Menciptakan Indonesia yang Ramah Disabilitas

  Sabtu, 30 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen Annisa Rizkia Arigayota, Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Ilustrasi. (Pexels)

AYOBANDUNG.COM -- Setiap tahunnya, tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Tanggal ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1992. Hari Disabilitas Internasional ini biasanya dijadikan ajang untuk mengapresiasi dan mengangkat isu-isu mengenai kaum difabel. Tak terkecuali oleh PBB. Tahun ini, PBB mengangkat tema Promoting The Participations of Persons with Disabilities and Their Leadership: Taking Action On The 2030 Development Agenda.

Di situs resminya, PBB menulis bahwa mereka akan fokus ke empowerment orang-orang disabilitas demi menciptakan atmosfer inklusif, adil, dan berkelanjutan sesuai dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditargetkan selesai pada tahun 2030. PBB berjanji tidak akan ‘meninggalkan siapa pun’ dan menyadari bahwa masalah ini adalah masalah lintas sektoral.

Dalam hal tersebut, dapat diartikan bahwa PBB ingin meningkatkan partisipasi disabilitas untuk diposisikan setara dan dapat mengambil perannya dalam masyarakat.

AYO BACA : Keren! Penyandang Disabilitas Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut

Penyandang status disabilitas terkadang diremehkan karena tidak dapat bekerja sebaik orang nondisabilitas. Disabilitas pun sering mendapatkan diskriminasi dari berbagai pihak.

Masalah disabilitas di Indonesia pun tampak belum selesai. Mayoritas masyarakat belum sepenuhnya memahami fasilitas disabilitas yang disediakan di jalanan. Contoh paling mudahnya, banyak guiding block di jalan yang tertutup oleh pedagang kaki lima. Jelas, hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai disabilitas di Indonesia sendiri masih sangat rendah.

Belum lagi soal lapangan kerja. UU No. 8 Tahun 2016 yang mengatur tentang Penyandang Disabilitas mewajibkan Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, dan BUMD mempekerjakan penyandang disabilitas 2% dari total pegawai.

AYO BACA : SLB Negeri A Aksi Jalan Kaki, Kampanye Fasilitas Publik Ramah Disabilitas

Untuk perusahaan swasta, diwajibkan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas 1% dari total pegawai. UU ini pun menuliskan bahwa terdapat insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas.

Kendati begitu, masih banyak pula stigma yang bermunculan di masyarakat tentang disabilitas, sehingga keraguan terhadap kemampuan para disabilitas pun masih tumbuh subur, di antaranya adalah stigma disabilitas yang tidak bekerja sebaik nondisabilitas, diskriminasi kelembagaan, fasilitas yang tak insklusif, sampai ke lingkungan pekerjaan yang tak ramah terhadap penyandang disabilitas (Yeo & Moore, 2003).

Inilah yang harus dibenahi. Pemerintah sedikit demi sedikit saya amati mulai berbenah, contohnya saat pembangunan stasiun MRT Jakarta dan fasilitasnya yang menyertakan lift, guiding block, sampai spot tersendiri di MRT untuk para disabilitas. Mulai bermunculan pula lapangan pekerjaan untuk para disabilitas. Contohnya, di Fatmawati terdapat toko kopi yang seluruh pegawainya adalah disabilitas. Mulai dari barista, koki, hingga kasir dari toko tersebut adalah teman-teman disabilitas.

Lain halnya dengan di Bandung yang memiliki kantor pemberitaan yang seluruh pekerjanya adalah disabilitas. Ialah Newsdifabel, media yang berlokasi di Ciumbeleuit Bandung. Media ini berfokus pada pemberitaan mengenai disabilitas. Seluruh pekerjanya yang merupakan penyandang disabilitas membuktikan bahwa mereka dapat melakukan hal yang sama besarnya dengan para pekerja normal.

Permasalahan disabilitas di Indonesia belum selesai. Lebih tepatnya, belum merata. Di satu daerah seorang disabilitas dapat melaksanakan kegiatan seperti orang normal lainnya, namun di daerah lain mereka tak mendapatkan kesempatan yang sama.

Semoga di Hari Disabilitas Internasional tahun ini, baik pemerintah dan masyarakat dapat berbenah dan menyadari hadirnya para disabilitas di sekitar kita. Bukan untuk dihakimi, bukan untuk dikasihani, namun untuk digandeng, untuk berjalan, dan bekerja bersama, karena kita semua setara.

AYO BACA : Bus Ramah Disabilitas Segera Hadir di Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar