Batu Karang Dunia “Persusuan” Indonesia

  Selasa, 22 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi -- Pekerja memberi pakan pada sapi di tempat penjualan hewan kurban di kawasan Pasirkoja, Kota Bandung, Sabtu (3/7/2019). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

 “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Siapa yang tak kenal pribahasa ini? Pribahasa yang bermakna karena kesalahan sedikit, rusak pula seluruh kebaikan di dalamnya ini sudah lama dikenal dari dulu. Namun, kenapa susu digunakan sebagai simbol kebaikan di sini? Memangnya ada apa sih dibalik susu?

Susu merupakan hasil produksi sapi yang sudah dikonsumsi manusia sejak 100 abad lalu. Diperkirakan susu mulai dikenal di Eropa sejak 5000 tahun sebelum masehi dan mulai membawa sapi untuk dipelihara pada abad ke-15. Penjajahan yang dilakukan Belanda menjadi penyebab susu mulai dikenal serta dikonsumsi di Indonesia.

Saat ini, susu dikonsumsi secara rutin. Mengkonsumsi susu tidak hanya dengan cara diminum, bisa juga dengan berbagai produk olahan susu, seperti keju dan yoghurt. Kandungan gizi dalam susu sangat tinggi. Karena di dalamnya terdapat kalsium, magnesium, zat besi, potasium, dan sebagainya.

Permasalahan Susu di Indonesia

Akan tetapi, produksi susu di Indonesia masih sangatlah rendah. Produksi susu segar di Indonesia sendiri pada tahun 2018 tercatat sebesar 909.638 ton. Jumlah ini menurun 0.02 persen dibanding tahun 2017 yang mencapai 928.108 ton. Angka ini sangatlah jauh dari kebutuhan konsumsi susu di Indonesia mencapai 3.8 juta ton pertahun.

AYO BACA : Bayi yang Minum Kopi Dapat Bantuan Susu Formula, Dinkes Dikritik

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susu tersebut, maka pemerintah bergantung pada impor. Sebanyak 80% kebutuhan susu nasional didapat dari hasil impor. Tentunya hal ini menjadi ironi tersendiri karena dunia persusuan nasional pernah mengalami masa kejayaan. Pada tahun 1990-an produksi susu dapat memenuhi 41 persen kebutuhan nasional. Akan tetapi, angka tersebut senantiasa menurun tiap tahunnya.

Penyebab rendahnya produksi susu di Indonesia disebabkan rendahnya produktivitas susu sapi segar. Rata-rata seekor sapi hanya bisa memproduksi sekitar 10 liter per hari. Padahal idealnya seekor sapi bisa menghasilkan 15-20 liter per harinya. Adapun jumlah sapi perah yang tercatat di Indonesia pada tahun 2018 saja hanya sebanyak 550.141 ekor. Jumlah yang sangat sedikit mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta.

Rendahnya produktivitas tersebut terjadi dikarenakan berbagai faktor, di antaranya para peternak yang masih berusaha dengan skala kecil. Rata-rata seorang peternak kecil hanya memiliki sebanyak 2-3 ekor sapi perah saja. Bandingkan dengan Selandia Baru maupun Australia.

Rata-rata seorang peternak bisa memiliki antara 50-60 sapi siap perah. Faktor lainnya yang menyebabkan rendahnya produksi susu di Indonesia adalah pola pengelolaan yang masih tradisional, yang masih memerah dengan cara manual. Masalah lain adalah ketersediaan pangan berkualitas yang minim.

Hal ini menjadi dilema bagi pemerintah yang saat ini sedang menggalakkan gerakan minum susu. Seperti yang diketahui, rata-rata konsumsi susu di Indonesia merupakan yang terendah di kawasan ASEAN, yakni sebanyak 12 liter/kapita/tahun menurut data BPS pada tahun 2017. Jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan data USDA Foreign Agricultural Service 2016 Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter) dan Filipina (22,1 liter).

AYO BACA : Cara Menggunakan Susu untuk Perawatan Wajah

Rendahnya konsumsi susu tentunya memiliki dampak negatif, terutama pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Anak-anak yang kurang asupan susu bisa mengalami stunting dibanding anak lain yang seusianya. Fenomena stunting pun dapat terjadi pada ibu hamil yang enggan meminum susu. Karena ibu hamil membutuhkan kalsium dalam rangka pembentukan tulang janin di rahim.

Upaya pemerintah dalam mengembangkan industri susu.

Oleh karena itu, sejalan dengan target swasembada susu pada tahun 2025, pemerintah perlu untuk mengembangkan industri susu di Indonesia. Salah satu kebijakan yang dilakukan yaitu menerbitkan Permentan No.26 Tahun 2017 tentang penyediaan dan pengedaran susu yang diubah menjadi Permentan No.30 Tahun 2018 dan Permentan No 33 Tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pembelian susu.

Akan tetapi, perubahan ini justru berdampak negatif bagi para peternak dikarenakan peternak tidak mendapat kepastian pasar sehingga harga susu kian melemah. Hal tersebut terjadi karena standar tinggi yang diberlakukan namun penyediaan bantuan pendukung seperti pengadaan infrastruktur serta fasilitas yang masih minim.

Oleh karena itu, pemerintah dirasa perlu untuk memberikan kebijakan insentif bagi peternak susu agar mampu menaikkan angka produktivitas serta kualitas susu segar yang dihasilkan demi bersaing dengan produk susu impor. Kebijakan insentif yang dilakukan antara lain dengan cara memberikan pelatihan dan penyuluhan akan pentingnya menjaga kualitas susu sapi segar, lalu penyediaan sarana dan pra-sarana yang mendukung. Serta pengembangan industri pengolahan susu agar tercipta perluasan pasar produk produk hasil olahan susu.

Amran Pratama, Mahasiswa Politeknik Statistika STIS

AYO BACA : Cara Memilih Makanan Aman untuk Anak Kucing

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar