Komitmen Literasi Kader NA

  Kamis, 07 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi. (Pixabay/Nino Carè)

Hari ini (7/11/2019) di tengah rangkaian kegiatan Tanwir Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Palembang, diselingi kegiatan yang inspiratif berupa dialog literasi, Presiden Literasi Muhammadiyah Cak David (David Efendi) tampil menjadi salah satu narasumber.

Kegiatan literasi bukan hal baru bagi Muhammadiyah, termasuk angkatan mudanya. Namun, jika dialog literasi menjadi salah satu agenda rangkaian level nasional seperti Tanwir, menjadi luar biasa. Kegiatan ini mengisyaratkan tingkat keseriusan NA dalam dunia literasi.

Membawa kegiatan literasi di kegiatan resmi seperti Tanwir tentu tidak mudah. Kemungkinan ada dua isyarat dari kegiatan ini. Pertama, meningkatnya kesadaran kader NA di akar rumput akan literasi. PP NA mencoba mengakomodasi kesadaran yang masif ini dan dikristalisasi lewat kegiatan itu. Kedua, kegiatan ini menjadi momentum untuk memaksimalkan lagi gerakan literasi ke depannya.

Secara mandiri, kegiatan-kegiatan literasi sudah berjalan di berbagai pelosok di tanah air. Baik menyebutkan identitas persyarikatan ataupun tidak, gerakan itu sudah riil terjadi. Bahkan justru kebanyakan dari kegiatan literasi ini menggunakan simbol lain dengan komunitasnya masing-masing. Salah satu tujuannya agar tidak ekslusif sehingga bisa menjangkau masyarakat secara umum.

AYO BACA : Dorong Inklusi Keuangan, bank bjb Hadirkan Festival Literasi Keuangan

Kesadaran itu menyimpan harapan akan semakin bangkitnya tingkat melek huruf masyarakat seperti yang dikampanyekan KH. Ahmad Dahlan sejak awal. Kenapa tidak, sebagai bentuk perjuangan nyata Muhammadiyah di bidang literasi atau yang lebih spesifik di bidang kepustakaan dan karya tulis, pendiri Muhammadiyah ini sudah menetapkan Pustaka sebagai salah satu dari empat Bahagian yang didirikan sejak awal.

Bahagian Pustaka telah meletakkan pondasi bagi lahirnya gerakan literasi di kalangan Muhammadiyah di luar institusi kendidikan formalnya. Jika di sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memiliki perpustakaannya masing-masing dan mewah-mewah, tetapi posisinya lebih eksklusif. Masyarakat umum belum tentu mau datang ke perpustakaan seperti itu.

Sedangkan untuk menjangkau masyarakat di luar lembaga pendidikan formal dibutuhkan gerakan kepustakaan yang lebih egaliter, terbuka, dan bersifat sosial. Dalam konteks ini sebenarnya Taman Pustaka Muhammadiyah terus dipush agar tumbuh dan berkembang di lokasi-lokasi yang jarang terjamah peradaban sekalipun.

Sedangkan aspek kepenulisan, merupakan tema penting lainnya dalam gerakan literasi. Tidak ada kegiatan membaca jika tidak ada yang menulis. Tetapi juga tidak akan bisa menulis jika orang tidak membaca. Agar produk tulisannya bergizi maka si penulis harus rajin bahkan keranjingan membaca.

AYO BACA : Literasi Membaca Lewat Sepakbola

Sebagaimana menjadi prinsip gerakan Muhammadiyah yang rahmatan lil alamin, setiap sumbangan amalnya diperuntukkan bagi segenap manusia, apapun agama, budaya, ormas, dan suku bangsanya. Gerakan literasi Muhammadiyah melampaui keimanan, kelompok, usia, dan apapun sekatnya. Baik mereka yang ada di kutub Cebong maupun di kutub Kampret, semua akan terlayani dengan gerakan literasi Muhammadiyah.

Karenanya gerakan literasi mengangkangi sekat-sekat politik. Siapapun mereka, semuanya bisa bergabung membangun peradaban anak bangsa lewat kampanye huruf, menyusun buku, menata kata, melahirkan karya, hingga kampanye sosial.

Muara dari gerakan literasi ini adalah peradaban berkemajuan. Membangun masyarakat maju tidak bisa tanpa kata. Negara-negara yang hebat salah satu indikatornya adalah jumlah penerbitan buku, tingkat minat baca, hingga kegairahan melahirkan karya.

Gerakan literasi menjadi penentu dari keberadaban sebuah bangsa. Bahkan dalam konteks ini pula sebenarnya warga Muhammadiyah penting membangun tradisi literasi. Sebab kegiatan amal usaha yang begitu sibuk, akan sangat hampa dan tidak bermakna jika tidak dijiwai oleh ruh keilmuan. Gerakan praksis sosial tidak ada apa-apanya jika tidak memiliki pijakan cara berfikir yang dalam. Dan manusia tidak akan bisa berpikir jika tidak terbiasa berdialektika dengan referensi.

Sepertinya, NA ingin merebut sejarah. Dengan memformalisasi kegiatan literasi di forum nasional, artinya NA akan menjadikan gerakan ini sebagai program unggulan. Di tengah arus gelombang politik yang selalu menenggelamkan kader-kader muda sehingga hanyut tidak berbekas, NA sepertinya ingin berkontribusi untuk menyelamatkan sahabat-sahabat seperjuangannya itu. Ini penting agar kader-kader Muhammadiyah tetap fokus pada kiprah persyarikatan dengan idiologi dan garis perjuangannya yang lurus. Teriring do'a semoga sukses dan diberkati Allah SWT.

Roni Tabroni, Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP muhammadiyah.

AYO BACA : Obati Kecanduan Gawai pada Anak dengan Budaya Literasi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar