Sudah Amankan Pangan Kita?

  Kamis, 16 Januari 2020   Netizen Djoko Subinarto
Ilustrasi pangan.(ayobandung.com)

AYOBANDUNG.COM – Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok umat manusia di mana pun. Ketersediaan bahan pangan bukan saja harus memadai, tetapi juga harus dibarengi dengan jaminan aspek keamanannya.

Artinya, bahan pangan yang akan kita konsumsi mesti benar-benar terjamin keamanannya sehingga tidak membahayakan kesehatan dan tidak membahayakan keselamatan diri kita.

Keamanan pangan menjadi aspek krusial yang harus selalu kita perhatikan. Beragam penyakit bisa menyebar lewat makanan. Ini bisa terjadi karena makanan itu memang dari awalnya sudah berbahaya, tapi, bisa juga karena makanan itu tercemar zat lain yang berbahaya.

Karenanya, penanganan yang seksama dari proses awal hingga akhir menjadi salah satu cara untuk menangkal ancaman bahaya yang bisa muncul dari bahan pangan yang akan kita konsumsi.

Sampai batas tertentu, bahan pangan yang akan kita konsumsi dapat terkontaminasi pada saat menjalani proses produksi, pendistribusian dan pada saat pengolahan sebelum akhirnya dihidangkan di atas meja makan.

Siapa pun yang terlibat dalam rantai produksi makanan, mulai dari produsen hingga konsumen perseorangan, sejatinya memiliki peran untuk ikut menjamin bahan pangan yang hendak dikonsumsi benar-benar aman dan tidak menimbulkan masalah bagi kesehatan dan bagi keselamatan.

Kajian yang dilakukan World Health Organization (WHO) menyimpulkan bahwa terdapat lebih dari 200 penyakit yang dapat disebarkan/ditularkan lewat makanan yang kita konsumsi. Kajian WHO juga menyebutkan bahwa 420 ribu orang meninggal tiap tahun akibat mengkonsumsi makanan-makanan yang telah terkontaminazi zat-zat berbahaya. Menurut WHO, dari jumlah tersebut, 125 ribu di antaranya yang meninggal itu adalah anak-anak.

Ditilik dari risiko keselamatan, anak-anak di bawah usia lima tahun merupakan kelompok yang paling berisiko terkena dampak dari makanan yang telah terkontaminasi. Selain anak-anak, kelompok yang paling berisiko adalah kaum usia lanjut.

Selain menimbulkan risiko kematian, makanan yang terkontaminasi bisa juga menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang. Contohnya adalah makanan-makanan yang tercemar zat metal berat, yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan penyakit kanker dan gangguan syaraf.

Bukan cuma berdampak kepada kesehatan, makanan yang tercemar juga berdampak kepada bidang lain, seperti sektor ekonomi dan bisnis. Kita mungkin masih ingat bagaimana virus flu burung yang mewabah beberapa tahun lalu sempat membuat anjlog bisnis penjualan daging ayam di negeri ini.

Ada banyak peluang bahan pangan untuk terkontaminasi zat-zat berbahaya. Dewasa ini, rantai pasokan makanan demikian kompleks. Sebagai ilustrasi, untuk menghasilkan sepiring nasi dan sepotong ikan yang siap kita santap dengan lahap di meja makan kita, membutuhkan beberapa tahapan dan penanganan yang berbeda-beda.

Tahapan dan penanganan itu mulai dari pembibitan, penanaman, penggemukan, pemanenan, pemprosesan, penyimpanan, pengangkutan, pendistribusian serta penjualan, sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen untuk diolah dan disajikan. Selama tahapan-tahapan tersebut, mungkin saja terjadi sesuatu yang menyebabkan bahan pangan itu rusak atau bahkan terkontaminasi.

Pada saat yang sama, era kesejagatan alias globalisasi membuat aspek keamanan pangan kita juga kian kompleks lantaran rantai produksi dan pendistribusian bahan pangan bisa semakin lama, yang menjadikan peluangnya semakin besar untuk terkontaminasi.

Masalah keamanan pangan bukan semata tanggung jawab orang per orang atau lembaga per lembaga, melainkan melibatkan banyak pihak di dalamnya serta lintas sektoral dan lintas profesi.

Dari segi disiplin ilmu, misalnya, jaminan keamanan pangan membutuhkan upaya bersama antardisiplin ilmu, mulai dari toksikologi, mikrobiologi, parasitologi, ilmu gizi, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu ekonomi, ilmu kedokteran hewan dan bahkan sosiologi serta antropologi.

Karena pangan adalah kebutuhan setiap orang, maka setiap orang sejatinya memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan bahan pangannya. Tanggungjawab yang lebih besar tentu saja ada di tangan pihak pemerintah, industri, produsen dan akademisi.

Dalam meningkatkan keselamatan pangan, upaya penyadaran perlu pula digalang di level bawah seperti kelompok-kelompok ibu rumah-tangga, anak-anak sekolah serta para pedagang makanan eceran. Dengan begitu, terbentuk pula kesadaran yang semakin kuat ihwal betapa pentingnya menjaga keamanan bahan pangan.

Netizen : Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar