Kopi Kekes

  Rabu, 04 Desember 2019   Netizen Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.
Kekes, tupai kecil penggemar kopi. (Wikipedia)

Harusnya istilah kopi luwak diganti kata kopi kekes, kopi leles atau kopi careuh karena lebih dulu populer dan digunakan sejak lama, paling tidak sejak abad ke-19. Kebiasaan orang Sunda mengumpulkan dan memproses kopi yang pernah dimakan kekes (tupai atau bajing kecil) dan careuh (musang, luwak) memang telah berlangsung sejak dulu, karena terbukti muncul istilah khususnya: ngekes.

Bila tidak percaya, mari kita buka kamus Sunda-Inggris pertama susunan Jonathan Rigg (1862). Dalam buku bertajuk Dictionary of the Sunda Language of Java itu, kita bisa melacak lema keke dan ngekes. Kekes diartikan sebagai “a variety of small squirrel, Sciurus; found in the jungle. It resembles the buut but is smaller” (sejenis bajing kecil, Sciurus; ditemukan di hutan. Kekes mirip buut tetapi lebih kecil).

Sementara ngekes diberi arti “to gather up fruit which has fallen from the tree, especially coffee under the bushes. The idea is taken from the jungle squirrel Kékés, which feeds upon fruits” (mengumpulkan buah yang jatuh dari pohon, terutama kopi di bawah semak-semak. Gagasannya berasal dari bajing hutan kekes, yang memakan buah-buahan”).

Kemudian kata chareuh diartikan sebagai “the Viverra Musanga of Horsfield. Called in Malay Luwak, a wild animal which is fond of stealing poultry like the fox in Europe. It also feeds upon ripe Coffee, the pulp of which alone is digested, and the beans are voided clean. These are collected in the gardens, as they are of the ripest and finest description, and are called Tai Luwak or Tai Chareuh, Chareuh voidings” (Viverra Musanga Horsfield. Dalam bahasa Melayu disebut luwak, adalah hewan liar yang suka mencuri unggas seperti rubah di Eropa. Careuh juga memakan kopi yang masak, daging buahnya saja yang dicerna, sementara bijinya diberakkan lagi. Biji kopi careuh terkumpul di kebun, sebagai kopi yang paling masak dan bagus, dan disebut tai luwak atau tai careuh, berak luwak).

Kata-kata careuh, kekes, dan ngekes terus masuk kamus-kamus Sunda lainnya. Hal ini misalnya dapat dilihat dari Soendaneesch-Hollandsche Woordenboek (1875) susunan A. Geerdink. Kecuali lema careuh dan kekes yang diberi arti harfiah dengan ringkas dan tidak dikaitkan dengan kopi, lema ngekes diberi arti yang berkaitan dengan kopi dan agak panjang. Geerdink menulis, “Ngekes, fruit of vruchten van onder de boomen opzamelen, afgevallen koffie oplezen, even als een kekes doen” (ngekes, mengumpulkan buah-buah pepohonan, terutama buah kopi yang jatuh, seperti seekor kekes).

Istilah kopi kekes baru saya temukan dalam kamus Sunda susunan S. Coolsma, Soendaneesch-Hollandsche Woordenboek (1884). Pada lema kekes, selain memberikan pengertiannya sebagai “naam van een eekhoorn, grooter dan de badjing” (nama tupai, yang lebih besar dari bajing), Coolsma juga menyertakan istilah ramo kekes (jenis rerumputan) dan kopi kekes yang diberinya arti sebagai “rjpe, op den grond gevallen koffie ” (kopi masak yang jatuh ke tanah ).

Alhasil, kedua hewan baik careuh maupun kekes memainkan peran sangat penting bagi budidaya kopi. Meskipun, bila kita lihat dari sisi budaya Sunda, careuh lebih terkenal dibandingkan kekes. Seakan-akan careuh beroleh tempat istimewa dalam khazanah kebudayaan Sunda. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kekayaan mitos pembibitan aren dan kopi, khazanah ungkapan, toponimi, nama tumbuhan, dan lain-lain.

Foto-02

Careuh bulan sebagaimana yang saya lihat di Desa Pulosari, Pangalengan, pada awal 2012. (Sumber: Atep Kurnia)

Menurut Ensiklopedi Sunda (2000), secara umum, careuh disebut sebagai, “Sejenis binatang liar yang sering mendatangi kampung, terutama di malam hari dengan tujuan memangsa ayam. Ada pula semacam musang yang memakan buah kopi dan buah aren, langsung ditelan hingga bijinya tidak hancur. Ketika keluar kembali sebagai kotoran, biji kopi atau aren tersebut masih tetap utuh. Binatang itu adalah luak yang dalam bahasa Sunda disebut careuh bulan. Biji aren yang keluar sebagai kotoran luak, akan tumbuh sebagai tanaman baru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membiakkan tanaman aren sebagai budidaya; tumbuhnya tanaman baru masih tergantung kepada musang. Careuh bulan, warna mukanya putih seperti bulan. Sehingga muncul ungkapan jiga careuh bulan untuk menyindir perempuan yang berbedak terlalu tebal. Sebutan careuh sering juga dipinjam sebagai julukan untuk menunjuk orang yang perilakunya agak jahat, termasuk terhadap wanita”.

Dari kutipan buku suntingan Ajip Rosidi ini dapat disimpulkan bahwa careuh adalah hewan yang hidup di malam hari (nokturnal) dan pemakan segala (omnivora), yakni baik sesama hewan maupun tumbuhan. Dalam kutipan itu juga terpatri keyakinan di antara urang Sunda bahwa hingga kini baik aren maupun kopi yang paling baik sebelumnya dimakan careuh, terutama oleh careuh bulan, karena mukanya putih seperti bulan.

Keyakinan mengenai pembibitan oleh careuh terekam dalam naskah-naskah Sunda yang membicarakan budidaya aren, sebagaimana dibahas Iskandarwassid dalam Prosiding Seminar Naskah Kuna Nusantara: ‘Pangan dalam Naskah Kuna Nusantara’ (2013). Di situ, Iskandarwassid menyebutkan bahwa “pada ketiga naskah (naskah B, C, D) hampir tidak terdapat uraian tentang cara pembibitan pohon enau. Hanya terdapat keterangan pendek yang menyebut benih (petetan) pohon enau berasal dari kotoran musang (careuh).”

Ketiga naskah tersebut berisi Babad Kawung, yang membahas mengenai sejarah atau asal-usul pohon aren. Sebenarnya ada empat naskah. Naskah A ditulis di Distrik Lebak (Banten), naskah B dari daerah Baduy (Banten), naskah C dari Kawali (Ciamis), dan naskah D dari Distrik Cimahi (Sukabumi). Naskah tersebut ditulis pada abad ke-19.

Foto-03

Kopi careuh di dalam kandang. (Sumber: Atep Kurnia)

Naskah dari Ciamis, khususnya, tampak mendapatkan konfirmasinya dari pernyataan wartawan senior dan pengarang Sunda Sjarif Amin, dalam memoarnya, Lembur Kuring (1982). Katanya, “Careuh nu puguh mah, nu sok ngaliarkeun kawung teh. Malah nu alus mah ‘pelak’ careuh kawung teh, da careuh bisa milihna, milih binih caruluk nu pangasakna. Atuh dina sikina oge kwalitet prima dina harti binih teh. Cara pangalusna kopi nu disebut ‘kopi careuh’, ongkoh urut ‘ngamomoyan’ careuh! Ana jadi petetan, kongkoak, pangalusna deui bae jadina tangkal teh” (Yang jelas careuh sering menyebarkan benih aren. Bahkan termasuk yang paling bagus, karena hewan ini memilih buah aren yang paling masak. Biji untuk benih termasuk berkualitas prima. Seperti kopi terbaik adalah ‘kopi careuh’, karena sudah disesap dulu oleh careuh! Saat menjadi benih, kongkoak, pohonnya pun akan tumbuh sangat baik). Ini menegaskan adanya istilah kopi careuh serta meyakinkan peran penting careuh dalam budidaya kopi.

Selain kepercayaan tersebut, ada lagi keyakinan lain yang hidup di kalangan orang Sunda. Careuh dianggap hewan kuat bila terjatuh atau ada yang memukul, sehingga muncul ungkapan “aya careuh, aya careuh” yang diulang-ulang orang kala ada yang terjatuh dari ketinggian, seperti dari pohon atau bangunan. Mengenai hal ini, R.A. Danadibrata menuliskannya dalam Kamus Basa Sunda (2006). Katanya, “lamun aya jelema ragrag tina tangkal at. budak ragrag tina bangku, papangge, bari diburu rek ditulungan teh kudu ngagorowok ‘aya careuh aya aya careuh’ sababaraha kali supaya nu ragragna henteu nyeri jeung teu sakara-kara” (Bila ada orang yang jatuh dari pohon atau anak-anak yang jatuh dari bangku, papangge, sembari diburu untuk diberi pertolongan, orang yang bersangkutan harus berseru-seru ‘ada careuh, ada careuh’ beberapa kali, agar yang terjatuh tidak merasa nyeri dan tidak apa-apa).

Lebih lanjut, Danadibrata menyatakan bahwa “nu matak nyebut aya careuh aya careuh at. careuh, careuh, sabab careuh kaasup sato kuat lamun diteunggeul tara terus ngagolepak paeh at. nambru, tapi sok bisa keneh lumpat” (Di balik munculnya ungkapan aya careuh aya careuh atau careuh, careuh, karena careuh termasuk hewan yang kuat bila dipukul dan tidak terus jatuh dan mati atau menggeletak, tetapi sering masih bisa kabur).

Adapun khazanah ungkapan, selain dari kawas careuh bulan (perempuan yang berbedak terlalu tebal), dikenal pula ungkapan “moro careuh meunang mencek” (mendapat durian runtuh), “anak careuh disileungleuman ku hayam” (memelihara petaka), “careuheun” (bayi yang sepanjang malam terus melek dan siang tidur, seperti kelakuan careuh), dan lain-lain. Sementara tumbuhan yang menggunakan kata careuh adalah bangsa jejamuan careuhan atau létah hayam. Ada juga ki careuh yang bernama lain handeong; pohon ki careuh (Marlea begonifolia Roxb.) yang bernama lain ki surili. Sementara toponimi yang menggunakan kata careuh, antara lain, Kampung Geuleuh Careuh, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten; Sungai Cicareuh, Sukabumi; Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Sukabumi; dan Kampung Pasir Careuh, Desa Neglasari, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Demikian terkenalnya careuh dalam budaya Sunda, sehingga mengalahkan popularitas kekes. Padahal menurut D.K. Ardiwinata dalam novel Sunda pertama, Baruang ka nu Ngarora (1914), baik kopi yang lebih dulu dimakan careuh maupun kekes disebut kopi kekes dan memunguti kopi kekes disebut ngekes bukannya nyareuh. Ini pun dikonfirmasi oleh K.W. van Gorkom, D. Ples, dan K.F. Holle dalam buku Handleiding voor de Gouvernements-Koffiekultuur (1873) susunan dan R.A. Danadibrata (Kamus Basa Sunda, 2006).

K.W. van Gorkom dan kawan-kawan menyebut-nyebut demikian, “Belooft de oogst zeer groot te zullen zijn, dan moet zoo vroeg mogelijk met het plukken worden begonnen, daar anders vele overrijpe vruchten afvallen, die, lang op den vochtigen grond verblijvende, een minder goed produkt opleveren en soms geheel ontkiemen (kopi kekes of kopi leles). Men plukke alleen volkomen rijpe vruchten en wel één voor één” (Bila panennya akan sangat besar, maka pemanenannya sedapat mungkin harus dilakukan lebih awal, karena bila tidak buah-buah yang terlalu masak akan jatuh, yang bila jatuhnya ke tanah basah untuk waktu yang lama akan menghasilkan produk yang kurang bagus dan kadang-kadang berkecambah (kopi kekes atau kopi leles)”.

Senada dengan Gorkom, dkk., Danadibrata menyebutkan kopi kekes adalah “buah kopi nu geus asak pisan balatak di handapeun tangkalna urut ngahakanan careuh at nu geus jadi tai golondongan keneh” (buah kopi yang sudah masak sekali tersebar di bawah pohonnya bekas dimakan careuh atau sudah menjadi berak yang masih berbentuk gelondongan).

Hal ini bisa dilihat pada adegan Nyi Piah atau Rapiah dibawa suaminya mengembara ke kampung untuk berbisnis kopi. Ia menyaksikan kuli yang membawa kopi dari kotoran careuh dan kekes yang tidak diserahkan kepada pemilik kebun kopi. Berikut ini gambaran dialog antara Nyi Piah dengan buruh pemetik kopi:

“Aja hiji nini-nini, dina gembolanana aja kopi beunang ngekes. Katendjo ku Nji Piah.

“Kopi naon eta, nini?”

“Beunang ngekes, djuragan.”

“Kumaha ari ngekes, teh?”

“Beunang mulung, tai kekes djeung tai tjareuh.”

“Naha henteu dikana-telebugkeun?”

“Tara, Juragan, ari beunang mulung mah keur nu mulung bae, geus lumbrahna kitu”.

Intinya, seorang nenek tua yang bekerja memetik kopi membawa kopi kekes dalam buntelannya dan tidak disetorkan ke pemilik kebun, karena hasil mengumpulkan dari kotoran kekes dan careuh dan memang biasanya tidak disetorkan ke pemilik kebun kopi. Hal ini saya kira menandakan bahwa orang Sunda sudah sejak lama memanfaatkan kopi kekes atau kopi careuh baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual lagi, setelah dibersihkan dan diproses lebih lanjut.

Dari uraian di atas, sebenarnya dapat dikatakan bahwa istilah kata kopi kekes, kopi leles atau kopi careuh sebenarnya lebih tua dibandingkan dengan istilah kopi luwak yang dalam penelusuran saya baru ramai jadi perbincangan pada awal tahun 2000-an. Kata kopi luwak baru menjadi tren setelah “The Oprah Winfrey Show” pada acaranya tanggal 15 Oktober 2003. Pada acara tersebut, ahli kopi California (Amerika Serikat) dan wakil perusahaan importir kopi luwak Tom Kilty sebagai narasumber. Tom menerangkan ihwal keunggulan kopi dari kotoran careuh tersebut.

Popularitas istilah kopi luwak kian menanjak saat dijadikan bahan obrolan dalam film The Bucket List (2007) yang disutradarai serta diproduksi Rob Reiner dan dibintangi oleh Jack Nicholson and Morgan Freeman. Film ini berkisah tentang dua orang yang sakit melakukan perjalanan dengan dilengkapi oleh daftar ihwal yang akan mereka lakukan sebelum meninggal. Di dalam naskah film yang ditulis Justin Zackham itu, antara lain, terbaca ucapan tokoh Edward Cole yang diperankan oleh Jack Nicholson: “Kopi Luwak. It’s the rarest beverage in the world. At a thousand bucks a pound it better be” (Kopi Luwak. Kopi ini merupakan minuman paling langka di dunia. Harganya bisa mencapai lebih dari seribu dollar satu ponnya).

Demam kata kopi luwak kian menjadi-jadi setelah Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiahkan kopi luwak kepada Perdana Menteri Australia Kevin Rudd pada 10 Maret 2010 di Canberra, Australia. Pada kunjungan tiga hari SBY di Negeri Kanguru tersebut, Kevin sebaliknya memberi bingkisan berupa gitar akustik Maton kepada presiden kita, lengkap dengan inisial SBY. Karena sang perdana menteri tahu, SBY menulis lagu dan merilis album ketiganya, Kuyakin sampai di sana. Namun, pemberian kopi luwak tersebut menjadi kontroversi, karena kopi yang dibawa SBY belum mendapatkan izin masuk dari Australian Quarantine and Inspection Service (AQIS).

Demam ini pula yang saksikan, saat saya mengikuti Kuliah Kerjanyata Mahasiswa (KKM), di Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, pada awal 2012. Saat itu, ada sebagian penduduk yang memelihara careuh bulan untuk memproduksi kopi kekes, yang tetap disebut sebagai kopi luwak. Careuh-careuh itu dibuatkan kandang dan diberi pakan kopi masak pilihan, agar kotorannya bisa dibuat kopi kekes.

Penulis: Atep Kurnia merupakan peneliti literasi Pusat Studi Sunda. Salah satu karyanya yakni buku 'Googling Gutenberg'. Di samping itu, berbagai tulisan seperti cerpen, puisi, serta feature banyak di media nasional seperti Pikiran Rakyat, Mangle, Kompas.com, dan lainnya.

Netizen : Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar