Revolusi Energi 3.0 dalam Memenuhi Kebutuhan Revolusi Industri 4.0

  Jumat, 22 November 2019   Netizen Fathin Nadillah
Ilustrasi revolusi energi 3.0 dalam memenuhi kebutuhan revolusi industri 4.0. (Pixabay/Gerd Altmann)

AYOBANDUNG.COM -- Belakangan ini, sedang gencar pemberitahuan bahwa sebentar lagi Indonesia akan memasuki era revolusi industri 4.0. Hal tersebut tentunya merupakan kesempatan emas yang jika dimanfaatkan akan meningkatkan berbagai aspek yang ada di Indonesia.

Namun dalam menuju ke sana tentu bukanlah hal yang mudah, diperlukan berbagai kesiapan dari berbagai sektor, termasuk sektor energi.

Gambaran tentang revolusi industri 4.0 sendiri akan lebih banyak mengoperasikan mesin digital yang canggih seperti artificial intelligence, robotik, dll.

Dengan demikian pula, energi yang digunakan untuk pengoperasiannya akan semakin bertambah. Di Indonesia, konsumsi energi untuk sektor konstruksi dan industri selalu menjadi yang tertinggi.

AYO BACA : Tantangan Sekolah dan Peran Guru Bahasa di Era Pendidikan 4.0

Menurut data BPS tahun 2017, sektor industri dan kontruksi mengonsumsi energi sebesar 1.427.810 terajoule, atau sekitar 31,6% dari total konsumsi energi akhir. Sedangkan konsumen terbesar kedua adalah sektor rumah tangga sebesar 1.386.053 terajoule (30,7%).

Adapun total kebutuhan energi final untuk tahun 2025 dan 2050 pada sektor industri dan keseluruhan bauran energi masing-masing sebesar 118,4 MTOE (47,7%) dan 293,2 MTOE(45,7%).

Hal ini tentu saja bisa menjadi beban jika Indonesia hanya mengandalkan energi non-terbarukan terus-menerus, padahal kebutuhan energi semakin bertambah.

Mengetahui hal tersebut, sudah saatnya kita beralih ke energi terbarukan. Seperti yang dikatakan oleh mantan menteri Pertambangan dan Energi, Soebroto, pada tahun 2018 silam, bahwa Indonesia sekarang berada di tahap revolusi energi 3.0, dengan  tantangan generasi ini adalah bagaimana mengembangkan elektrifikasi, energi baru dan terbarukan, serta konservasi.

AYO BACA : Pensiun dari DPR, Fahri Hamzah Banting Setir Jualan Kopi

Dalam melaksanakan tantangan ini, kita bisa berkaca pada negara maju seperti negara-negara di benua Eropa yang menjadikan energi angin sebagai pembangkit listrik untuk menggantikan posisi batu bara.

Bahkan pada tahun 2016, listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan di Eropa mencapai 86%. Sebuah angka yang besar dan dapat disimpulkan bahwa mereka sudah bisa memanfaatkan potensi energi terbarukan dengan baik.

Untuk mencapai keberhasilan seperti itu, tentunya pemerintah harus segera mengambil kebijakan mengenai energi terbarukan seperti membentuk badan yang mengurus energi terbarukan dengan melibatkan anak terbaik bangsa yang berkolaborasi dengan negara yang sudah berpengalaman.

Dengan begitu, kita tak lagi mengandalkan impor BBM, sehingga alokasi APBN bisa lebih fokus ke pembangunan ekonomi seperti industri 4.0 ini.

Penulis: Fathin Nadillah, mahasiswi Politeknik Statistika STIS

AYO BACA : Revolusi Pendidikan Indonesia ala Nadiem?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar