Ke Banjarbaru Kalsel Berkah Novel Amora Magma (Catatan 1, Banjarbaru’s Rainy Day 2019)

  Senin, 09 Desember 2019   Netizen Eriyandi Budiman*
Novel Amora Magma karya Eriyandi Budiman yang terpiliah meraih penghargaan Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival 2019. (Eriyandi Budiman)

AYOBANDUNG.COM -- Sebuah poster dilayangkan penyair Acep Zamzam Noor ke akun WhatsApp saya. Isinya tawaran mengikuti seleksi Promising Writers. Perhelatan ini memberikan kesempatan kepada para penulis puisi dan prosa (cerpen, novel atau novelet), untuk menyertakan bukunya yang diterbitkan pada tahun 2018–2019. “Cobalah ikut, siapa tahu dapat terpilih,” tulisnya, memberi semangat. Saya mengiyakan. Kesempatan jarang sekali berkunjung dua kali. Lagi pula ini peristiwa langka.

Syukurlah, saya mempunyai stok buku yang baru diterbitkan oleh Penerbit Guneman, Bandung, sebuah novel berjudul Amora Magma. Sebelumnya, Amora Magma telah terbit sebagai cerita bersambung di HU Pikiran Rakyat pada tahun 2014. Setelah sedikit revisi dan editing, novel ini kemudian saya terbangkan ke Dinas Arsip dan Peprustakaan Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, alamat yang ditunjuk panitia untuk pengiriman karya.

Memang, setelah membuat Cerber untuk HU Pikiran Rakyat itu, saya kemudian dikontrak Program Perpuseru – CocaCola Foundation Indonesia (CCFI) hingga Agustus 2018. Sehingga, kegiatan menulis sastra terhenti. Kesibukan luar biasa dalam program literasi untuk membangkitkan perpustakaan di berbagai kota dan desa di Indonesia ini, banyak sekali menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Agak sulit memburu mood menulis di tengah dunia yang baru saya geluti di bidang literasi, khususnya dalam program membangun peningkatan kapasitas para pengelola perpustakaan. Meski hubungan dunia sastra dan literasi secara umum berdekatan, namun keduanya sangat berbeda dalam penerapannya. Menjadi fasilitator untuk mengembangkan perpustakaan lebih melelahkan daripada menjadi sastrawan. Meski tetap ada pekerjaan menulis, namun menulis laporan hingga mengurus adminsitrasi, sangat berbeda dengan menulis puisi maupun cerpen, dan novel.

Lalu, meskipun pada suatu sesi pertemuan fasilitator di Yogyakarta, saya bertemu dengan sastrawan Benny Arnas dari Lubuk Linggau, Sumatra Selatan, dan berbincang sekitar puisi dan cerpen, saya belum terpancing lagi menulis sastra. Pertemuan itu, kemudian disusul pula dengan perbincangan kami dengan sastrawan kelahiran Padang yang bermukim di Yogyarakta, Raudal Tanjung Banua, di rumahnya yang saat itu merangkap sebagai penerbitan. Berikutnya, menyusul obrolah lesehan di Malioboro bersama cerpenis Sun Lie Thomas Alexander, membicarakan nasib prosa Indonesia dan kehidupan sastrawan. Itu pun belum lagi membuat saya terpancing menulis karya sastra. Maklum di Bandung sendiri, kegiatan sastra tengah menurun pula. Sementara di Yogya justru banyak bermunculan penerbit yang fokus ke dunia sastra, termasuk di Banjarbaru, Kalsel.

Baru pada tahun 2018, setelah kontrak dengan Program Perpuseru usai, saya dapat menulis kembali beberapa cerpen dan esai. Sebuah cerpen saya Dokter Setengah Malaikat,  yang dikirim pada Desember 2018, kemudian menjadi juara pertama Anugerah Cerpen Basabasi.co, Yogyakarta. Perhelatan itu mempertemukan saya dengan beberapa sastrawan seperti Joni Ariadinata, Tia Setiadi, Reza Nufa, Toni Lesmana (yang juga mendapat anugerah Penyair Terbaik), Moh. Syarif Hidayat, dan beberapa sastrawan yang baru saya kenal belakangan. Hal itu membangkitkan kembali semangat saya untuk bersastra. Setelah itu, kegiatan bertambah dengan mengisi beberapa gelar wicara dan bengkel kerja puisi, cerpen, dan artikel, serta mengurus penerbitan novel.

AYO BACA : Membaca Puisi dan Menulis sebagai Penyembuhan (Catatan 2 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival)

Maka, ketika novel Amora Magma dan saya terpilih sebagai salah satu yang diundang ke acara Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019, saya bersujud syukur. Kehormatan itu tentu membuat saya terharu, lalu membagikan kebahagaiaan ini ke rekan-rekan di dunia literasi dan sastra. Bagaimana pun ini adalah bagian dari prestasi Jawa Barat. Dua penulis lain, yakni Baddarudin Amir, dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan,  juga terpilih bersama buku kumpulan cerpennya Risalah, dan Leenda Madya dari Semarang, Jawa Tengah, untuk buku kumpulan puisinya Liburan Penyair Ke Negeri Anggur.

Keterharuan dari Kertajati hingga Banjarbaru

Keberangkatan dari Bandung, tak lagi terbang dari Halim Perdana Kusumah, ternyata. Saya harus berangkat dahulu ke Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka. Ini ditempuh dengan mengendarai Bus Damri dari Kebon Kawung, Kota Bandung, selama dua setengah jam pada pukul 10.00, hingga tiba di bandara pada pukul 12.30.

oke-2-Rehat-menunggu-take-off-ke-Banjarbaru-sambil-menikmati-fasilitas-Perpustakaan-di-Bandara-Kertajati-Majalengka

Rehat menunggu take off ke Banjarbaru sambil menikmati fasilitas Perpustakaan di Bandara Kertajati, Majalengka. (Eriyandi Budiman)

Beruntung saya mempunyai rekanan yang menjaga Perpustakaan Prak Maca di Bandara Kertajati. Tempat itu merupakan salah satu program Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, menyertai program Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) di 14 kota lainnya di Jawa Barat. Mas Gatot, demikian panggilan akrabnya, menemani saya di tempat buku-buku bagus itu dapat dibaca gratis para pengunjung, sambil menunggu penerbangan pukul 16.40. Karyawan honorer di Disarpus Kabupaten Majalengka ini, dahulu adalah rekanan saya di Program Perpuseru, dan sering menemani begadang usai mengunjungi perpustakaan di desa-desa, juga perbincangan kecil dengan para seniman Kota Angin itu. Kota yang senimannnya makin bergerak.

AYO BACA : Wali kota Keren Berlanjut ke Puisi Mingguraya (Catatan 3 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Sore yang ramah.

Udara sedikit menyejuk, saat hujan turun dan menempias di kaca-kaca bandara. Pesawat singa bersayap akhirnya membawa saya terbang ke Kalimantan Selatan. Dan ini adalah penerbangan saya yang pertama ke Bumi Borneo.

Usai menumpang bis bersih dan berkelas menuju ke terminal kedatangan Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, saya disambut Dila, pendamping sebelum dan selama kegiatan. Dia meminta saya untuk berfoto bersama Nanang dan Galuh, atau Mojang dan Jajaka-nya Kota Banjarbaru, berjajar dengan ex banner Rainy Day. Seorang fotografer mengabadikan kami.  

Di dalam mobil plat merah yang menjemput peserta, Raudal Tanjung Banua, yang juga diundang lewat Call of Poem perhelatan ini, tersenyum menyambut juga. Dua penyair terpanggil lainnya, yakni Muhammad Subhan (Padangpanjang), dan Wayang Jengki Sunarta (Bali) masih melayang di antara awan Banjarmasin. Sepanjang perjalanan kami pun berbincang ringan. Hikmah pertemuan seperti ini, salah satunya adalah melepas kangen dengan para sastrawan Indonesia, yang makin mengisi makna mendalam sebuah pertemuan sastra.

Dari catatan web panitia, Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival merupakan Festival Sastra mandiri yang secara parsial didanai oleh Pemerintah Kota Banjarbaru, dan berbagai pihak yang mempunyai hasrat dan kepedulian serupa. Acara yang terhidang ialah Pembacaan Puisi, Pembacaan Cerita Pendek, Musik, Teater, dan Tari. Pada bagian yang lain, ada pula workshop penulisan puisi dan puisi terjemahan, seminar sastra, Pameran Arsip Sastra dan bazar buku, termasuk buku-buku yang diberi penghargaan. Suatu saat, saya berharap Pemkot Bandung atau pun Provinsi Jawa Barat, mampu melakukan festival sastra internasional seperti ini.

Perhelatan tahun 2019 adalah yang ketiga kalinya, setelah sukses digelar pada 2017 dan 2018. Memang terbilang baru dibanding beberapa festival sastra lainnya, namun tentu tetap menyedot banyak sastrawan Indonesia serta mancanegara, untuk mengikutinya.

Tentu, saya tak dapat mendustakan kenikmatan dan kebahagiaan ini. Kebahagiaan yang saya bagi dengan semua warga Jawa Barat, khususnya para sastrawan dan pegiat literasi. Tentu juga para redaktur sastra, serta penikmat sastra umumnya.

*Eriyandi Budiman (Eriyadi Budiman)  lahir di Tasikmalaya, (2/3/1966). Bebebarapa bukunya yang sudah terbit ialah Sederet Tangis dari Tigris (cerpen), Prasasti Kesedihan Izrail (cerpen), Sayap Sorga (puisi), dan  Amora Magma (cerbung/Novel). Menulis dalam  bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisannya dimuat di HU Kompas, HU Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Tribun Jabar, Jurnal Kalam, Majalah Sastra Horison, Majalah  Mangle, Web Jabaraca, Web Basa-basi, Cupumanik, dan Galura.

AYO BACA : Puisi dan Prosa di Media Massa untuk Masa Depan Teks Sastra (Catatan 4 Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019)

Netizen : Eriyandi Budiman*

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar