Meneladani Semangat Pahlawan dalam Pembangunan di Kota Banjar

  Kamis, 21 November 2019   Netizen Heri Susanto
Pembangunan RSUD Langensari Kota Banjar. (Dok. Heri Susanto)

AYOBANDUNG.COM -- Pada tanggal 10 November 2019, masyarakat memperingati Hari Pahlawan. Tema yang diambil pada peringatan hari pahlawan tahun ini adalah Aku Pahlawan Masa Kini yang mengandung makna bahwa setiap insan warga negara Indonesia dapat menjadi Pahlawan Masa Kini dengan melakukan aksi-aksi nyata memperkuat keutuhan NKRI. Peringatan Hari Pahlawan harus dapat meningkatkan kesadaran untuk lebih mencintai tanah air dan menjaganya sampai akhir hayat.

Kemerdekaan yang kita raih bukanlah hadiah dari penjajah, tetapi merupakan hasil perjuangan para pahlawan. Semangat perjuangan para pahlawan yang pantang menyerah dan penuh keberanian, serta pengorbanan tanpa pamrih dalam mempertahankan kemerdekaan republik ini harus kita teladani dan jadikan penyulut semangat dalam mengisi kemerdekaan.

Kemerdekaan bangsa ini harus kita syukuri dan kita isi dengan pembangunan di segala bidang secara merata. Makna peringatan hari pahlawan harus dapat memunculkan semangat baru yang ditransformasikan menjadi keuletan dalam bekerja membangun negeri menuju Indonesia Maju.

Pembangunan telah menjadi standar moral untuk melihat majunya suatu negara. Bangsa ini telah memulai pembangunan disegala bidang sejak awal kemerdekaan sampai dengan saat ini. Berbagai program pemerintah telah dilaksanakan demi terciptanya pembanguan yang merata di segala bidang.

Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan adalah angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). Bagi suatu daerah, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah Daerah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah tersebut.

Kota Banjar adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, yang berada diperbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, yakni dengan Kabupaten Cilacap. Kota Banjar merupakan pintu gerbang utama jalur lintas selatan Jawa Barat.

IPM Kota Banjar tahun 2018 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat sebesar 71,25. Angka ini meningkat 0,46 poin dibandingkan IPM tahun sebelumnya yang mencapai 70.79. Nilai tersebut termasuk pada kategori tinggi, karena berkisar antara 70 sampai dengan 79,99.

Menilik lebih dalam, ada tiga aspek yang digunakan dalam penyusunan IPM, yaitu dimensi kesehatan, dimensi pendidikan, dan dimensi pengeluaran.

Dimensi kesehatan diukur dengan indikator angka harapan hidup (life expectancy), dimensi pendidikan diukur dengan indikator harapan lama sekolah (expected years of schooling), dan rata-rata lama sekolah (mean years of schooling), sementara dimensi pengeluaran diukur dengan indikator perkapita (per capita expenditure).

Indikator angka harapan hidup (life expectancy) di Kota Banjar pada tahun 2018 mencapai 70,59 atau dengan kata lain bayi yang lahir di tahun 2018 diperkirakan memiliki harapan hidup hingga usia 70,59 tahun.

Semakin tinggi angka harapan hidup menunjukkan tingkat kesehatan penduduk semakin baik. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan adalah pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Pada bidang pendidikan, harapan lama sekolah di Kota Banjar pada tahun 2018 mencapai 13,20, artinya anak-anak berusia 7 tahun di Kota Banjar memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 13,20 tahun atau setara Diploma I.

Sedangkan untuk rata-rata lama sekolah mencapai 8,60, atau dapat dinterpretasikan bahwa rata-rata jenjang pendidikan penduduk Kota Banjar dengan usia 25 tahun keatas baru mencapai tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama kelas IX.

Pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan di bidang pendidikan telah berupaya memperbaiki sistem pendidikan menuju ke arah pembangunan dan kesejahteraan bangsa.

Pemerataan sarana pendidikan, peningkatan dana anggaran pendidikan, peningkatan kualitas pengajar dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pendidikan merupakan faktor pendukung pembangunan pendidikan. Jika tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, hal ini akan menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan secara keseluruhan.

Dari sisi pengeluaran, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, rata-rata pengeluaran perkapita penduduk Kota Banjar adalah sebesar Rp10.329.000,- (sepuluh juta tiga ratus dua puluh sembilan ribu rupiah), meningkat Rp342.000,- (tiga ratus empat puluh dua ribu rupiah) jika dibandingkan dengan pengeluaran perkapita tahun sebelumnya. Peningkatan pengeluaran dapat diindikasikan sebagai peningkatan pendapatan masyarakat.

Peningkatan pendapatan masyarakat tak lepas dari adanya pembangunan terutama disektor penyedian lapangan pekerjaan. Semakin banyak lapangan kerja tersedia, akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.

Pencapaian angka IPM yang sudah tinggi jangan menjadikan kita terlena. Pembangunan di segala bidang harus terus ditingkatkan. Melalui momentum peringatan hari pahlawan, kita jadikan sarana introspeksi diri, sampai sejauh mana kita dapat mewarisi nilai-nilai kepahlawanan dalam melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan.

Tidak ada kata menyerah, harus selalu semangat dan penuh keberanian dalam melaksanakan pembangunan, demi terciptanya Kota Banjar yang sejahtera, adil, dan makmur. Semoga.


Penulis: Heri Susanto, S.Si. Statistisi di BPS Kota Banjar

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar