Maestro Lukis Jeihan Sukmantoro Tutup Usia

  Jumat, 29 November 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Jeihan Sukmantoro. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kabar duka menyelimuti dunia seni rupa Indonesia. Maestro lukis Jeihan Sukmantoro menghembuskan nafas terakhirnya, Jumat (29/11/2019).

"Inna lillahi wa inna ilaihi raojium, maestro lukis Jeihan Sukmantoro wafat pukul jam 18.15 di studionya Jalan Padasuka 147 Bandung," demikian pesan singkat Rois Am Majelis Sastra Bandung (MSB) Matdon.

Jeihan Sukmantoro atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan Jeihan memang merupakan salah satu pelukis utama dan ternama kepunyaan Indonesia. Bahkan maestro seni rupa Indonesia atau legenda hidup, begitulah sebutan banyak pengamat.

Mengisahkan sedikit perjalanan hidup Jeihan, dalam garis perkembangan seni rupa Indonesia, posisi Jeihan amatlah penting. Pasalnya Eksistensi dan posisinya mulai naik di era 1960-an dan memuncak pada 1990-an. Bahkan pada dekade 2000 hingga akhirnya jatuh sakit dan tutup usai, Jeihan tetap melukis, bahkan sejumlah pameran tunggalnya telah menggambarkan betapa progresifnya Jeihan dengan tema-tema baru.

AYO BACA : Menerawang Dunia Mata Hitam Jeihan

Pelukis kelahiran Solo, 26 September 1938 ini pun sangat kental dengan gaya lukisannya yang berkarakter figuratif dan khas. Dimana hampir pada setiap objek manusia atau makhluk hidup lainnya digambarkan sebagai figur dengan mata hitam pekat dengan warna-warna datar dan sederhana.

Beberapa waktu lalu, ayobandung.com, sempat betbincang dengan Almarhum. Bahkan dengan blak-blakan, Jeihan mengtakan dalam gaya berkesenian tentu akan ada perubahan. Sementara bagi dirinya sebab perubahan itu lah yang akan semakin dicari. Ibarat kata, apa yang sampai berhasil mengubahnya menjadi seorang pelukis atau perupa sufi yang menuju ‘Suwung’ (sesuatu yang tidak ada, tapi ada).

"Puncak gerak, diam. Puncak tahu, tak tahu. Puncak hidup, mati. Saya sudah mulai mengerti semua. Sudah mulai belajar diam, sudah mulai tidak tahu, dan sudah siap mati. Saya tahu puncak kehidupan saya itu kematian, menuju Suwung," ujar Jeihan.

Tampaknya Jeihan kini telah menemukan suwung yang sesungguhnya. Berikut pemikiran Jeihan yang tersampaikan melalui puisinya.

AYO BACA : 50 Tahun Mata Hitam Jeihan Dipamerkan

*Berikut ini puisi Jeihan Sukmantoro:

Suwung

Kami hamba Allah

Bersama waktu telah

Lama berjalan

Melewati garis panjang menuju satu titik: awal dan akhir menyatu

Kembali

AYO BACA : Sufisme Jeihan dan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar