Sinergitas Alam dan Manusia Pertiwi

  Selasa, 22 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi -- Sampah mencemari aliran sungai Ci Gulung di Curug Omas, Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (20/10/2019). Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dengan membuang sampah ke sungai mengakibatkan sampah mengapung yang membuat keindahan Curug Omas berkurang. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Bumi bukan hanya untuk kita tapi untuk anak cucu kita kelak, perubahan sekecil apapun yang dilakukan hari ini akan berdampak pada masa depan nanti.

Ibarat menanam pohon jati, aku ingin menanam yang sejati. Dan dampak dari perubahan iklim sungguh sangat nyata, untuk kita para penghuni bumi, mari kita membantu dan berkorban untuknya, sayangi ia karena bumi sangat menyanyangi kita semenjak kita belum hadir ke dunia.

Pantaskah kita mencemarinya? Alasanku tentu sederhana yakni sebagai bentuk balas budi walau tidak pernah lunas.

Di suku pedalaman Baduy Banten, bagi yang pernah datang langsung ke sana, mungkin akan merasakan hidup di zaman dahulu sebelum tersentu modernitas dan politik kekuasaan.

AYO BACA : Puluhan Ribu Pelajar di Selandia Baru Aksi Protes Perubahan Iklim

Di sana terasa alami dan manusiawi, jujur saya sendiri sedikit merasa dejavu saat berada di sana. Rasanya ingatan masa kecilku kembali namun di sini lebih dari yang kubayangkan. Suku baduy mampu menjaga kelestarian alam hingga terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam.

Di tanah Pasundan sendiri kita pasti akrab dengan sebutan nama dengan kata ‘ci’atau ‘cai’ yang di bahasa Indonesiakan berarti ‘air’. Misal Cibiru, Citarum, Cimalaka, Cicaheum, Cililin, Cimenyan dan sebagainya.

Menurut tadabur pribadi, orang Sunda sangat akrab dengan air karena air merupakan sumber dari kehidupan. Karena itu, Tanah Pasundan sangat subur bahkan Brouwer pernah berkata “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”.

Maka tak heran bila orang tua, kakek atau nenek kita sangat rewel mengenai masalah air, bahkan dulu mencuci, mandi, dan buang air biasanya masih dilakukan di sungai. Entahlah kalau sekarang, yang mana produk jadi olahan sudah sangat banyak beredar dan pengolahan dari sisa sampah bungkus produk tersebut tidak tahu akan di kemanakan, yang pasti setiap halnya perlu diatur atau di manajemenisasi.

AYO BACA : Teknologi Pertanian Litbang Kementan Diklaim Adaptif Perubahan Iklim Global

Di suku Jawa, orang tua, sepuh-sepuh menganggap pohon, tanam-tanaman dan hewan-hewan adalah saudara mereka bahkan seperti keluarga sendiri yang harus mereka jaga. Maka bila kita mencoba mentadaburi menamaan daerahnya seperti jatisari, kosambi, kebon jeruk, kebon danas, Jatipulo, dsb hal itu menunjukkan bahwa peradaban Jawa dekat dengan tanaman.

Maka tak heran di pekarangan rumah pun tersedia berbagai jenis tanaman bahkan ketika sang penghuni rumah sakit biasanya meracik obat sendiri dari tanaman-tanaman obat yang ada dipekarangannya, maka dikenal dengan istilah 'Jamu'.

Namun, sekarang, peradaban leluhur kita sepertinya mulai ditinggalkan, padahal leluhur kita sangat mencintai bumi pertiwi, hingga mencapai derajat sinergitas antarkeduanya yakni keseimbangan alam dan manusia.

Ketika globalisasi merembak, bangsa kita seperti kehilangan jati dirinya, tujuan orang seluruh dunia kini sama, hanya ada dua hal mungkin, yakni Rich and Famous. Lalu, kalau sudah kehilangan jatidiri, bagaimana kita mencintai lingkungan kita dan bersyukur akan bumi pertiwi ini?

Faisal Abda’u, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung.

AYO BACA : ‘Aquaman’ Sentil PBB Soal Perubahan Iklim

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar