Merayakan Literasi

  Kamis, 21 November 2019   Netizen Atep Kurnia
Buku Googling Gutenberg diterbitkan oleh ITB Press pada awal tahun 2019. (Sumber: Atep Kurnia)

Dalam acara “Kemah Literasi Jawa Barat 2019” yang baru lalu, saya didaulat untuk menyampaikan proses kreatif di balik penulisan buku saya, Googling Gutenberg (ITB Press, 2019). Dalam acara bedah buku yang diselenggarakan pada hari Sabtu malam, 16 November 2019, di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang, itu buku saya dibedah oleh pegiat literasi dari Tasikmalaya, Vudu Abdul Rahman. Ia menyampaikan makalahnya “Mendedahkan Bunyi dan Sunyi: Ihwal Secondary Literacy”.

Tentu saja, saya sangat gembira menyambut Vudu. Hal ini membuktikan bahwa tulisan-tulisan saya selama ini yang berkaitan dengan perkembangan literasi ada yang mengapresiasi. Kegembiraan dari keikutsertaan pada “Kemah Literasi Jawa Barat 2019” ini juga bertaut dengan bedah buku sebelumnya. Karena dengan pembacaan Vudu itu berarti buku saya telah dibedah beberapa kali, yaitu di Rumah Baca Buku Sunda pada 27 April 2019; di rumah saya pada 4 Mei 2019; di Panti Baca Ceria, Sumedang Utara, pada 27 Juli 2019; dalam acara “Tadarusan” yang diselenggarakan Asian-African Reading Club (AARC) antara 7 Juli-14 Agustus 2019; dan pada rangkaian “Soemardja Book Fair 2019” di Galeri Soemardja ITB, 4 November 2019.

Dalam tulisan ini pun, seperti pada acara-acara bedah buku di atas, saya akan berbagi ihwal proses kreatif berikut kandungan isi buku Googling Gutenberg. Nah, sebenarnya, buku ini merupakan kumpulan tulisan lepas saya baik yang pernah dimuat maupun tidak dimuat oleh media. Bahkan bisa dibilang seperempat kumpulan tulisan ini belum pernah dimuat, karena ditolak atau tidak diketahui kabar pemuatannya. Adapun media-media yang memuat tulisan saya adalah rubrik Harian Umum Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, dan Buletin Sastra Sasaka. Di antara media tersebut, rubrik “Jejaring” Pikiran Rakyat paling banyak yang memuat tulisan ini, yaitu sebelas tulisan. 

Tulisan-tulisan yang terkumpul dalam Googling Gutenberg saya tulis antara tahun 2007 hingga 2013, yang menandai masa antara sebelum saya kuliah dan setelah saya kuliah, yaitu antara 2008 hingga 2012. Pada tahun 2007 hingga 2009, ada masing-masing satu tulisan yang dimuat dalam buku ini, yaitu secara berturut-turut, “Old Books are Forever”, “Transisi Teknologi Komunikasi Ki Sunda”, dan “Revolusi Cara Baca Buku”. Pada tahun 2010 ada tiga tulisan, yakni “Budaya Baca Barat”, “Buku Apu”, dan “Literasi Sunda di Dunia Maya”.

Memasuki tahun 2011, ada empat tulisan. Sementara tahun 2012, sewaktu tahun akhir saya kuliah, untuk buku ini ada 18 tulisan, sehingga bisa dikatakan inilah tahun saya sangat produktif menulis. Dan untuk tahun 2013, ada lima tulisan yang dimuat di dalam buku ini. Dengan demikian, total ada 34 tulisan yang dimuat di dalam Googling Gutenberg.

Dari sisi isinya, sebagaimana tercermin di judulnya, buku membahas selintas kilas mengenai perkembangan literasi di dunia dan tanah air, terutama di Tatar Sunda. Untuk memudahkan pembagian tulisan tersebut, saya cenderung mengikuti fase-fase perkembangan media literasi dari zaman ke zaman. Meskipun sebenarnya bisa dibilang agak sembrono bin sembarang saja, karena perkembangan literasi sebenarnya memperlihatkan kompleksitas alias pertaliannya sangat rumit. 

Manusia Gutenberg

Ke-34 tulisan di dalam Googling Gutenberg dibagi-bagi kepada beberapa kelompok tulisan. Kelompok tulisan pertama meskipun terdiri hanya satu tulisan, yakni “Buku dari Kabuyutan” dengan jelas mewakili satu fase perkembangan literasi di tanah air, terutama di Tatar Sunda. Kata kabuyutan sendiri merujuk kepada skriptorium atau tempat menulis dan menyalin naskah kuna, sebagai pengaruh dari agama Hindu-Budha.

Dalam tulisan tersebut, saya pikir, kabuyutan memainkan peran yang signifikan. Dalam arti di sinilah, bisa jadi, awal mula terjadinya transisi teknologi komunikasi dari tradisi kelisanan (orality) menuju teknologi komunikasi tingkat kedua, yakni keberaksaraan (literasi). Meskipun, karena yang disebut transisi bisa merupakan perpaduan dua tradisi teknologi komunikasi yang sebelumnya ada dan yang datang belakangan. Walhasil, dalam konteks naskah yang ada di kabuyutan-kabuyutan itu tentu saja merupakan quasi-oral. Dalam arti, meskipun tradisi tulis mulai mengedepan namun cara membacanya masih milik tradisi lisan. Karena pada pembacaan naskah yang mengedepan adalah cara baca dengan suara lantang (reading aloud), bukan membaca bersunyi-sunyi (silent reading) sebagaimana yang ada pada tradisi buku cetak.

Dalam kelompok kedua, saya mengumpulkan tulisan-tulisan yang berkisar di sekitar tradisi cetak yang terutama mewujud pada bentuk buku cetak, termasuk  berbagai implikasi dari tradisi cetak tersebut pada perkembangan kognisi sekaligus intuisi manusia. Tulisan-tulisan yang masuk rumpun ini adalah “Manusia Gutenberg”, “Budaya Baca Barat”, “Aku dan Buku”, “Buku Apu”, “Lelaki Tua dan Buku”, dan “Old Books are Forever”.

Sebenarnya kelompok tulisan tersebut bisa diwakili oleh tulisan “Manusia Gutenberg”. Istilah tersebut saya ambil dari istilah yang diperkenalkan oleh teoritikus media Marshall McLuhan dalam bukunya The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962). Sedangkan kata Gutenberg sendiri merujuk kepada Johannes Gutenberg (sekitar 1398-1468), penemu mesin cetak movable type yang mendorong terjadinya Revolusi Cetak.

Dalam tulisan “Manusia Gutenberg” lebih lanjut saya menyatakan bahwa Manusia Gutenberg adalah orang yang sangat bertaut dengan produk cetak, terutama buku. Mereka terbiasa membaca dan menelaah buku cetak. Hasilnya, subyek yang kesadarannya dibentuk buku cetak: rasional, beridentitas khas, berpikiran mandiri, dan berpengetahuan khusus. Lebih jelasnya, teknologi cetak mempercepat, meningkatkan, serta mendorong perubahan budaya dan kognisi yang seragam. Dengan hadirnya teknologi cetak, cara membaca lambat laun berubah menjadi membaca di dalam hati yang bersifat individual.

Lebih jauhnya, sebagaimana dinyatakan Walter J. Ong (Orality and Literacy: The Technologizing of the Word, 1982) dan Elizabeth L. Einstein (The Printing Revolution in Early Modern Europe, 1983) teknologi cetak mendorong perubahan-perubahan lainnya. Menurut Ong, teknologi cetak melahirkan kesadaran baru pada orang saat harus memperhitungkan waktu; berkembangnya penggunaan bahasa setempat orang yang membaca buku dan pada gilirannya sangat terkait dengan lahirnya nasionalisme karena berkaitan dengan penggunaan bahasa setempat tersebut; munculnya kamus; observasi ilmiah; dan tumbuhnya kesadaran akan hak cipta.

Di sisi lain, Einstein menambahkan: Lahirnya individualisme sebagai produk bentuk-bentuk baru standarisasi buku; persemaian intelektualitas yang kompleks; menjadi ajang saling rujuk antara satu buku dengan buku lainnya; munculnya beragam pekakas visual; tanda dan simbol dibakukan; dan pengembangan komunikasi ikonografis dan non-fonetik.

Tradisi literasi inilah yang melahirkan dan menghasilkan manusia-manusia yang saya bahas dalam tulisan “Budaya Baca Barat”, “Aku dan Buku”, “Buku Apu”, “Lelaki Tua dan Buku”, dan “Old Books are Forever”.

Alih Literasi

Tulisan-tulisan saya kemudian bergerak ke arah peralihan literasi, yakni ke arah kelisanan kedua, bahkan dari kelisanan pertama saat beralih ke tradisi naskah. Di sini pun, saya membicarakan ihwal transisi dan dilema tradisi cetak yang berhadapan dengan kelisanan kedua serta perkembangan tradisi kelisanan itu sendiri. Dalam kelompok ini ada 14 tulisan, yang mengandung arti secara sadar atau tidak, saya sangat tertarik ihwal peralihan tersebut.

Mengenai peralihan literasi secara umum dapat dibaca dalam tulisan “Alih Literasi”. Di awal tulisan, saya menyatakan bahwa literasi dari zaman ke zaman, senantiasa mengandaikan adanya perdebatan, antara sikap menerima dan menolak. Perdebatan itu berpangkal dari ketidaksediaan, ketidakrelaan diri untuk menyesuaikan kembali dengan invensi media literasi yang datang belakangan. Hal itu tentu berkaitan dengan penyesuaian kognisi, perasaan, dan pengalaman sebelumnya, yang harus diintegrasikan kepada media literasi baru.

Saya memberikan contoh-contoh alih literasi tersebut, dengan menunjukkan legenda tokoh Theut, yang dinyatakan sebagai penemu tulisan, dan menyajikan teknologi baru tersebut kepada Fir’aun Thamus, tetapi ditolaknya karena dianggap dapat mengurangi daya ingat manusia. Kemudian tokoh Claude Frollo dalam Notre Dame de Paris karya Victor Hugo, “menyesalkan” penemuan buku cetak karena dapat menggantikan fungsi katedral dan kitab suci. Demikian pula, Johannes Trithemius (1462-1516) menyesali penemuan teknologi cetak karena dapat mengurangi bahkan membinasakan tradisi biara.

Namun, untuk saya sendiri, termasuk yang saya timba dari Umberto Eco (2003), sebenarnya alih literasi adalah pengayaan modus atau teknologi komunikasi saja bukan berupa penggantian. Karena saya memahaminya dari perubahan budaya itu sendiri yang bersifat sirkular atau melingkar-lingkar, alih-alih bersifat linier dalam arti satu fase budaya menggantikan budaya lainnya. Pemahaman ini pun saya timba dari konsep yang ditawarkan Raymond Williams perihal pertautan ideologi dalam kebudayaan yang secara serentak bersifat sedang dominan, sedang muncul dan berkembang (emergent), dan sedang mengalami penyisaan (residual). Oleh karena itu, saya tidak termasuk yang menyesali peralihan literasi. 

Kelisanan Kedua

Tulisan-tulisan selanjutnya berkaitan dengan semacam dilema antara tradisi cetak dan kelisanan kedua. Yang termasuk kelompok ini adalah tulisan “Kelisanan Kedua dan Kita”, “Dilema Dunia Digital”, “Revolusi Cara Baca Buku”. Sebagai catatan kelisanan kedua menurut Ong (1982) merujuk kepada kelisanan yang lebih terencana dan sadar diri, serta bersandarkan pada penggunaan budaya tulisan dan cetak. 

Aspek-aspek yang ditimbulkan oleh adanya kelisanan kedua termasuk meruyaknya buku digital (sebagaimana yang saya tuliskan dalam “Banyak Buku, Sedikit Waktu”, “Buku dalam Jaring-jaring Google”, “Paradoks E-Book”, dan “Gegar Salman Rushdie”); melahirkan pengelompokan orang berdasarkan keterlibatannya di dunia digital, seperti yang dirumuskan oleh Marc Prensky (2001), dengan istilah “digital native” atau pribumi di dunia digital dan “digital immigrant” atau tamu dunia digital (dalam tulisan “Jembatan Digital”); menyaran pada tumbuhnya kepentingan untuk membentuk komunitas, terjadi dalam waktu yang sama serentak (“Diri di Dunia Maya); menyaran adanya dialog atau komunikasi dua arah (“Dunia Omong-omong”); terpasung oleh dibuat oleh manusia sendiri (“Guna-guna Gawai); seni mencari data di internet (“Seni Desimasi” dan “Googling Menurut Eco”); dan ciri “digital immigrant” yang melek digital (“Sherlock Era Digital”).

Tulisan-tulisan selanjutnya berkaitan dengan media sosial yang marak digunakan di dunia, termasuk di Indonesia. Saya membicarakan beberapa contoh kasus penggunaan media sosial berikut implikasinya. Ini saya pelajari dari adanya games yang dimainkan anak saya (“Si Burung Pemarah”) dan media sosial Facebook (“Status Facebook” dan “Sekali Like, Tetap Unlike”) dan Twitter (“Kicauan Pesepak Bola” dan “Akun @gm-gm”).

Beberapa tulisan di ujung buku berupa berbagai fenomena kelisanan kedua yang saya temukan dalam kasus kebudayaan Sunda, termasuk di dalamnya perkembangan literasi Sunda yang dipengaruhi oleh kehadiran internet. Hal ini bisa dilihat dari tulisan “Literasi Sunda di Dunia Maya”, “Transisi Teknologi Komunikasi Ki Sunda”, “Sastra Sunda dan Internet”, “Digitalisasi Pustaka Sunda”, “Proyek Sundapedia”, “Eksistensi Fiksimini Sunda”, dan “Buku Sunda dari Internet”.

Dengan menunjukkan fenomena kelisanan kedua yang menghinggapi orang Sunda sebenarnya bisa dibilang saya sedang mengamati diri sendiri, karena saya sejak awal memang berangkat dari tradisi membaca dan menulis buku Sunda, sehingga bisa dibilang sangat berkepentingan terhadap perubahan atau peralihan literasi di kalangan orang Sunda.

Meskipun barangkali ada bias, karena menulis dari dalam bukan dari luar komunitas Sunda, tetapi sejujurnya saya menyimpan harapan agak besar pada potensi besar yang tersirat dari kelisanan kedua, terutama dalam bentuk digitalisasi pustaka Sunda, projek kolaborasi penyusunan ensiklopedia berbahasa Sunda, pembentukan komunitas-komunitas urang Sunda di internet baik dalam milis dan media sosial, dan kelahiran tulisan-tulisan berbahasa Sunda dengan karakter dunia maya. Dengan catatan, saya juga sangat sadar, bahwa semua upaya tersebut bisa dibilang tidak dapat bertahan lama, karena berbentuk letupan-letupan tren atau kecenderungan sebentar.

Dengan tulisan-tulisan yang bertalian dengan keterlibatan urang Sunda di internet juga membuktikan bahwa sesungguhnya semakin kita terlibat di dunia maya yang global ternyata kita menyadari arti penting kelokalan kita. Dengan kata lain, dunia digital sebagai jembatan memungkinkan lahirnya komunitas-komunitas yang tidak terhitung jumlahnya, sesuai dengan kesamaan minat, afiliasi, di antara anggota-anggota pembentuknya.

Sesungguhnya, dengan menyusun buku ini, saya mengajak khalayak luas untuk sama-sama memperkuat kembali hubungan dengan tradisi cetak agar kita tetap bisa berpikir dan bersikap kritis, terus aktif membina hubungan baik di dunia kelisanan pertama untuk menyadarkan diri bahwa kita tetap berpijak di bumi, sekaligus berlaku cermat di dunia maya agar tetap bisa menengarai sisi-sisi positif dan negatifnya. Saya ingin merayakan literasi.

Penulis: Atep Kurnia merupakan peneliti literasi Pusat Studi Sunda. Salah satu karyanya yakni buku 'Googling Gutenberg'. Di samping itu, berbagai tulisan seperti cerpen, puisi, serta feature banyak di media nasional seperti Pikiran Rakyat, Mangle, Kompas.com, dan lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar