Sumpah Pemuda dan Persatuan Bangsa

  Selasa, 22 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi Sumpah Pemuda. (Ayobandung.com)

Bulan Oktober pada masa pra-kemerdekaan Indonesia memiliki catatan sejarah tersendiri. Karena pada bulan Oktober, tepatnya tanggal 28 berlangsung sebuah peristiwa yang menjadi simbol persatuan bangsa. Peristiwa itu dikenal dan dikenang sebagai peristiwa sumpah pemuda.

Sumpah pemuda merupakan ikrar pemuda-pemudi Indonesia di seluruh nusantara yang mengaku bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Sumpah pemuda itu sendiri sejatinya merupakan hasil dari Kongres Pemuda  kedua yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928.

Terjadinya Kongres Pemuda diprakarsai oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). PPPI sendiri beranggotakan para pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin dan dibacakan oleh Soenario pada akhir kongres. Pada saat yang sama pula, lagu Indonesia Raya karya WR. Supratman pertama kali diperdengarkan dan disahkan menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Hampir satu abad berlalu setelah peristiwa Sumpah Pemuda tersebut. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak hal (peristiwa) yang menggeroti kedaulatan bangsa. Belanda yang tidak rela kehilangan Indonesia melakukan agresi dan berbagai perundingan internasional agar Indonesia tetap menjadi tanah jajahannya, hingga pemberontakan-pemberontakan dalam negeri seperti pemberontakan DI/TII, RMS (Republik Maluku Selatan), GAM (Gerakan Aceh Merdeka), OPM (Organisasi Papua Merdeka), dan berbagai gerakan separatis lainnya. Benar sudah dikatakan bahwa mempertahankan lebih sulit dibandingkan merebut.

Faktor ekonomi dan ketimpangan sosial adalah hal mendasar yang hampir selalu menjadi latar belakang berbagai gerakan separatis. Selain itu, pada masa orde baru dimana pembangunan dilakukan secara sentralisasi menimbulkan rasa tidak adil terhadap daerah. Hasil sumber daya daerah semuanya diserahkan ke pusat dan tidak dikelola sendiri oleh daerah.

Padahal daerah merasa bahwa hasil pembangunan mereka seharusnya dapat dikelola sendiri oleh mereka. Proses pembangunan pun haruslah ditentukan oleh pemerintah daerah sebagai pihak yang paling tau kondisi daerah. Hal inilah yang mendasari terjadinya perubahan dari sistem pembangunan sentralisasi ke sistem desentralisasi (otonomi daerah).

AYO BACA : Bahasa Kesatuan atau Bahasa Kekinian?

Namun, benih-benih perpecahan antardaerah tidak hanya dapat diatasi dengan perbaikan ekonomi dan otonomi daerah. Karena pada beberapa gerakan separatis, keinginan untuk merdeka dari Indonesia karena perbedaan ideologi. Seperti Gerakan DI/TII yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam.

Berbagai gerakan separatis tersebut dalam pandangan presiden Sukarno merupakan pengkhianatan terhadap kemerdekaan Indonesia.

“Presiden Sukarno mengatakan dengan tegas bahwa kalau dia seperti Ahmad Husein, Simbolon, Somba dan Warouw dia akan merebahkan diri di dalam hutan dan minta ampun kepada Allah swt karena telah mendurhakai kemerdekaan bangsa dan mendurhakai Sumpah Pemuda” tulis Foulcher dalam buku Sumpah Pemuda, Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan.

Persatuan dan kesatuan bangsa adalah faktor kunci dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itulah juga yang menjadi faktor utama dalam usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan pada awal kemerdekaan.

Menghadapi perpecahan bangsa saat ini, harusnya generasi muda Indonesia jangan terpengaruh pada berbagai berita hoaks yang berbau perpecahan. Generasi muda harus lebih banyak belajar sejarah bahwa kemerdekaan bangsa tidak hanya karena perjuangan satu atau dua golongan saja. Melainkan persatuan dan kesatuan dari seluruh pemuda-pemudi Indonesia.

Mengakhiri tulisan ini, dikutip pidato Presiden Sukarno menyangkut sumpah pemuda. “Hikmah yang dapat kita petik dalam memperingati Sumpah Pemuda adalah bahwa dalam keadaan bagaimana pun dan di atas segala-galanya kita adalah satu bangsa. Tidak peduli agama, keyakinan politik dan golongannya. Kita adalah bangsa yang berjuang, anti imprealisme, patriotik dan demokratis”.

Siska H

AYO BACA : Sumpah Pemuda dan Potret Buram Literasi Indonesia

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar