Giliran Menhan Prabowo Jadi Media Darling

  Rabu, 13 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen Farid Khalidi, Pegiat Literasi
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (Antara)

Penjagaan di komplek MPR/DPR Senayan, Jakarta, makin ketat saja. Anggota masyarakat umum yang bermobil, bermotor, atau berjalan kaki diharuskan meninggalkan KTP atau SIM di pos penjagaan. Kemudian, petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) penggantinya dengan kartu identitas bergambar gedung Lokawirasabha/Nusantara 1 yang di bawahnya ada nomor. Kartu dengan pita lebar itu harus dikalungkan di leher.

Kompleks ini luasnya 60 hektare atau 60.000 meter. Di dalamnya ada lima gedung, satu masjid dan gedung mekanik. Grahatama menjadi Gedung Nusantara, Lokawirasabha Tama (Gedung Nusantara I), Ganagraha (Gedung Nusantara II), Lokawirasabha (Gedung Nusantara III), Pustakaloka (Gedung Nusantara IV), Grahakarana (Gedung Nusantara V), Samania Sasanagraha (Gedung Sekretariat Jenderal DPR RI), dan Mekanik Graha (Gedung Mekanik). Satu kolam yang bentuknya persegi empat panjang, serta dua kantin yang lumayan luas.

Begitu luas dan banyak gedung, maka cukup merepotkan bagi yang tidak hafal. Untunglah, ada seorang pengawal pribadi Menhan Prabowo Subianto yang sedang lalu lalang di selasar.

Acaranya di lantai dua Gedung Nusantara III, ujar anak muda yang berpakaian warna krem dengan banyak kantong di baju maupun celana.

Sebelum naik ke lantai dua, ada pemeriksaan tas dan detektor oleh Pamdal. Lolos, naik eskalator. Sampai di atas, masyaallah sudah banyak wartawan yang menunggu. Mereka duduk-duduk di berbagai tempat dengan ditemani kamera, dan tentu saja handphone. Jumlahnya lebih dari seratus.

Di balkon ruang sidang Komisi 1, kondisinya setali tiga uang. Ketua Komisi I Meutya Hafid sampai berkata,.. belum pernah rapat Komisi I dihadiri wartawan sebanyak ini. “ Wartawan menanti-nanti Pak Prabowo”.

AYO BACA : Bahas Hal Sensitif, Rapat DPR dan Menhan Digelar Tertutup

Puluhan wartawan mendengar dan mengarahkan pandangan serta kamera ke ruang bawah, dimana skuat kementerian pertahanan yang dipimpin Letjen (Pur.) Prabowo Subianto berhadapan dengan 32 anggota Komisi I. Para politisi itu berasal Fraksi PDI-P, Golkar, PPP, Demokrat, Gerindra, PKS, Nasdem, PKB dan PAN. Salah seorang wakil Golkar, Letjen (Purn.) Lodewijk Freidrich Paulus (62), pernah menjadi anak buah Prabowo semasa di Kopassus.  

Para anggota Komisi I duduk berkelompok berdasarkan fraksinya. Secara keseluruhan posisi duduk mereka seperti huruf U, sedangkan tim Kemhan berada di bagian huruf U yang terbuka. Sidang pada Senin, (11/11/2019) diketuai Meutya Hafid dari partai Golkar yang berulang kali mesti memfasilitasi interupsi yang umumnya dari Fraksi PDIP.

Prabowo Subianto tampil mengenakan jas biru dengan baju biru dan dasi merah bergaris ungu muda. Penampilan perdananya ini berulang kali diinterupsi Effendi Simbolon dan Adian Napitupulu yang menghendaki pembahasan anggaran dilakukan secara terbuka.

Prabowo bersikeras tidak akan mengungkap rincian anggaran dalam rapat terbuka. Saya tidak bisa dipaksa untuk menyatakan secara terbuka. Saya bertanggung jawab kepada Presiden, katanya dengan tegas. Wataknya sebagai mantan anggota pasukan khusus mulai terlihat. Hadirin mulai terdiam.

Akhirnya rapat diadakan secara tertutup. Para wartawan yang berada di balkon diperintahkan keluar Karuan saja mereka kerepotan menggotong tripod dan memindahkannya ke dekat eskalator menuju lantai dua.

Lantai dua kini menjadi lahan konferensi pers. Belasan tripod mengarah ke titik Prabowo diperkirakan berdiri. Keadaan seperti siap perang, padahal rapat baru akan selesai pukul 16.30 WIB. Tiga jam lagi.

AYO BACA : Prabowo Ingin Libatkan Masyarakat dalam Pertahanan Indonesia

Mengapa Menhan ditunggu?

Bila ditinjau dari aspek berita, rapat Komisi I hanya menarik bagi kalangan tertentu, seperti pengamat, analis, diplomat, dan para pemasok alutsista, sedangkan masyarakat umum kurang peduli.

Wartawan paham. Yang benar-benar ditunggu justru Prabowo yang sudah tiga kali gagal dalam Pilpres. Kali ini tampil sebagai menteri di kubu lawannya. Tambahan lagi, ini rapat pertamanya dengan Komisi I.

Yang dicari pada Senin itu adalah ketokohan Prabowo. Kebaruannya tampil sebagai menteri sangat menarik pembaca media cetak, daring, maupun pemirsa televisi. Ada ketertarikan manusiawi yang menutupi ketidaktertarikan atas anggaran Hankam.

Selain itu, pada rapat terjadi silang pendapat hingga masyakat ingin mengetahui bagaimana seorang politisi berlatar belakang tentara menyikapinya. Bukankah konflik selalu menarik?

Benar saja, hasil rapat Komisi I dengan Menhan ini ditampilkan di berbagai media daring dan cetak. Juga di Facebook dan YouTube. Rentang waktu pemberitaan berlangsung lebih dari 24 jam, sejak rapat akan dimulai sampai keesokan harinya, Selasa (12/11/2019).

Seperti yang sudah diduga, materi pemberitaan standar saja. Yang menonjol adalah debat antara Menhan dengan Effendi Simbolon dan Adian Napitupulu, keduanya dari PDIP tentang status apakah sidang terbuka atau tertutup.

Satu lagi materi yang tak ada kaitan dengan anggaran tapi ramai diberitakan ialah sikap Menhan atas pencekalan Habib Rizieq.  

Titipan dari kantor, ujar seorang pewarta TV sambil tersenyum geli.

AYO BACA : Soal Pencekalan Rizieq Shihab, Prabowo: Saya Belum Dengar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar