Temu Pegiat Literasi

  Kamis, 14 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda
Poster Kemah Literasi Jawa Barat 2019. (Sumber: Dokumentasi FTBM Jawa Barat)

Sabtu, 9 November 2019. Di Jatinangor, Sumedang. Sore itu, saya bersama kawan-kawan pengurus Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Jawa Barat mengadakan rapat di sebuah kontrakan, hampir persis di seberang kampus IKOPIN. Kami menyewa satu kamar untuk memperbincangkan kegiatan yang sebentar lagi akan dihelat: Kemah Literasi Jawa Barat 2019.

Banyak yang hadir saat itu. Saya dari Cibiru, ikut menumpang mobil milik salah seorang pengurus asal Ujung Berung. Pengurus lainnya dari Kota Bandung ada yang berasal dari daerah Sukarajin. Ada juga yang berasal dari Kabupaten Bandung, Bekasi, Sumedang, Garut, dan Ciamis. Sebelum rapat, nasi liwet dalam kastrol, yang dibawa dari Ujung Berung dan selama dalam perjalanan ada di jok samping saya, sudah singgah di perut, karena sejak siang lapar mengharu biru. Ikan asin, sambal terasi, dengan lalab rebus petai dan goreng jengkol kian menambah hasrat makan. Beberapa kali, wadah semacam piring dari anyaman rotan dan dialasi kertas plastik terus terisi nasi dan lauknya.

Foto-01-oke

Suasana rapat pada Sabtu, 9 November 2019, di Jatinangor. (Sumber: Atep Kurnia)

Saat malam, setelah pengurus sudah berkumpul, rapat dimulai. Tempat rapatnya tidak di dalam kamar, karena tidak termuat, melainkan di halaman dengan dialasi bekas spanduk. Opik, Ketua FTBM Jawa Barat, yang membukanya. Pendiri dan pengelola Komunitas Ngejah dan TBM AIUEO di Garut ini intinya menanyakan kemajuan masing-masing divisi dalam menghadapi hajat besar itu. Tentu saja, saya dan Heri Maja Kelana yang bergiat di Rumah Baca Taman Sekar Bandung, dari divisi media dan informasi, ikut ditanya. Tugas saya berdua, antara lain, menulis siaran pers, meliput kegiatan selama acara dan menyiarkannya.

Namun, jelas, masalah terbesar yang harus ditanggung pengurus adalah ihwal pendanaan kegiatan. Kegiatan yang akan diselenggarakan selama tiga hari dua malam itu jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk sewa tempat perkemahan, konsumsi, dan lain-lain. Dana yang terkumpul sebagian dari iuran peserta dan beberapa sponsor, dua di antaranya adalah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud dan Pemerintah Kabupaten Sumedang.

Selain membahas pembiayaan, ihwal lainnya adalah jadwal acara, yang di dalamnya termasuk narasumber yang akan mengisi sesi-sesi pemberian materi, demikian juga tata tertib acara. Jadwal acara sudah dibahas, kemudian beranjak pada soal-soal teknis pelaksanaan kegiatan. Dalam pembahasan ini, pengurus melibatkan mahasiswa IKOPIN dan Unpad yang bersedia membantu menjadi panitia di lapangan nanti.  

Setelah tengah malam, dengan mata terkantuk-kantuk, sepet, meski kopi tetap menemani, akhirnya diskusi persiapan acara itu ditutup. Karena ada panitia laki-laki dan perempuan dan tidak pulang ke rumah masing-masing, kami yang sebelumnya menyewa satu kamar, akhirnya menyewa lagi satu kamar untuk tempat tidur laki-laki. Sambil merebahkan tubuh di atas kasur, seraya menanti tidur yang lelap, saya mengingat-ingat lagi, merenungkan kembali, keterlibatan saya di dunia literasi, terutama di FTBM Jawa Barat.

Fenomena Taman Baca

Jujur, saya termasuk seorang pembaca dan penggemar buku. Khusus sebagai penyuka buku, koleksi buku saya bisa dibilang sangat banyak. Dari dua tempat tinggal saya di Kota dan Kabupaten Bandung, kumpulan pustaka saya barangkali sudah melebihi angka dua ribu judul. Tapi karena bekerja pada sebuah instansi, saya tidak terpikir pada apa yang kemudian dikenal sebagai taman baca masyarakat (TBM). Istilah tersebut dikenal kemudian, setelah saya diajak dua senior, Ibnu Hijar Apandi dari Lembang dan Agus Sopandi dari Cicalengka.

Foto-02-oke

Pengurus FTBM Jawa Barat pada 3 April 2016. Beberapa di antaranya kini sudah tidak aktif lagi. (Sumber: Dokumentasi FTBM Jawa Barat)

AYO BACA : Literasi Membaca Lewat Sepakbola

Dari keterangan Kang Ibnu dan Kang Agus, saya jadi tertarik untuk bergabung, meskipun belum mendirikan TBM bahkan hingga sekarang. Namun, yang jelas, pada 3 April 2016 saya mulai tercatat sebagai salah seorang pengurus FTBM Jawa Barat yang dikemudikan Opik. Bidang yang diamanatkan sesuai dengan yang digeluti selama ini, yakni ihwal dokumentasi dan publikasi. Alhasil, dari sejak itu hingga kini, sudah tiga tahun lebih saya ikut bergelut di dunia TBM.

Namun, ada fenomena yang sangat penting yang saya perhatikan selama aktif pada organisasi nirlaba ini. Ternyata ada fenomena literasi lain dibandingkan dengan literasi yang saya hidupi sebelumnya. Saya yang sejak awal cenderung membaca dan menekuni bacaan “serius” dan terkesan “berat” dalam khazanah sastra Sunda, Indonesia, dan dunia, ditambah dengan pergaulan dengan penulis, sastrawan, dan kritikus sastra, kali ini berhadapan dengan kalangan pembaca dan pegiat literasi yang bacaannya lebih cair dan ringan, sehingga terkesan lebih populer, dalam pengertian tidak terlalu membetot pikiran lebih dalam.

Tetapi pertumbuhan TBM di Indonesia, terutama di Jawa Barat, demikian pesat. Dengan kenyataan demikian, dalam benak saya timbul pertanyaan. Di antaranya, mengapa di zaman yang mulai banyak dihuni generasi yang termasuk pribumi digital (digital native) kalau meminjam istilah Marc Prensky, ikhtiar untuk terus melanggengkan buku cetak demikian semarak? Padahal bukankah dengan hadirnya tradisi digital, tamu digital (digital immigrant) serta tradisi literasi yang dihidupinya akan tersisihkan dan tergantikan oleh generasi milenial atau pribumi digital? Barangkali ini terkait dengan dialektika literasi dan tentu bertaut dengan pola komunikasi yang dibangunnya.

Selain pertanyaan, timbul pula pemikiran di kepala. Dengan Opik, saya sering diskusi ihwal mencari jembatan yang dapat mempertemukan antara para peminat bacaan “serius” yang jumlahnya sedikit sedikit sehingga terkesan elitis dengan para penyuka bacaan “populer” dari kalangan pegiat TBM, yang demikian banyak. Barangkali memang harus dirumuskan semacam bacaan yang merangkum kesukaan kedua belah pihak. Barangkali pelbagai bacaan karya penulis posmodernis seperti novel-novel karya Umberto Eco bisa menjadi contoh yang dapat menyatukan kedua minat tersebut.

Di FTBM Jawa Barat, saya pernah mengikuti beberapa kegiatan. Di antaranya, menjadi pemateri pada acara pameran buku Jabar Book Fair 2016 (8 November 2016), diskusi buku Suara dari Marjin karya Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah pada Kopdar Pegiat TBM Provinsi Jawa Barat (26 Desember 2017), Seminar Nasional Literasi Informasi dalam rangka Padjadjaran Literacy Festival 2018 (25 Oktober 2018), dan Kemah Literasi Garut (29 Juni 2019).

Dengan catatan, dari Kopdar Pegiat TBM Provinsi Jawa Barat yang berlangsung 26-27 Desember 2017 dan diikuti oleh 109 peserta dari 22 kabupaten/kota itu menghasilkan delapan rekomendasi. Dua di antaranya berisi mengenai pentingnya mengadakan jambore dan seruan untuk menulis bagi para pegiat literasi dari kalangan pengelola TBM.

Selengkapnya, demikian butir pertama rekomendasi itu, “Acara Kopdar Pegiat TBM, Jambore Literasi, temu pegiat literasi atau apapun istilahnya, dipandang penting dan bermanfaat untuk para pegiat TBM. Selain memberi nutrisi yang bergizi yang dihasilkan dari berabagai diskusi yang diisi oleh para nara sumber yang mumpuni, juga bisa menjadi ruang berbagi pengalam praktik literasi di lapangan. Selain itu, acara ini mampu memberi ruang merekatkan silaturahmi antar pegiat. Oleh karena itu, kegiatan ini akan dipatenkan menjadi proker tahunan FTBM Jabar, dan kemudian akan diadaptasi oleh FTBM kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat”.

Dan butir kedelapan, “Semua pegiat TBM di Jawa Barat diharapkan mau berbagi tulisan terkait berita kegiatan di TBM masing-masing untuk diunggah di website FTBM Jabar”.

Untuk butir kedelapan terwujud dengan adanya situs pamatriliterasi.com. Situs tersebut diilhami dari judul buku yang berhasil dihimpun dan diterbitkan oleh FTBM Jawa Barat pada 2018, bekerja sama dengan Komunitas Ngejah. Itulah Pamatri Literasi: Luang jeung Sawangan nu Ngokolakeun TBM di Jawa Barat (Pamatri Literasi: Pengalaman dan Pandangan Para Pengelola TBM di Jawa Barat).

Buku yang saya sunting dan sebagian saya terjemahkan ke dalam bahasa Sunda ini menyajikan 28 tulisan dari para pegiat literasi di 27 TBM yang berasal dari 12 daerah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Buku ini menggambarkan pengalaman para pegiat dalam rangka menghidupkan dan mengembangkan kegiatan literasi di daerahnya masing-masing. Pada mulanya rata-rata memang berangkat dari pengalaman pribadi para pegiat saat bertemu dan berinteraksi dengan kegiatan baca dan tulis itu. Karena memang sejak kecil sudah berkenalan dan mencintai kegiatan membaca, menulis, serta mengumpulkan bahan bacaan. Di antara pengalaman itu, misalnya ada pegiat yang menuturkan ihwal kecintaannya kepada komik, novel, atau buku agama sejak kecil, sehingga sempat membuka taman bacaan sewaan sendiri. Kenangan semasa kecil dan akil balig itu terus terbawa hingga dewasa, bahkan saat usia mereka menua.

Namun, ada yang paling penting yang digarisbawahi kebanyakan para pegiat literasi itu. Mereka sama-sama menekankan pentingnya literasi untuk membangkitkan kesadaran dan kemampuan warga dan siswa untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya. Sebab, bukan hanya kegiatan baca-tulis saja yang ditekankannya, melainkan makna di balik kedua kegiatan tersebut, yaitu untuk membangun diri supaya selalu “melek” (literate) terhadap hal-ihwal yang dihadapi oleh dirinya, yang meliputi bidang ekonomi, politik, teknologi, dan sebagainya. Dengan demikian, sikap yang muncul adalah tidak mudah percaya pada kabar burung (hoax), selalu memperlihatkan sikap kritis, dan senantiasa memperhitungkan sebab dan akibat yang akan ditanggungnya.

Selain Pamatri Literasi, pengurus FTBM Jabar sedang menghimpun dan menyusun bunga rampai tulisan para pegiat TBM. Bedanya sekarang berbahasa Indonesia. Kira-kira judulnya Aku dan TBM. Buku ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis para pegiat TBM di Jawa Barat. Selain itu, untuk perekaman gerakan literasi di Jawa Barat dan menyebarkannya, sekaligus bisa menjadi jalan bagi pemetaan gerakan literasi di Jawa Barat sekaligus menjawab pertanyaan sejauh mana enam literasi dasar yang telah dikembangkan oleh masing-masing TBM yang ada di Jawa Barat.

AYO BACA : Komitmen Literasi Kader NA

Kemah Literasi Jawa Barat 2019

Selama kepemimpinan Opik, Kopdar Pegiat TBM Provinsi Jawa Barat pada 2017 adalah kegiatan pertama FTBM Jawa Barat yang melibatkan banyak pegiat literasi. Setelah adanya rekomendasi dari acara tersebut, pengurus FTBM Jawa Barat lalu mengagendakan temu pegiat literasi dwitahunan. Pelaksanaannya sendiri baru akan diselenggarakan antara 15-17 November 2019 di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang. Dengan nama kegiatan Kemah Literasi Jawa Barat 2019.

Sebagaimana yang disepakati, Kemah Literasi Jawa Barat 2019 adalah kegiatan jambore antarpengelola dan pegiat literasi dalam kerangka saling bertukar informasi, pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran. Tujuan kegiatan ini antara lain menjalin tali silaturahmi antarpengelola dan pegiat TBM di Jawa Barat, serta lingkup nasional; menumbuhkan TBM-TBM baru atau gerakan literasi lainnya di Jawa Barat dan dalam lingkup nasional; dan mengampanyekan enam literasi dasar dan kecakapan yang dituntut oleh abad ke-21.

Foto-03-oke

Temanya adalah “Literasi untuk Semua”. Maksudnya FTBM Jawa Barat berusaha untuk mengangkat pelbagai segi literasi, seperti literasi berdasarkan jenisnya, kalangan yang berkebutuhan khusus, masalah gender, dan lain-lain. Bentuk kegiatannya sendiri berupa diskusi, bedah buku, pelatihan menulis, dan saling bagi informasi. Juga ada pameran karya dan foto, pembacaan puisi, pentas seni, parade dongeng, bermain (games), dan api unggun.

Lebih rinci, uraian kegiatan temu pegiat literasi itu dapat dibaca dari susunan acaranya. Untuk hari pertama, Jum’at, 15 November 2019, setelah registrasi peserta antara pukul 12.30-14.00, pembukaan pada pukul 14.00, sesi penyajian materi baru diberikan pada pukul 19.00 dengan presentasi sekilas dari Opik perihal “Pengantar: Apa itu TBM?”. Acara dilanjutkan dengan “Diskusi Manajemen Komunitas Literasi” yang akan menghadirkan Heru Kurniawan (pendiri Wadas Kelir), Wily Ariwiguna (pendiri Rumah Baca Akil), dan Melvi (Pengurus PP FTBM). Untuk hari itu, acara diakhiri dengan “Bincang Santai Diselingi Musik” perihal buku, puisi dan musik yang diisi Moh. Syarif Hidayat, Panji Sakti, dan Adew Habsta.

Keesokan harinya, Sabtu, 16 November 2019, penyampaian materi akan dimulai pada 07.45-09.00 dalam bentuk diskusi paralel, yaitu “Pelatihan Menulis Cerita untuk Anak” dengan pembicara Ali Muakhir dan Kanti serta “Berbagi Kisah Para Pendongeng TBM” yang mengetengahkan pengalaman Rian Hamzah (Sanggar Alam Kita), Agustina Diah Pamongkasih (Rumah Baca Motekar), Ida Susanti (TBM Auliya), Budi Iskandar (TBM AIUEO), dan Dini (Kolecer Cianjur).

Antara pukul 09.00-10.30 juga ada diskusi paralel, yakni “Praktik-praktik literasi sekolah: Dari Ragam Membaca, Keterampilan, Berkarya dan Membangun Kecakapan Hidup” yang menampilkan Ade Sugiana (Guru SMPN 6 Sumedang), Sofie Dewayani (Yayasan Litara), dan Billy Antoro (Sekretaris Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud); dan “Praktik Baik Kolaborasi Gerakan Literasi Masyarakat” yang menampilkan Dadang Setia Permana (Kepala Desa Pasirhuni), Komunitas 1001 Buku (Jakarta), Wildan Awaludin (TBM Lingkungan Cibungur), Dikdik (Camat Sumedang Utara), Rd. Nonih (TBM PKBM Sukamulya Cerdas).

Setelah diskusi terpumpun mengenai “Optimalisasi Peran TBM dalam Gerakan Literasi”, ada diskusi “Pentingnya Literasi Digital di Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat” dengan pembicara Yusuf Maulana (Pandu Digital) dan Moch. Latif Faidah (RTIK Jabar). Kegiatan yang berlangsung antara pukul 14.00-15.30 ini paralel dengan diskusi “Praktik Baik Kolaborasi Sekolah, Masyarakat dan Keluarga dalam Membangun Gerakan Literasi yang Memberdayakan” dengan penyaji Wien Muldian (Wakil Ketua Pelaksana GLS Kemendikbud), Riki Setiawan, S.Pd. (Guru International Green School), Hj. R. Yulia Yulianti, M.Pd. (Pengawas & Penggiat Literasi Kota Bandung), dan Opik, M.Pd. (Guru SD Kab. Tasikmalaya/Komunitas Ngejah).

Antara pukul 16.15-17.45 ada diskusi tentang “Sastra dan Gerakan Literasi” yang menampilkan penulis dan akademisi Hawe Setiawan dan Acep Iwan Saidi. Antara 19.15–20.30 akan ada dua bedah buku dalam waktu bersamaan, yaitu buku Sumilangen oleh Konde Sartika dan Eriyandi Budiman dan buku saya sendiri, Googling Gutenberg. Buku ini saya akan bahas dari sisi proses kreatifnya, sementara Vudu Abdul Rahman akan membedahnya dari sudut pandang yang diminatinya.

Pada hari terakhir, Minggu, 17 November 2019, ada tiga sesi penyajian materi, yaitu “Pelatihan Menggambar dan Menulis Aksara Sunda”,  “Diskusi Literasi untuk Semua” yang menghadirkan perwakilan dari Balai Literasi Braile Indonesia dan Dewan Perpustakaan Jabar, dan diskusi “Literasi yang Membebaskan: Titik Temu Pendidikan dan Kompetensi Masa Depan” yang menampilkan paparan dari Maman Suherman (Penulis, Aktivis Literasi), Wien Muldian (Perhimpunan Literasi Indonesia), dan Firman Hardiansyah (Dosen, Ketua Umum Forum TBM). Acaranya sendiri ditutup pada pukul 12.30.

Padatnya mata acara dalam kegiatan ini seimbang dengan jumlah peserta yang bisa dikatakan lebih dari dua kali lipat acara Kopdar Pegiat TBM Provinsi Jawa Barat 2017, yakni sekitar 250 orang, karena hingga kini masih ada permintaan untuk ikut serta. Apalagi bila ditambah panitia atau pengurus FTBM Jawa Barat dan relawan dari kalangan mahasiswa, jumlahnya bisa jadi mencapai 300-an orang. Cakupannya pun jadi meluas, dalam arti bukan hanya datang dari para pegiat literasi di sekitar Jawa Barat, melainkan ada pula dari provinsi lain, seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Aceh, Sumatra Barat, Riau, dan Maluku.

Hal-hal di atas yang saya pulang pada Minggu siang, 10 November 2019, lalu ditambah keterangan-keterangan lainnya yang menyusul belakangan. Memang dengan himpunan keterangan di atas, sebagian kecil tugas saya sudah lunas. Namun, tugas yang sebenarnya masih harus dinantikan hingga Jumat sore, 15 November 2019.

AYO BACA : FTBM Gelar Kemah Literasi Jawa Barat 2019

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar