Sudahkah Bangga Berbahasa Indonesia?

  Selasa, 22 Oktober 2019   Dadi Haryadi   Netizen
Bendera Indonesia. (istimewa)

Masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami “transisi” bahasa. Hari ini, Bahasa asing sudah semakin masuk ke kehidupan masyarakat dan mulai menggantikan peran bahasa Indonesia. Segala kalangan masyarakat kini sudah banyak yang menggunakan bahasa asing dalam kosakata sehari-harinya. Tanpa disadari, penggunaan bahasa asing tersebut terkadang melebihi porsi penggunaan bahasa Indonesia di kesehariannya.

Tren penggunaan bahasa asing yang berlebihan merupakan salah satu dampak dari istilah westernisasi budaya. Dalam istilah tersebut, kebudayaan dari negara barat atau negara maju masuk dan diadopsi masyarakat di negara-negara berkembang. Salah satu yang seringkali diadopsi ialah bahasanya yang mayoritas berbahasa inggris. Westernisasi pun seringkali mendominasi serhingga tak jarang budaya asli negara berkembang tersebut perlahan-lahan mulai pudar ekistensinya.

Dominasi budaya bahasa asing tersebut dibantu perkembangan teknologi yang semakin pesat. Keberadaan Internet tentu telah membantu para kaum yang terpapar westernisasi untuk memuaskan kebutuhan “berbudaya” nya. Kini, semua orang dapat dengan mudah mengakses konten berbahasa inggris, atau sekedar belajar bahasa inggris lewat internet. Dengan modal gawai dan sentuhan di layar ponsel, paparan bahasa inggris di masyarakat pun akan semakin mudah dilakukan.

Salah satu bentuk paparan yang paling jelas dan mudah terasa ialah lewat media sosial. Konten-konten yang ada di media sosial telah membantu dan melatih kita untuk berkosakata bahasa Inggris. Seringkali kita temui para warganet yang fasih berbahasa inggris, baik itu berasal dari dalam maupun luar negeri. Hanya dengan mengamati kefasihannya saja, kita jadi bisa tergerak untuk ikut dan bisa menjadi seperti dirinya. Hal itulah yang perlahan membuat tren penggunaan bahasa inggris di media sosial semakin merajalela.

Tak hanya melalui media sosial, media massa pun juga memiliki andil dalam arus tren berbahasa asing masyarakat Indonesia. Lihat saja bagaimana Televisi masa kini menyajikan berbagai konten yang kental dengan unsur bahasa inggris. Berbagai konten seperti talkshow, sinetron, acara musik dan acara komedi pun turun serta menggunakan dan menyelipkan bahasa inggris dalam percakapan mereka.

Penggunaan istilah asing di media sosial dapat membuat masyarakat lupa atau tak memahami kosakata bahasa sendiri. Ironisnya, pers dan jurnalistik yang seharusnya berkontribusi dalam pengembangan bahasa Indonesia justru malah berkontribusi terhadap “kemiskinan” kosakata masyarakatnya. Padahal, apabila media massa tersebut menggunakan kosakata bahasa indonesia dalam istilah yang lebih populer dalam bahasa inggris, hal itu akan mendidik masyarakat. Mereka yang belum mengetahui kosakata bahasa Indonesia dari istilah berbahasa inggris tersebut akan diperkaya kosakata bahasa Indonesianya.

Tren berbahasa asing itu semakin marak lewat banyak pengadopsian budaya-budaya barat di Indonesia. Berbagai budaya seperti industri film dan musik barat ialah salah satunya. Saat ini, film dan musik barat semakin gencar dipublikasikan berbagai media.  Bahkan, tak jarang posinya melebihi porsi karya bangsa sendiri yang berbahasa Indonesia, sehingga membuat masyarakat Indonesia menjadi terbiasa mendengarkan atau menikmati bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Hal ini mulai membuat masyarkata mengkorelasikan aktivitas penggunaan bahasa inggris sebagai sesuatu yang keren. Saking dianggap kerennya, kini sudah semakin banyak masyarakat Indonesia yang memilih bercakap menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, atau sekedar mencapurkan kedua bahasa itu baik itu di media sosial maupun dengan teman sebaya. Bahkan, tak jarang pula anak kecil yang dididik berbahasa Inggris sejak kecil oleh orang tuanya jadi lebih fasih berbahasa inggris atau tidak dapat berbahasa Indonesia sama sekali.

Bangga Berbahasa Indonesia

Tren berbahasa asing menimbulkan kebanggaan tersendiri di masyarakat bahwa ia telah berhasil masuk dalam arus budaya yang dianggap “keren”. Kebanggaan tersebut pun seringkali melebihi kebanggannya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Akan tetapi, haruskah hal itu dilakukan? Bukannya para pejuang dulu sudah susah payah memperjuangkan bahasa Indonesia agar kita bisa terbebas dari “penjajahan” tersebut?

Menelisik dari perjalanan sejarahnya yang tak mudah dan berlika-liku, seharusnya kita menghargai perjuangan para pejuang bangsa tersebut. Salah satu caranya ialah dengan bangga menggunakan bahasa sendiri. Bagaimana tidak, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang unik dan menarik karena telah banyak berevolusi dari masa ke masa, mulai dari bahasanya yang kental dengan bahasa melayu, edjaan tempoe doloe, hingga bahasa Indonesia modern yang kita kenal sekarang.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa di dunia yang memiliki kata serapan terbanyak. Kosakata bahasa kita menyerap banyak kata yang berasal dari bahasa asing, yani Belanda (Serapan terbanyak; sebanyak 3.280 kata), serta bahasa Inggris, Arab, Sansekerta,Tionghoa, Portugis, Tamil, Parsi dan Hindi. Adapun Bahasa Indonesia juga banyak menyerap bahasa daerah yakni Bahasa Jawa (Serapan terbanyak; sebanyak 1109 kata) serta bahasa Mingangkabau, Sunda, Madura, Bali, Aceh dan Banjar.

Apabila bahasa Inggris dirasa keren, maka berbahasa Indonesia juga bisa demikian. Selama ini, mayoritas masyarakat hanya mengetahui penggunaan kosakata yang dominan digunakan, sehingga terkesan bukan merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan. Padahal, kosakata bahasa Indonesia yang terdapat dalam KBBI masih banyak yang jarang diketahui orang, yang sehingga bila digunakan akan memunculkan rasa kebanggaan tersendiri pada orang tersebut. Kata tersebut antara lain “Langau” yang berarti suara yang kuat dan “Berandang” yang berarti “tampak dengan jelas”.

Selain itu, saat ini bahasa Indonesia juga sudah semakin mendunia. Bahasa Indonesia menduduki peringkat 3 di Asia dan peringkat ke-26 di dunia dalam tata bahasa terumit di dunia. Kepopulerannya pun sudah semakin dikenal dunia, seperti menjadi bahasa peringkat 26 dalam wikipedia berbahasa asing dan peringkat ke-3 dalam postingan di blog wordrpess. Bahkan tak hanya itu, kini sudah banyak negara yang menggunakan bahasa Indonesia dalam studi akademiknya, seperti Kanada, Jepang, Vietnam, dan Australia yang sudah mewajibkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam 500 sekolah dasarnya.

Indah Evania Putri
Mahasiswa Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar