LiteraTour: Mendidik Hati dan Merengkuh Hikmah

  Senin, 20 Januari 2020   Netizen Rahmat Zuhair
Rahmat Zuhair. (Dok. Pribadi)

AYOBANDUNG.COM -- Menjadi mahasiswa adalah sebuah anugerah terbaik dalam perjalanan hidup saya. Menjadi mahasiswa berarti menjadi manusia intelektual yang haus akan perjalanan dan pengalaman hidup, idealnya seperti itu. Beberapa tulisan saya mengenai perjalanan pasti di dalamnya mengutip perkataan seorang intelekual muslim, Buya Hamka.

Jika dua tahun yang lalu saya telah melawat ke negeri Arab. Terutama suci Mekah dan Madinah untuk mencari sumber kekuatan jiwa, sudah sepatutnya saya melawat ke Amerika mencari sumber kekuatan akal. (Buya Hamka, 4 Bulan di Amerika 2)”.

Begitulah untaian dari Buya Hamka yang memberikan gairah untuk melakukan perjalanan. Oleh karena itu, ketika perjalanan mengunjungi masjid Al Azhar di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan terbersitlah sebuah istilah “LiteraTour” karena pada saat itu perjalanan saya ditemani oleh sebuah buku karya salah seorang anak Buya Hamka.

Beragam hikmah yang didapatkan dari perjalanan itu membuat semangat untuk berjalan dan berjalan terus menyusuri lembah lembah hikmah yang ada. Tetapi, makin berjalannya waktu dan banyaknya perjalanan yang dilakukan membuat diri ini sadar bahwa semua pengalaman dan hikmah yang didapat selama perjalanan adalah literatur yang dapat berguna untuk mengarungi kehidupan dan memecahkan permasalahan yang ada.

Bandung, Tempat Indah untuk Merengkuh Hikmah

Sebuah pelatihan dakwah di Masjid Salman ITB di tahun 2019 membuatku menginjakkan kaki di bumi parahyangan Bandung. Orang orang menyebutnya “Paris Van Java” karena kota ini indah seperti kota Paris di Perancis katanya, ternyata setelah berjalan mengelilingi Bandung dan melihat penataan kotanya ternyata rapi dan Indah.

AYO BACA : Kegagalan Literasi Didorong Kebiasaan 'Hanya Baca Judul'

Salah satu hikmah ketika melihat penataan Kota Bandung ialah membuat hati dan pikiran saya waktu itu untuk membuat kampung halaman bisa seperti itu dan optimisnya saya adalah tidak ada yang tidak mungkin ketika kita punya ilmu dan pengalaman. Maka dari kota ini saya mendapatkan hikmah terkait arah pembangunan sebuah wilayah dan sadar akan penciptaan investasi muslim di dalamnya sangat penting.

Sebuah kutipan dari dosen salah satu kampus terbaik di Bandung yang membuatku lebih bergairah dalam melakukan perjalanan ialah

Tujuan Allah Menciptakan tubuh kita dengan sendi sebanyak ini adalah agar kita tetap berjalan, karena istirahat sesungguhnya adalah di Surga.

Yogyakarta, Pentingnya Keramahan Demografi

Perjalanan 14 jam dengan Bus dari Bogor menuju Yogyakarta menjadi pengalaman yang menantang bagiku yang sebelumnya “Mabuk Perjalanan”. Tetapi Alhamdulillah dengan banyaknya pengalaman berjalan dengan bus membuat penyakit mabuk perjalananku mejauh entah kemana. Hikmahnya adalah dengan terbiasa maka goals yang ingin kita dapatkan dan juga tantangan tantangan yang kita hadapi dapat kita lewati. Di sinilah saya belajar terkait persisten.

Yogyakarta mengajarkan kepadaku bahwa keramahan adalah sebuah keunggulan yang harus menjadi keunggulan kompetitif bagi bangsa Indonesia, kita sudah mendapatkan titel sebagai negara yang ramah kepada pelancong maka keramahan ini harus kita inklusifkan diseluruh penjuru negeri. Semua permasalahan antara cebong kampret ataupun permasalahan yang ada di negeri ini diawali dengan ketidakramahan dalam menghadapi sebuah permasalahan sehingga membuat masyarakat Indonesia masih rentan untuk diadu domba, karena bagiku keramahan adalah sebuah senjata untuk memikat hati sesama manusia. Setelah dari Bandung dan Jogja aku membayangkan nantinya arah bangsa ini kedepannya penataannya disusun serapi dan seindah Bandung dan masyarakatnya seramah Yogyakarta.

AYO BACA : Kominfo dan WhatsApp Luncurkan Program Literasi Privasi dan Keamanan Digital

Malaysia dan Masyarakat yang patuh

Sebuah kesempatan yang menarik di Januari karena di tahun sebelumnya saya mengunjungi Malaysia dan belum begitu mempelajari apa yang terjadi di Malaysia karena dulu masih berkutat di dalam kampus yang dikunjungi saja dan juga belum mendapat banyak cerita terkait kehidupan di Malaysia. Di Bulan Januari 2020 saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Malaysia untuk kedua kalinya. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan salah satunya adalah masyarakatnya sangat patuh terhadap apa yang dikatakan oleh pemerintah/sultan. Saya pun berpikir mungkin karena mereka sistemnya monarki konstitusional. Maka dari itu tidak banyak terjadi protes secara terbuka layaknya demonstrasi di Indonesia.

Saya tidak ingin membahas apakah tidak ada keberlangsungan dialektika dan proses kritis dari masyarakatnya terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahnya. Saya berpikir bahwa kenapa mereka terlalu percaya dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintahnya? Apakah masyarakatnya apatis atau orang orang yang menjabat di pemerintahan adalah orang orang yang punya integritas tinggi?

Inilah yang harus kita ambil hikmahnya yaitu apapun sistem yang dipakai dalam sebuah negara, ketika adab/integritas tidak dikedepankan maka pembangunan negara dan masyarakat akan terhambat bahkan tidak bergerak ke arah yang diimpikan.

Perjalanan bagiku sangatlah penting karena mendidik hati dari ketidaknyamanan dalam perjalanan dan juga membuat hati lebih lapang untuk mencari dan menerima hikmah hikmah yang didapat.

Maka dari itu aku menyebut setiap hikmah dari perjalanan adalah literatur. Harapannya di setiap perjalanan kita, wajib merengkuh sekecil-kecilnya hikmah yang ada. Karena dengan banyak berjalan dan melihat hal hal baru akan menjadi investasi bagi anak anak bangsa dalam memberkan terobosan untuk memperbaiki wajah Indonesia kedepannya agar lebih baik dan bermartabat.

*Rahmat Zuhair, Mahasiswa IPB University dan Peserta Rumah Kepemimpinan.

AYO BACA : GOR Saparua Direnovasi, Apa Kabar Pojok Literasi?

Netizen : Rahmat Zuhair

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar