Perayaan Maulid Nabi Bernuansa Sunda di Kabuyutan Gegerkalong

  Selasa, 12 November 2019      Netizen Sakinah Salma Zahirah
Aksi pencak silat anak-anak dalam perayaan Maulid Nabi Bernuansa Sunda di Kabuyutan Gegerkalong. (Foto: Sakinah Salma Zahirah)

Suara gemuruh tabuhan gendang diiringi senandung kecapi suling yang membawakan tembang Sunda menyeruak memenuhi lapangan kecil di tengah-tengah masyarakat RT 03/01, Kelurahan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Selasa (12/11/2019).

Dari kejauhan terlihat sekelompok anak kecil mengikuti setiap ketukan musik dengan tegas, menampilkan jurus pencak silat terbaiknya masing-masing.

Nuansa adat Sunda yang kental tidak menunjukkan perayaan Maulid Nabi pada umumnya, sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi warga Kabuyutan Gegerkalong. Kecintaan warga Kabuyutan Gegerkalong terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW melebur dalam tradisi lokal adat istiadat Sunda.

Kentalnya kebudayaan Sunda membuat warga Kabuyutan Gegerkalong menyebut perayaan Maulid Nabi dengan nama ‘Bagea Mulud’.

“Perayaan Bagea Mulud ini merupakan bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan cahaya petunjuk bagi umat manusia. Acara Bagea Mulud pun dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat yang terdiri dari tokoh-tokoh lintas agama seperti Buddha, Hindu, Kristen dan Penghayat, hingga cakupan internasional, yaitu mahasiswa dari luar negeri asal negara Mexico, Jepang dan Timur Tengah,” ujar Abah Yusuf, Pupuhu (sesepuh) Kabuyutan Gegerkalong.

Dalam rangka merayakan kebahagiaan, seni Pencak Silat ditampilkan secara non-stop selama kurang lebih 12 jam dari pukul 13.00 - 01.00 WIB.

Di sela-sela penampilan Pencak Silat, acara diselingi dengan ziarah kubur ke makam leluhur Gegerkalong yaitu Mama Muhammad Hasan Nur Ali. Sekitar pukul 15.20 WIB, warga Kabuyutan Gegerkalong melakukan napak tilas dari lapangan menuju makam dengan diiringi tabuhan musik Gembyung.

Menurut Abah Yusuf, tradisi ziarah dilakukan untuk menjaga tali paranti leluhur (silsilah leluhur) agar tidak terputus seiring berjalannya waktu.

Selain ditonjolkan pada kesenian yang ditampilkan, kebudayaan Sunda pun melebur dalam berbagai unsur, termasuk pada makanan yang disajikan. Seperti kue-kue tradisional, gulai juga tumpeng nasi kuning sebanyak 14 buah.

Banyaknya tumpeng merupakan simbol tersirat dari manusia yang dimuliakan oleh warga Kabuyutan Gegerkalong. Tumpeng yang paling besar merupakan representatif dari Baginda Nabi Muhammad SAW dan Fathimah Az-Zahra, puteri Rasulullah SAW, sedangkan 12 tumpeng yang berukuran lebih kecil melambangkan 12 Imam Mazhab Syi’ah dari Imam Ali hingga Imam Mahdi.

Acara Bagea Mulud dilanjutkan pada pukul 19.00 WIB hingga 01.00 WIB dengan agenda salawat, pemberian baju pangsi kepada mahasiswa luar negeri, pemberian ujung tumpeng kepada jawara silat, makan bersama dan penampilan seni pencak silat hingga penghujung acara.

"Perayaan Bagea Mulud 12 Maulid (Rabiul Awal) diharapkan dapat menjadi ruang dialogis bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya sekat pemisah, baik dari segi sosial maupun agama," ucap Abah Yusuf.

Setiap kegiatan Kabuyutan Gegerkalong, termasuk acara Bagea Mulud, memiliki semangat untuk mendukung empat pilar kebangsaan dengan menjunjung tinggi ke-Bhinekaan.

“Toleransi merupakan ujung tombak kerukunan antar umat, maka dari itu, warga Kabuyutan Gegerkalong berupaya untuk menanamkan nilai-nilai toleransi yang berasaskan Pancasila,” tutur Abah Yusuf.

Dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, pada pelaksanaan acara Bagea Mulud di bulan yang penuh berkah ini, diharapkan dapat memberikan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Mulus Rahayu, Berkah Salamet. Rampes.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI 2015

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar