39 Mayat Ditemukan dalam Truk di Inggris, Diduga Warga Negara Cina

  Jumat, 25 Oktober 2019   Fira Nursyabani
Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara di sekitar lokasi ditemukannya mayat manusia di sebuah truk kontainer di Grays, Essex, Inggris, Rabu (23/10/2019). (ANTARA FOTO/REUTERS/Hannah McKay)

LONDON, AYOBANDUNG.COM -- Sebanyak 39 mayat ditemukan di dalam sebuah truk peti kemas di dekat London, pada Rabu (23/10/2019). Puluhan jasad itu diyakini adalah warga negara Cina.

Polisi Inggris diberi waktu lebih banyak untuk menginterogasi sopir yang ditahan atas dugaan pembunuhan. Penyelidikan polisi di Inggris atas kasus tersebut berfokus pada perdagangan manusia.

Petugas menggeledah tiga properti di daerah County Armagh di Irlandia Utara. Sopir itu belum teridentifikasi secara resmi, namun sumber yang mengetahui penyelidikan itu menyebutkan ia bernama Mo Robinson dari Kota Portadown.

AYO BACA : Warga Negara Cina Jadi Korban Tewas Ledakan Pipa Pertamina

Tim medis dan polisi pada Rabu (24/10/2019) menemukan 31 jasad pria dan delapan jasad perempuan di sebuah truk kontainer di kawasan industri Grays di Essex, sekitar 30 km timur London.

Selama bertahun-tahun para migran ilegal berupaya untuk tiba di Inggris dengan menggunakan truk, terkadang dari daratan Eropa. Pada 2000 sebanyak 58 warga negara Cina ditemukan tak bernyawa di sebuah truk tomat di pelabuhan Dover.

"Kami membaca dengan berat hati sejumlah laporan soal kematian 39 orang di Essex," kata Kedutaan Besar China melalui pernyataan.

AYO BACA : Industri di Cina Banyak Relokasi, Jabar Proaktif Cari Celah

Polisi diberikan izin oleh hakim untuk dapat menahan lebih lama sopir berusia 25 tahun itu hingga Kamis (24/10/2019).

Badan Kriminal Nasional, yang menargetkan kejahatan serius dan terorganisir, mengatakan pihaknya sedang membantu penyelidikan dan berupaya untuk mengungkap segera setiap geng yang terlibat.

Juru bicara nasional Kepolisian Inggris urusan perdagangan manusia, Shaun Sawyer, melaporkan ribuan orang berupaya masuk ke Inggris secara ilegal. Sementara mereka dapat menyelamatkan banyak orang yang diselundupkan, Inggris dianggap kejahatan terorganisir sebagai potensi sasaran mudah bagi pelaku perdagangan manusia.

"Anda tidak dapat mengubah Inggris menjadi kubu pertahanan. Kami harus menerima bahwa kami memiliki perbatasan yang mempunyai celah," katanya kepada radio BBC.

AYO BACA : Presiden Cina Xi Jinping Tugaskan Wapresnya Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar