Menyongsong Pesta Demografi Indonesia 2020

  Senin, 20 Januari 2020   Netizen Dadang Darmansyah, S.Si
Logo Sensus Penduduk 2020

AYOBANDUNG.COM – Kegiatan besar di bidang demografi akan segera dilaksanakan di Tahun 2020.  Kegiatan itu adalah Sensus Penduduk 2020.

Sensus Penduduk ini merupakan agenda sepuluh tahunan yang bertujuan menyediakan data jumlah penduduk, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk Indonesia menuju satu data kependudukan Indonesia. 

Sensus Penduduk 2020 menggunakan dua cara. Cara pertama melalui Sensus Penduduk Online (SPO) yang akan dilaksanakan serentak mulai tanggal 15 Februari hingga 31 Maret 2020. Cara kedua melalui Sensus Penduduk Wawancara yang akan dilaksanakan pada bulan Juli 2020.

Sensus Penduduk  kali ini tidak hanya akan menjadi sejarah bagi Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai penyelenggara namun bagi Indonesia.

Tentu saja karena Sensus Penduduk Online merupakan kali pertama sejak Tahun 1961 setelah Indonesia merdeka. Sebelumnya Sensus Penduduk hanya dilakukan dengan cara konvensional melalui kunjungan langsung oleh petugas sensus ke rumah-rumah penduduk.

Sensus Penduduk Online Tahun 2020 menggunakan metoda kombinasi (combine method). Penggunaan data adminduk dari Ditjen Dukcapil menjadikan sensus kali ini menjadi berbeda. Ditambah dengan hasil pendataan lapangan pada sensus penduduk wawancara yang akan dilaksanakan pada bulan Juli di tahun yang sama.

Masyarakat diminta untuk “mensensus” dirinya sendiri dengan mengisi data diri secara mandiri di link: http://sensus.bps.go.id. Pendataan mandiri atau dikenal dengan “self enumeration” merupakan rekomendasi PBB dan sudah diterapkan di banyak negara maju.

Negara dengan tingkat kesejahteraan, pendidikan, teknologi serta “melek” statistik yang cukup tinggi memudahkan kegiatan sensus mandiri ini.

Kenapa Harus SPO

Sensus Penduduk Online atau dikenal dengan SPO memberikan pilihan cara baru bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam sensus penduduk. Tuntutan terhadap ketersediaan data kependudukan secara periodik dan real time hanya mampu terwujud jika pemutakhiran data penduduknya dilakukan secara mandiri oleh penduduk.

SPO juga menjadi bagian dari upaya untuk membangun suatu budaya baru di tengah masyarakat akan pentingnya data dimulai dari informasi pribadinya. Sekaligus memberikan edukasi pemanfaatan teknologi kepada masyarakat di era digital. Kelompok masyarakat yang tidak memiliki waktu luang untuk bertemu petugas sensus bisa menggunakan cara SPO ini.

Kelompok masyarakat ini umumnya berada di wilayah urban dan kelompok menengah ke atas yang cenderung memiliki keterbatasan waktu luang. Kelompok penduduk ini dipastikan memiliki literasi teknologi yang lebih baik sehingga lebih memungkinkan untuk berpartisipasi dalam SPO.

Tantangan SPO

Tantangan terbesar dalam kegiatan SPO ini diantaranya participant rate. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan SPO ini sangat menentukan keberhasilan. Sebagai sesuatu yang baru, dibutuhkan delivery informasi kepada masyarakat yang efektif melalui berbagai media sosialisasi.

Masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi juga terdorong untuk memberikan partisipasinya dalam SPO. Tantangan berikutnya adalah public trust dan usability. Kepercayaan publik terhadap keamanan data individu harus terjamin. Perangkat undang-undang terkait jaminan data individu harus dikuatkan. Masyarakat merasakan keamanan saat memberikan data individunya.

Perangkat yang digunakan dalam SPO ini juga harus bersifat Usability. Masyarakat dibuat mudah untuk mengisi data dan berpartisipasi dalam SPO ini. Juga harus memenuhi syarat realibility (keandalan), accessibility (kemudahan), availability (ketersediaan) dan security (keamanan).

Multimode Data Collection

Pendekatan berbagai moda proses pengumpulan data dilakukan pada sensus penduduk 2020. Moda yang digunakan ada yang bersifat digital assisted (CAWI dan CAPI) dan paper assisted (PAPI).  

Computer Aided Web Interviewing (CAWI) sebagai moda pendataan mandiri dan pendataan oleh petugas menggunakan Computer Assisted Personal Interview (CAPI) serta PAPI (Pencil and Paper Interview).  CAWI digunakan untuk mengakomodasi penduduk yang tidak bisa dilakukan pendataan secara langsung.

Dengan moda ini penduduk dapat mengisi sendiri data yang diperlukan ke dalam website. CAPI digunakan untuk mengurangi beban petugas membawa lembaran-lembaran kertas dokumen pendataan lapangan.

Sedangkan PAPI masih digunakan untuk daerah yang tidak dapat menggunakan aplikasi CAWI dan CAPI. Berbagai moda pengumpulan data ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai hal. Diantaranya orientasi anggaran, efektivitas sensus, kondisi geografis, literasi teknologi dan sikap atau gaya hidup masyarakat.

Dukungan dan Legimitasi SPO

Untuk menguatkan dukungan dan legitimasi SPO ini dibutuhkan awarness kolektif dari semua pihak. Mengingat kepentingan dari hasil SPO memberikan dampak luas, bersifat nasional dan lintas sektoral. Dukungan dari seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan.

Mulai dari pemerintah pusat melalui kementrian terkait, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, tingkat kecamatan dan desa/kelurahan hingga ketua SLS/Satuan Lingkungan Setempat.

Peran mereka dalam menyampaikan rangkaian kegiatan Sensus Penduduk 2020 dan mobilisasi serta himbauan partisipasi masyarakat dalam SPO sangat membantu keberhasilan.

Dibutuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat yang tinggi dalam memberikan data dan informasi kependudukan yang akurat. Data yang berkualitas menjadi pijakan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.

Semoga  pesta demografi Sensus Penduduk Tahun 2020 dapat berjalan sukses dan lancar menuju satu data kependudukan Indonesia.

Netizen : Dadang Darmansyah, S.Si

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar