan lebih beruntung dalam menikmati kue pembangunan.

Sebenarnya, pembagian kue dapat dilakukan asalkan penerimaan pemerintah dari sektor perpajakan sesuai target. Sayang, penerimaan tersebut tak tercapai.

Pemerintahan Presiden Soeharto mencoba mengatasi dengan menghadirkan delapan jalur pemerataan. Tapi tak berkabar. Kini lewat BPJS, Dana Desa dan sebagainya.

Indonesia sejak periode Presiden Soeharto menerapkan strategi pembangunan yang mengandalkan kepada investasi dan pinjaman asing atau utang luar negeri. Idealnya porsi utang itu selayaknya mengecil.

Dewasa ini jumlah utang terus melambung, sedangkan jenis-jenis investasi banyak tergantung kepada bahan baku dan penolong yang diimpor. Jadi bila di Cina, Jepang atau Korea Selatan bermasalah, Indonesia ikut guncang.

Almarhum BJ Habibie berusaha memberi warna baru dengan mengirimkan ribuan pemuda menuntut ilmu ke luar negeri. Di dalam negeri, BJ Habibie juga membangun proyek-proyek bernilai tambah dan membanggakan. Upayanya kandas karena krisis moneter.

Di tengah kecemasan tentang meluasnya wabah virus Corona 2019-nCoV, kondisi ekonomi nasional dipertanyakan. Pencapaian target pertumbuhan ekonomi diragukan. Bagaimana caranya agar tidak selalu berguncang?

Bayangkan seekor kura-kura dengan tempurungnya. Setiap bagian dari tempurung itu adalah kutub-kutub ekonomi rakyat. Mereka saling terkait dan kokoh. Setiap pemerintah daerah/kabupaten/kota layak memikirkan.

Netizen : Sjarifuddin

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar