Meski Tak Bisa Disembuhkan, AIDS Tetap Bisa Dikendalikan

  Selasa, 03 Desember 2019   Suara.com
Lambang AIDS. [Shutterstock]

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Ketika AIDS pertama kali diidentifikasi lebih dari 40 tahun lalu, penyakit itu dianggap hukuman mati. Namun kemudian, secara perlahan AIDS berubah menjadi penyakit kronis yang bisa diobati, terkendali meski tidak bisa disembuhkan hingga kini.

Hari AIDS sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember merupakan peringatan tahunan bahwa AIDS masih ada, meskipun teknologi kedokteran untuk mengatasinya semakin maju, wabahnya belum berakhir.

Setiap tahun, komunitas-komunitas masyarakat di berbagai penjuru dunia memperingati Hari AIDS Sedunia dengan pesan-pesan seperti: sadarlah akan keberadaan penyakit itu, cobalah periksakan diri dan ambil tindakan untuk pencegahan, untuk tidak tertular atau menyebarkannya.

Banyak pakar mengatakan, cara terbaik untuk menghindari AIDS adalah selalu gunakan kondom saat berhubungan intim.

Ketika menteri-menteri kesehatan pertama kali menetapkan 1 Desember sebagai Hari AIDS Sedunia, mereka menyadari, bahwa tidak seperti penyakit-penyakit lain, virus HIV yang menyebabkan AIDS bisa menyebar secara global.

Doktor Anthony Fauci dari Lembaga Kesehatan Nasional AS (NHI) juga berjuang melawan wabah AIDS sejak awal. Ia telah berusaha mengembangkan berbagai pengobatan untuk HIV. Pengobatan itu begitu efektifnya sehingga dengan hanya mengonsumsi satu pil setiap harinya, penyandang HIV tidak akan menularkan virus itu ke orang lain.

Fauci mengatakan mengatasi wabah AIDS sebetulnya sederhana.

"Jika Anda melakukan dua hal, yakni pengobatan sebagai pencegahan, bagi mereka yang sudah tertular virus HIV, dan PREP atau pre-exposure prophylaxis bagi mereka yang beresiko, wabah AIDS bisa dikendalikan bahkan diakhiri. Itu tentu, secara teori, bila semuanya diterapkan sepenuhnya,”beber Fauci.

PREP adalah istilah yang menunjukkan upaya pencegahan dengan mengonsumsi obat untuk menghindari kemungkinan seseorang terinfeksi HIV.

Jumlah penderita baru HIV menurun secara dramatis sejak obat-obat itu digunakan dalam skala besar. Kematian terkait AIDS menurun lebih dari 55 persen sejak 2004, namun hanya sekitar 60 persen dari mereka yang mengidap HIV menjalani pengobatan.

Paul Kawata mengatakan, "Kita harus memahami bahwa HIV  begitu banyak diskriminasi dan stigma.”

Kawata bekerja untuk NMAC, sebauh organisasi yang memperjuangkan kesetaraan layanan kesehatan dan keadilan ras dalam memerangi AIDS. Ia mengatakan, virus itu tersebar di tempat-tempat di mana orang-orang menghadapi diskriminasi.

"Pertama, umumnya di kalangan orang-orang kulit berwarna. Kedua, di kalangan komuniats gay. Ketiga, di kalangan masyarakat miskin,” jelas Kawata.

Mayoritas penyandang HIV di AS adalah orang-orang miskin. Di luar AS, mayoritas penyandang HIV hidup di negara-negara berpendapatan rendah atau menengah. Remaja di mana pun di dunia beresiko tinggi tertular virus ini. Mereka memiliki sedikit akses ke uji HIV, layanan kesehatan dan konseling. Oleh karena itu, menurut Fauci, dunia membutuhkan hal lain selain obat.

"Kita tidak bisa membasmi HIV tanpa vaksin,” jelasnya.

Fauci mengatakan, kerja vaksin menjanjikan. Namun, yang terpenting untuk saat ini, mengusahakan orang-orang untuk menjalani tes HIV sehingga mereka yang sudah tertular menjalani pengobatan, dan menyediakan orang-orang yang beresiko tertular dan memperlakukan HIV sebagai penyakit, bukan isu politik, moral, dan sosial. 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar