Sadarkan Kontraktor dengan Safety Talk

  Selasa, 12 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen Salwa Nurfaiziya
Ilustrasi safety talk. (Pixabay/Michal Jarmoluk)

Safety talk adalah suatu cara komunikasi untuk mengingatkan pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi para pekerja, khususnya para pekerja konstruksi yang memiliki risiko kecelakaan cukup tinggi.

Berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan, sepanjang 2018 kecelakaan kerja mencapai angka 157.313, yang artinya lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 yaitu sebesar 123.000.

Tingkat kecelakaan di sektor industri mencapai 30% dan merupakan yang tertinggi dibanding sektor lainnya. Banyaknya penyebab kecelakaan di tempat kerja terjadi akibat sikap dari para pekerja yang kurang aman karena kurangnya informasi dan media komunikasi dalam penyampaian edukasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja tersebut.

Safety talk biasanya jadi tanggung jawab dari supervisor atau pengawas lapangan, biasanya mereka melakukan safety talk di pagi atau di hari senin setiap seminggu sekali, serta pada waktu lainnya yang bersifat fleksibel.

Mendengarkan seruan safety talk bagi para pekerja tentu rasanya memang membosankan karena materi serta bahasan yang disampaikan selalu saja sama, tetapi hal itu bukannya karena menganggap para pekerja tidak tahu, melainkan adalah suatu proses internalisasi yaitu pembentukan dalam budaya bagi para pekerja agar setiap melakukan pekerjaan di lapangan selalu memperhatikan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Safety talk sebagai pembinaan pada keselamatan kerja dipercaya mampu memberikan arahan bagi para pekerja dalam mencegah kecelakaan. Melihat kerugian yang mungkin terjadi dari kecerobohan pekerja dalam menjalankan K3, tentu tidak hanya kerugian dalam korban jiwa saja, melainkan materi serta tertundanya proses produksi dan bahkan juga berdampak ke masyarakat sekitar proyek konstruksi, maka himbauan safety talk ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dasar hukum pelaksanaan safety talk tercantum dalam Pasal 9(3) UU No 1 tahun 1970 yang menyatakan bahwa supervisor diwajibkan untuk menyediakan pembinaan bagi seluruh pekerja yang ada dibawah pimpinannya, pembinaan tersebut yaitu edukasi cara mencegah kecelakaan dan peningkatan dalam upaya melaksanakan K3 dengan baik, serta pembinaan dalam memberikan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Menurut Hinze dan Figone (1988) safety talk untuk supervisor lapangan dan semua pekerja di lapangan diharuskan agar bisa dilaksanakannya K3 dengan benar. Begitu juga Liska et al (1993) mengusulkan adanya safety meeting/safety talk.

Banyaknya kecelakaan yang terjadi karena pekerja yang masih baru dan belum familiar dengan alat dan proses kerja, tentunya safety talk diperlukan sebagai komunikasi supervisor dengan pekerja.

Aspek K3 memang seharusnya melekat dalam perencanaan atau pelaksanaan pekerjaan konstruksi, yang tentunya bisa dikomunikasikan disaat safety talk di pagi hari. Perhatian mengenai K3 ini tidak hanya sebuah kehati-hatian, tetapi juga tentang beberapa hal seperti penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di antaranya pelindung mata dan wajah (kacamata safety, helm pengelas, pelidung wajah khusus), pelindung kepala (helm), pelindung pendengaran (earplugs), pelindung kaki (sepatu but/sepatu khusus lainnya), pelindung tangan berupa sarung tangan (metal mesh, leather gloves, rubber gloves), pelindung bahaya jatuh dengan Full Body Hardness dan sebagainya.

Selain mengomunikasikan perihal APD, dalam safety talk juga tentunya diperlukan imbauan soal sarana peralatan lingkungan yang ada di lapangan seperti tabung pemadam kebakaran, pagar pengamanan, jaring pengamanan pada bangunan tinggi, serta perlu adanya peralatan P3K.

Selanjutnya yang tidak kalah penting untuk dikomunikasikan yaitu mengenai rambu peringatan, seperti rambu peringatan tersengat listrik, bahaya api, larangan memasuki area tertentu, serta peringatan untuk memakai alat pengaman kerja.

Sebagai pengenal dan pengingat segala jenis aturan K3 serta sebagai upaya agar kita selalu antisipasi dan lebih menyadarkan pekerja soal K3, maka safety talk sangatlah diperlukan agar aktivitas pekerjaan bisa berjalan sesuai aturan.

Karena pada dasarnya didalam safety talk tersebut mengandung rangkaian kata yang penuh makna dengan isinya yang mengingatkan tentang bagaimana kita bekerja dengan selamat, aman serta mampu bekerja sesuai dengan prosuder kerja yang telah ditentukan.

Komunikasi saat menyampaikan adanya potensi bahaya atau safety talk ini bisa dijadikan sarana komunikasi yang efektif agar bisa menyampaikan segala potensi bahaya yang ada di lapangan agar pekerja dapat lebih berhati–hati dalam menjalankan pekerjaannya.

Salwa Nurfaiziya

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar