Percepatan Pencapaian Visi Pendidikan

  Kamis, 23 Januari 2020   Netizen Roni Tabroni
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berjanji menyederhanakan kurikulum, peraturan, memperbaiki sistem tunjangan, dan meningkatkan kualitas pendidik. (Antara)

AYOBANDUNG.COM -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim termasuk yang paling disorot publik pada periode kedua Joko Widodo. Kenapa tidak, orang yang sudah memberikan inovasi pada aspek kewirausahaan berbasis aplikasi ini kemudian harus memegang jabatan sangat strategis dan menentukan.

Menteri yang masih milenial ini kemudian menerobos pusat kekuasaan karena kepercayaan sang Presiden. Publik terkejut karena benar-benar tidak menyangka akan fakta itu sebelumnya. Mas Menteri benar-benar barada di dua sisi antara optimisme dan pesimisme. Setidaknya dua kutub ini yang terjadi pada publik ketika diumumkan pendiri Gojek menjadi Mendikbud.

Kelompok yang optimistis didasarkan pada track record Nadiem yang telah melakukan perubahan signifikan di negeri ini bahkan sudah merambah mancanegara. Menjadi pelaku start up, Nadiem menjadi kiblat anak muda dan sering diapresiasi berbagai kalangan termasuk petinggi negara. Kunci keberhasilannya adalah berpikir positif dan berani mendobrak kejumudan.

Aspek keberanian dalam melakukan perubahan dan menjauhkan diri dari cara berpikir lama, menjadi kunci dirinya sukses dan gemilang. Mengalahkan korporasi yang didirikan oleh perusahaan besar dan aset yang segudang, Nadiem mengingatkan bahwa kita kini berada di dunia yang baru.

AYO BACA : Janji Nadiem Makarim, Sederhanakan Kurikulum dan Sistem Tunjangan

Diharapkan, cara berpikir anak muda seperti inilah yang dapat diterapkan pada dunia pendidikan. Dengan permasalahan yang tidak sedikit, di tangan Mas Nadiem, publik percaya bahwa akan terjadi percepatan perubahan ke arah yang lebih baik.

Sedangkan pihak yang pesimistis memandang Mas Nadiem merupakan orang yang berorientasi pada dunia bisnis sehingga masuk ke birokrasi dan memimpin menteri yang mengurus pendidikan dianggap tidak cocok. Sehingga dihawatirkan bahwa dunia pendidikan menjadi lebih berorientasi pada dunia praktis sehingga menanggalkan hal substansi dari pendidikan itu sendiri. Alasan lain bahwa memimpin dunia pendidikan berbeda dengan memimpin perusahaan (Gojek).

Tidak ada yang bisa memastikan, optimisme atau pesimisme yang akan terbukti. Perjalanan Mas Menteri belum lama berjalan. Masih panjang waktu yang harus ditempuh untuk membuktikannya. Yang jelas, sosok milenial seperti Mas Nadiem, tidak tertarik untuk berbicara hal-hal yang tidak produktif, bahkan mengulang-ulang pembicaraan tentang persoalan.

Milenial memiliki dua kelebihan, yaitu; pertama, mereka tidak terkontaminasi kaum tua yang cenderung jumud dan selalu berkelindan dengan persolan. Sebab itulah yang dianggap menjadi persoalan untuk melakukan inovasi.  Kedua, milenial memiliki visi jauh ke depan. Mereka tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi bagaimana membangun masa depannya, karena milenial masih punya harapan panjang.

AYO BACA : JPPI Sebut Nadiem Lamban Soal Dampak Banjir terhadap Pendidikan

Kondisi itu didukung oleh karakteristik dari kaum milenial yang tidak suka banyak berdiskusi, tetapi lebih langsung aksi (kerja). Sehingga anak muda kini lebih banyak berkarya, melakukan sesuatu, daripada banyak berbicang atau melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya formalistik. Pada aspek inilah sepertinya Joko Widodo suka dengan gaya milenial, apalagi mereka yang sudah memiliki prestadi dan karya nyata.

Dalam konteks ini pula saya menduga alasan mengapa Presiden mengeluarkan Perpres Nomor 72 tahun 2019 yang ditandatangani pada 16 Desember 2019. Seperti ketika menunjuk Nandiem Makarim menjadi Mendikbud, Perpres ini pun membuat kaget bayak pihak.

Bagaimana tidak, Perpres tersebut dianggap terlalu berani karena melakukan peleburan Dirjen PAUD-Dikmas dengan Dirjen Dikdasmen. Apalagi Dirjen kesenian dan kearsipan juga tidak memiliki posisi seperti sebelumnya.

Tetapi dengan karakter milenial yang selalu ingin mengeliminir jenjang birokrasi yang cukup panjang, Perpres tersebut menjadi sangat relevan. Kehawatiran publik atas Perpres ini memang ketika hilangnya beberapa Dirjen dari SOTK yang ada. Namun demikian, semua aspek yang menjadi garapan Mendikbud tetap dijalankan.

Perubahan SOTK yang biasanya berimbas pada aspek jabatan, bisa dipastikan akan menimbulkan keresahan. Tetapi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dengan pendidikan, Mas Menteri ini sepertinya bukan untuk menghilangkan aspek garapan, tetapi dalam rangka mempercepat kinerja kementrian. Dengan semakin cepatnya proses kerja, diharapkan dapat lebih cepat juga terjadinya perubahan di dunia pendidikan.

Jadi, persoalan Perpres akhirnya harus dibaca dalam kerangka percepatan pencapaian visi pendidikan, bukan untuk menghilangkan garapan yang sudah ada. Di tangan Mas Menteri yang milenial, mudah-mudahan percepatan perubahan pendidikan ini bisa tercapai.

*Roni Tabroni, Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung.

AYO BACA : Soal Kebijakan Nadiem Ubah Kuota PPDB 2020, Pengamat: Ini Kemunduran

Netizen : Roni Tabroni

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar