Sungai Cidadap, Habitat Tropical Salmon dan Persinggahan Bujangga Manik

  Selasa, 03 Desember 2019   Tri Junari
Sungai Cidadap di Kabupaten Bandung Barat. (Ayobandung.com/Ist)

GUNUNGHALU, AYOBANDUNG.COM -- Sungai Cidadap yang berhulu di Gunung Tambaga Ruyung adalah sebuah sungai yang memiliki panjang kurang lebih 30 km. Sungai ini melintasi 3 kecamatan yakni Sindangkerta, Gununghalu dan Rongga, di Kabupaten Bandung Barat.

Cidadap juga mengalir melalui delapan desa yakni Desa Mekarwangi, Gununghalu, Sirnajaya, Bunijaya, Sindangjaya, Cicadas, Cibedug dan Bojong. Sungai Cidadap diketahui menyimpan berbagai potensi alam, budaya, serta sejarah.

Namun, sungai ini sekarang sedang dalam kondisi tak baik. Hal tersebut diungkap oleh aktivis lingkungan setempat.

"Sudah kurang lebih 18 tahun, kami memantau kondisi sungai ini dan sudah 5 tahun terakhir kondisinya cukup menghawatirkan," ucap seorang aktivis lingkungan yang juga menjabat Ketua Trapawana Jawa Barat (Jabar), David Riksa Buana, kepada Ayobandung.com, Senin (2/12/2019).

Menurutnya, kondisi Sungai Cidadap mulai rusak setelah adanya pencemaran dari limbah rumah tangga, tinja, industri pengolahan aci kawung, dan pestisida pertanian. 

Sedimentasi sungai yang diakibatkan pengolahan lahan pertanian dan perambahan lahan kehutanan juga cukup masif terjadi lima tahun terakhir.

"Kemudian juga penyempitan bantaran sungai diakibatkan pembangunan rumah masyarakat di sepanjang aliran sungai menambah kondisinya semakin mengkhawatirkan," ungkap David.

Dia memaparkan, Sungai Cidadap merupakan habitat salah satu ikan langka yang sudah hampir punah di Jabar yaitu Ikan Soro yang juga disebut ikan Kancra, Tor soro, atau Tropical Salmon.

"Tetapi jumlah Tropical Salmon semakin berkurang disebabkan pestisida pertanian dan perburuan liar memakai racun dan listrik," katanya.

IMG-20191202-WA0078

Ikan tropical salmon di Sungai Cidadap. (Ayobandung.com/Ist)

Dari sisi budaya, di tepian Sungai Cidadap ada salah satu bukit yang di dalamnya terdapat Situs Megalithic yang dipercayai sebagai maqom atau patilasan tempat persinggahan pengelana abad ke 15-16 yang di kenal sebagai Bujangga Manik.

Menurut ilmu geomorfologi, kata David, Sungai Cidadap merupakan jenis sungai pegunungan yang mempunyai karakteristik dasar sungai berbatu dan beraliran deras, dengan begitu ada potensi pariwisata alam yang dapat dikembangkan, berupa kegiatan olahraga arus deras seperti rafting, canoing dan tubbing.

Pada bagian hulu, aliran Sungai Cidadap cenderung tenang dan berkelok kelok menyusuri lembah dengan tepian hutan, sawah, dan pedesaan. Sesekali jeram memotong dan membentuk keindahan. Terkadang di beberapa tempat, sungai membentuk ceruk yang cukup dalam.

Menelusuri aliran Sungai Cidadap ke bagian hilir merupakan sesuatu yang sangat menantang. Hal yang menakjubkan dan misterius akan kita jumpai di sini, salah satunya ada tujuh air terjun menghadang.

"Tujuh air terjun tersebut adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Sumpel, Curug Ngebul, Curug Palisir dan Curug Muara," terang David.

Berdasarkan beberapa informasi dari masyarakat tentang keberadaan beberapa nama tempat seperti Gunung Kabuyutan, Datar Arca, Gunung Sirah, Datar Marela dan beberapa artefak berupa Arca, lanjut David, maka keberadaan Sungai Cidadap ini sangat penting untuk terus di jaga kelestarianya.

"Karena dimungkinkan adanya kolerasi dengan tapal batas atau daerah kekuasaan Kerajaan Muara Beres yang berpusat di Rawa Kalong pada tepian Sungai Cisokan yang merupakan muara dari Sungai Cidadap," ungkapnya.

David berpesan, sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk tetap menjaga kelestarian Sungai Cidadap yang merupakan urat nadi ekosistem dan sebagai bentuk daya dukung alam yang dapat di pergunakan sebaik-baiknya.

"Sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi manusia yang mampu berdampingan, selaras dan berkesinambungan, secara sosial, ekonomi, budaya dan segala mahluk yang hidup dan tergantung padanya," tutup David.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar