Romantisme Reuni dan Nostalgia yang Sangat Penting

  Senin, 11 November 2019   Dadi Haryadi   Netizen Djoko Subinarto
Ilustrasi reuni. (istimewa)

BERUNTUNG kita punya masa silam sehingga memungkinkan kita sewaktu-waktu untuk membuat sebuah reuni demi menyusuri kembali lorong-lorong kenangan.

Perjalanan kehidupan kita tak bisa sama sekali dilepaskan dari masa-masa yang telah kita arungi. Diri kita menjadi bagian erat dari masa silam. Sebagian dari kita nyatanya selalu rindu untuk kembali, paling tidak untuk sejenak, ke masa-masa silam itu.

Reuni adalah ihktiar dan sekaligus sarana bagi kita untuk mengobati kerinduan kita terhadap sejumlah pengalaman yang kita lakoni di waktu-waktu yang telah lama berlalu, yang sejatinya tak mungkin bisa kita ulangi lagi -- sampai kapan pun.
Banyak dari kita mungkin menyesali mengapa sang waktu melesat demikian cepat. Rasa-rasanya baru saja kemarin kita merayakan pesta kelulusan sekolah bersama pacar dan kawan-kawan se-gank. Tak terasa, kini kita telah menua. Kerut di wajah mulai tampak, pun warna kelabu menghiasi rambut kita, sementara lingkar pingang mungkin saja semakin melebar.

Sebagian dari kita ingin ingin kembali memutar jarum waktu nun jauh ke belakang. Kita kangen masa belia. Kita kangen romantisme muda yang telah kita lewati. Untuk itulah kita kemudian membikin sebuah reuni. Di acara reuni itulah kita berupaya menyusuri lagi lorong-lorong kenangan -- entah itu kenangan yang pahit maupun yang manis -- yang pernah kita lalui bersama-sama kawan-kawan seperjuangan.

Tapi, reuni tidak selamanya melulu soal romantisme masa silam. Ingat, kita juga punya masa kiwari. Maka, reuni dapat pula menjadi sarana untuk menunjukkan siapa diri kita saat ini. Reuni bisa kita jadikan ajang pamer diri, bahkan ajang unjuk menunjukkan kekuasaan.

Pertanyaannya kemudian adalah: perlukah kita menghadiri sebuah reuni?

Reuni mungkin saja dibutuhkan untuk makin mempererat jalinan persahabatan dan persaudaran. Rajutan tali persahabatan maupun persaudaraan yang mungkin sempat terputus belasan bahkan puluhan tahun lamanya dapat kita rajut kembali lewat sebuah reuni.

Larry Waldman, psikolog dan penulis buku bertajuk “Coping with Your Adolescent,” (1994), menyebut setidaknya ada dua reuni yang sebaiknya kita hadiri.

Pertama, reuni setelah dua puluh tahun. Waldman menyebut ini adalah reuni yang terbaik untuk kita hadiri lantaran para peserta reuni umumnya datang dari beragam bidang kehidupan sehingga reuni cenderung tidak dangkal.
Kedua, reuni setelah 50 tahun, biasa disebut reuni “emas”. Menurut Waldman, ini adalah reuni terbaik kedua untuk kita hadiri, karena nostalgia itu sangat penting.

Kendati begitu, tak semua orang suka nostalgia. Marc Ribot, contohnya. Gitaris dan komposer asal Negeri Paman Sam itu pernah menyatakan bahwa dirinya benci nostalgia dan sama sekali tak ingin terkait dengannnya.

“I hate nostalgia, and I want nothing to do with it,” kata Ribot, yang pernah berkolaborasi dengan Tom Waits dan Elvis Costello ini.

Penulis: Djoko Subinarto alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya. 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar