Kritik Itu Cinta

  Selasa, 22 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Pengendara melintas di dekat bunga tabebuya yang mekar di Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu (9/10/2019). Bunga tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) yang tengah bermekaran berwarna kuning ini menambah estetika keunikan di sudut Kota Bandung juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga atau wisatawan dari luar kota untuk melihat dari dekat dan berswafoto. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Salah satu kegiatan intelektual yang sangat bermanfaat untuk mencurahkan kecintaan terhadap sebuah kota, provinsi atau negara dan bangsa ialah menulis. Terlepas dari apakah nanti tulisan itu bentuknya kritik pedas atau sekedar memuji untuk dikasihi. Tetapi intinya cinta.

Saya sangat cinta pada Ibu kota Jawa Barat, yakni kota Bandung. Sehingga saking cinta pada kota ini, tahun 2017 saya menulis puisi berjudul “Bandung Era Erka”, ini teksnya.

 

menyusuri sepanjang jalan asia afrika

aku menyaksikan birahi walikota

di taman alun-alun

 

di rumput sintetis itu

ada estetika kekuasaan

tersembunyi di palaguna yang runtuh

panen sunyi tengah ramai

siang, sore, malam dan subuh

di kota ini tumbuh subur

seperti jamur musim hujan

sesubur konflik yang diciptakan sendiri

dari gumasep di twitter, ig dan facebook

sementara walikota lari

atau sembunyi di ketiak twitter

ketika rakyat butuh dialog

atau sapaan lembut janji kampanye

asap dari kepala seperti pelangi manari

langit lebam dan telapak tangan pengemis lebam pula

 

batu-batu bulat sererti combro raksasa

adalah singgasana meditasi

sorga bagi abg yang baru tumbuh susu

hape berdering setiap hendak

mencium bibir magrib

palaguna tetap bisu

sebentar lagi tumbuh rumput asli

tapi seperti baok tersesat di kota

menyusuri jalan otista

aku menyaksikan psk liar menawarkan kenikmatan

 

lalu apa  bedanya dengan pimpinan kota

yang menawarkan anggur dan arak rasa stroberi

menamam janji di mobil bandros

menampar sopir angkot

memberangus warga tamansari

tanpa ampun

suara kereta api

seperti ngajebian warga kebon jeruk

dago elos yang lolos dari pantauan wartawan

o, aku rindu penyanyi dangdut di sudut kota

ketika seni seperti angin

ketika angin ibarat puisi

semua jalan yang kususuri di kota ini

bau kebohongan

kecuali suara adzan di mesjid

 

nopember  2017

 

Kecintaan saya pada kota Bandung yang dituangkan dalam kegiatan menulis, bukan kegiatan sia-sia. Mengkritik kota yang telah melahirkan saya artinya mengkritik ibu kandung dengan kasih sayang, mengkritik kota Bandung itu artinya mencintai kota Bandung. Sekarang kan RK sudah jadi Gubernur tidak lagi wali kota, percuma saja mengkritik. Tidak!, Bandung adalah bagian dari Jawa Barat dan saya akan bertolak dari Bandung sebagai Ibu Kota.

Kembai ke soal kritik, ia ada beberapa kriteria, ada kritik yang harus disertai jalan keluarnya, ialah kritik yang dilakukan para ahli, misalnya seseorang Ahli Taman mengkritik kota Bandung tentang keberadaan Taman yang  “riweuh teu puguh”, maka ia harus bisa memberi solusi terbaik bagi kotanya. Atau kritik terhadap program pendidikan kota Bandung yang tidak jelas, dan kritik itu dilakukan oleh seorang pendidik, maka ia harus mencari solusi tentang pendidikan.

Ada juga kritik yang tidak perlu mencari solusi, ialah kritik yang dilakukan oleh rakyat biasa. Rakyat boleh mengkritik dan “kukulutus” dengan sopan santun” tanpa harus memberi solusi karena ia memang tidak punya keahlian tentang apa yang dikritiknya. Seorang penulis boleh saja mengkritik tanpa harus tahu solusinya, tapi ia bisa diajak berembug untuk mencari solusi yang dimaksud.

Kritik atau mencurahkan pemikiran intelektual untuk kemajuan sebuah kota atau wilayah propinsi tidak harus ditanggapi oleh pengikut penguasa dengan kemarahan. Karena kemarahan pengikutnya akan jadi bumerang bagi seorang walikota atau gubrnur. Biarkan saja pemimpin menjawab dengan caranya sendiri, atau melalui wakilnya atau melalui humasnya atau melalui Kepala Dinas terkait.

Kalaupun mau ikut menjawab kritikan tentu saja harus lebih intelektual, harus lebih ramah dan berwawasan ikhlas yang tinggi. Pengikut yang turut marah jika walikotanya dikritik malah membuat suasana gaduh dan bising.

Kritik adalah sebuah sumbangan pemikiran dalam bentuk kekecewaan atau saran bukan mencemooh lalu diam, Kritik itu sebuah analisa dan evaluasi sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki sebuah pekerjaan.

 

RK Marah Kalau Dikritik

Memang merespons kritik bukan hal mudah. Karena walupun kritik itu destruktif atau konstruktif, tetap saja akan membuat rebing ceuli, merah telinga. Bahkan kalau terlalu pedas bisa membuat emosi tingkat tinggi. Maka jika ingin berbuah manis, tanggapi kritik itu dengan manis pula, kalau bisa ditanggapi secara humoris, tapi tetap serius. tentu sepanjang kritikan itu tidak berlebihan seperti yang ditulis oleh sesroang di twitter, memarahi kota Bandung dan wali kotanya dengan marah marah tak beraturan.

Untuk wali kota atau gubernur, harus menanamkan diri bahwa kritik itu penting, jangan pernah merasa terancam kehormatan dan harga diri jika rakyat sedang mengritik. Ketika rakyat mengkritik itu artinya mereka sedang mencintai kotanya, kritik dengan menghina itu beda.

Kritik yang renyah dan sopan, apalagi melalui tulisan serta pemikiran, nyaris sama dengan keripik, enak dimakan apalagi didorong air teh manis atau kopi, tapi ingat keripik juga ada yang bikin seuhah dan membuat batuk-batuk, sama dengan kritik.

Sekali lagi saya ingin mengulang, kritik terhadap pemimpin yang kemudian direspons oleh para pengikutnya jangan sampai membuat persoalan jadi suram, kritik yang direspons dengan hati panas dan emosional akan buruk hasilnya. Karena cara penerima kritik bisa menunjukan kedewasaan seorang pemimpin juga pengikutnya.

Pernah suatu kali, waktu itu Ketua Dewan Nasional WALHI Dadang Sudardja mengkritik keberadaan lapangan futsal di kota Jalan Supratman Bandung, malah ia dituding sebagai provokator oleh pengikut wali kota, ini preseden buruk bagi perkembangan sebuah kota dan kepemimpinan.

Untuk mendewasakan pemikiran dalam menerima kritik, maka walikota ata gubernur harus banyak berdiskusi dengan semua kalangan agar wawasan kebangsaan dan wabilkhusus wawasan kerakyatannya lebih bijak. Lalu ber-terima kasihlah pada pengkritik, sebab krtik merupakan salah satu pemicu majunya kota Bandung dan Jawa Barat menjadi juara. Cag!

 

Matdon, Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar