Pemimpin Rasa Pahlawan

  Minggu, 10 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi - Presiden Joko Widodo memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional 2018 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung, Sabtu (10/11/2018). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Terdapat sejumlah kriteria yang disodorkan oleh para ahli terkait dengan apa yang secara ideal harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Salah satu contohnya yaitu kriteria pemimpin yang diajukan oleh Daniel Goleman (1998).

Menurutnya, seorang pemimpin itu harus memiliki visi, mampu mendidik, mengedepankan keharmonisan dan kerja sama, mampu menghargai pendapat orang lain, mampu memberikan contoh dan tindakan serta tegas dan berani dalam mengambil setiap risiko. Goleman berpendapat, pemimpin ideal adalah seseorang yang mampu menerapkan semua hal tersebut di atas sesuai dengan kebutuhan secara benar dan tepat.

Sementara itu, Raymond Cattell (1954) menyebutkan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang harus memiliki antara lain kestabilan emosi, antusiasme, ngotot, tegas, dewasa, mampu bekerjasama, memiliki intuisi, memiliki empati dan mempunyai kharisma.

Adapun Bill Murphy (2014) menegaskan bahwa salah satu syarat penting untuk menjadi seorang pemimpin adalah memiliki jiwa kepahlawanan atau heroisme. Menurut Bill Murphy, terdapat sedikitnya lima karakter yang senantiasa lekat dengan jiwa kepahlawanan, yang sebaiknya dimiliki oleh setiap pemimpin dan calon pemimpin. Apa saja?

Pertama, keberanian. Kisah-kisah kepahlawanan, di mana pun, baik itu yang sifatnya fiksi maupun yang benar-benar nyata, selalu tidak pernah lepas dari aspek keberanian. Imaji pahlawan identik dengan orang-orang pemberani. Maka, para pemimpin haruslah orang-orang pemberani. Misalnya, berani dalam hal memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan berbagai risikonya. Berani dalam membela yang benar, bukan membela yang bayar.

Kedua, mengesampingkan kepentingan pribadi. Para pahlawan adalah orang-orang yang tidak pernah menempatkan kepentingan pribadi sebagai prioritas kehidupan mereka. Bagi para pahlawan, kepentingan masyarakat, kepentingan bangsa dan negara adalah hal yang jauh lebih krusial untuk diperjuangkan. Pahlawan selalu memikirkan yang di luar diri mereka. Dan bukan memikirkan yang di dalam diri mereka.

Ketiga, kerendah-hatian. Pahlawan sejati tidak pernah menepuk dada sembari berkoar-koar menyanjung diri mereka dan mengungkit-ungkit jasa yang telah mereka perbuat. Mereka benar-benar tulus ikhlas, tanpa pamrih, melakukan apa yang harus mereka lakukan. Bahkan, bila perlu, tidak ada seorang pun yang harus tahu ihwal apa yang telah mereka perjuangkan dan lakukan.

Keempat, kesabaran. Perjuangan selalu menuntut kesabaran. Perlu waktu yang tidak pendek. Cita-cita apa pun tidak akan pernah datang secara instan. Pahlawan adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dalam memperjuangkan cita-cita luhur mereka hingga titik darah penghabisan.

Kelima, penuh perhatian. Para pahlawan selalu ingin melihat meningkatnya kualitas kehidupan orang-orang dan lingkungan di sekelilingnya. Karenanya, mereka senantiasa pula mencurahkan perhatian kepada orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Mereka selalu tergerak untuk berbuat menjadikan kualitas kehidupan orang lain dan lingkungannya menjadi semakin baik.

Kita akan sangat beruntung apabila memiliki pemimpin yang miliki jiwa kepahlawanan, di samping juga mempunyai visi, mampu mendidik, mengedepankan keharmonisan dan kerja sama, mampu menghargai pendapat orang lain, mampu memberikan contoh, tegas, senantiasa siap menghadapi setiap risiko, memiliki kestabilan emosi, antusiasme, ngotot, dewasa, memiliki intuisi, memiliki empati serta memunyai kharisma.

Penulis: Djoko Subinarto alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya. 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar