Sunda dan Kearifan Tradisi Muludan

  Minggu, 10 November 2019   Netizen
Ilustrasi -- tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan menjadi salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Wacana Islam téh Sunda-Sunda téh Islam, merupakan sebuah simpulan yang memang berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu cara untuk menguji anggapan tersebut adalah dengan mengamati falsafah dan perilaku hidup masyarakat Sunda dalam melakoni ritus keseharian.

Keseharian hidup masyarakat Sunda selain berteman dengan alam, juga sebisa dapat sesuai dengan pelbagai norma-norma. Antara norma masyarakat, norma agama, dan norma negara berjalan berjalin-berkelindan. Kebiasaan itu paling tidak terangkum dalam kearifan bernama peribahasa.

Peribahasa indung hukum bapa darigama atau tunduk pada aturan negara dan agama atau élmu tungtut dunya siar alias anjuran menuntut ilmu untuk mengelola dunia merupakan contoh keseimbangan hidup yang diwariskan para karuhun.

Karuhun atau leluhur Sunda dalam menciptakan dan mewariskan kearifan, sejatinya untuk kebaikan kehidupan masyarakat di dunia dan di akhirat. Salah satu upayanya dengan cara mengagungkan waktu.

Waktu bagi masyarakat Sunda memang mendapat tempat yang amat terhormat. Bukankah perjalanan sebuah peradaban dirunut berdasarkan waktu? Dari waktu ke waktu rangkaian sejarah bisa ditelusuri. Merunut kepada waktu aneka rupa kejadian dapat direkam.  

Rekaman pentingya waktu bukan melulu milik Sunda, bahkan Allah Swt pun mengabadikan waktu dalam salah satu firman-Nya. Demi waktu...begitu kalimat pembuka dalam surat Al 'Ashr.

Oleh karenanya, masyarakat Sunda sebisa dapat selalu mengagungkan rentetan waktu. Selain bersifat harian dan mingguan, juga dalam setiap bulannya kerap melaksanakan ritual budaya yang berlandaskan keagamaan. Di antaranya ritual rajaban, rebokasan, munggahan, dan muludan atau marhabaan. Khusus menghadapi bulan Maulid (Rabiulawal), Sunda menghadapinya dengan pelbagai cara.

Cara Sunda mengagungkan bulan Maulid tak lain berkait erat dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Untuk memperingati, mengagungkan, serta meneladani gerak, langkah, ucapan, tindakan, dan peninggalan Nabi Muhammad Saw lainnya, masyarakat Sunda mengandalkan muludan.

Muludan atau ritual menganggungkan kelahiran Nabi hampir semua masyarakat di Tatar Sunda melakukannya. Di Kel. Nanggéwér, Kec. Cibinong Kab. Bogor, misalnya, masyarakat di kelurahan yang wilayahnya berdekatan dengan Jakarta itu, dari baheula hingga ayeuna selalu memperingati kelahiran Nabi dengan cara bersama-sama menggelar  pembacaan riwayat Nabi Muhammad Saw dengan membaca dan mendengar kitab Maulid Syaraful Anam, Maulid Barzanji, atau Maulid Ad-Diba’i.

Ad-Diba’i tuntas dilantunkan, lantas diteruskan dengan ceramah keagamaan. Dalam rangkaian muludan pula, setiap rumah tangga mengirimkan makanan ringan dan berat. Masyarakat Nanggéwér menamankannya dengan sebutan ambeng. Ambeng itu dibagikan setelah prosesi muludan selesai. Maka, sepulang muludan selain mendapat siraman rohani dari ustad atai kiai, yang mengikuti jalannya muludan juga menenteng ambeng atau berekat untuk dipurak (dimakan) di rumah bersama keluarga tercinta. Orang yang terlampu banyak makan dan tamak kerap disebut kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran alias aji mumpung tea.

Tiga Pelajaran

Dari contoh singkat tradisi muludan di atas, setidaknya dapat ditarik tiga pelajaran. Pertama, dengan melaksanakan tradisi muludan kita dituntut untuk selalu menghormati dan mengikuti jejak Nabi. Sebab, perjuangan hidup Nabi Muhammad Saw. sejak lahir hingga meninggal dunia adalah suri tauladan terbaik untuk dijadikan pedoman dalam melakoni kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Dengan mengagungkan Nabi, kita juga dituntut untuk terus becermin menilik diri. Apakah laku hidup yang kita jalani sekarang telah sesuai dengan Nabi Muhammad Saw?

Kedua, tradisi muludan merupakan salah satu cara guna memakmurkan fungsi masjid dan sarana syiar Islam. Sebab, akhir-akhir ini masjid umumnya hanya ramai kala sembahyang Jumat saja.Karena dalam momen muludan banyak jamaah yang hadir, dakwah agama yang diberikan para kiai, atau ustad lebih terasa efektif dan efesien.   

Ketiga, berlangsungnya tradisi muludan adalah waktu yang tepat dalam mempererat tali silaturahim. Dalam zaman yang serba cepat dan super sibuk, kumpul-ngariung di antara warga masyarakat adalah sesuatu yang mahal. Oleh karena itu, muludan adalah sebuah jawaban yang cukup menyejukan agar kita selalu ingat pada saudara dan tetangga.

Sebab, jika kita tidak akur dengan saudara dan tetangga, dapat dipastikan akan dikucilkan dalam pergaulan keseharian. Peribahasa Sunda mengatakan jelema teu asup ka Rewah-Mulud alias orang yang tidak diakui di lingkungannya, bahkan dalam pelbagai kegiatan masyarakat lainnya pun jelema teu asup ka Rewah-Mulud tidak akan mendapat undangan atau ajakan.

Tradisi Ngamuludkeun

Masih berkait dengan tradisi muludan di bulan Maulid, masyarakat Sunda mengenal tradisi ngamuludkeun. Tradis ngamuludkeun adalah ritual mencuci benda dan senjata pusaka. Benda dan senjata pusaka yang dicuci atau disucikan itu sebelumnya tersimpan rapi di museum, kabuyutan, atau tempat-tempat yang dianggap keramat.

Di pelbagai tempat istilah ngamuludkeun berbeda-beda, meskipun esensinnya tetap sama. Di Cirebon dikenal dengan ritual Pajang Jimat, di Majalengka dikenal tradisi nyipuh, di Ciamis terkenal dengan ritual Nyangku.

Seperti keterangan para kuncén atau juru kunci, ajengan, atau Sesepuh Lembur, tradisi mencuci benda dan senjata pusaka bukan dimaksudkan migusti (menuhankan) tetapi bagian dari upaya mupusti (memelihara) tradisi.

Dipilihnya bulan Maulid dalam mencuci benda dan senjata pusaka sebab di bulan itu masyarakat Sunda (Islam) amat mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Atas dasar itu, bulan Maulid dianggap memiliki berkah untuk mengadakan pelbagai kegiatan, termasuk ritus budaya Sunda.

Melalui peringatan maulid Nabi kita bisa meraih keteladanan hidup untuk  kebaikan bersama. Dengan mengagungkan kelahiran Nabi, antara budaya dan agama ternyata bisa berkerja bersama.

(Djasepudin, Guru SMA Negeri 1 Cibinong, Kabupaten Bogor )

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar