Potret Kelautan dan Perikanan Indonesia

  Sabtu, 19 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Pelabuhan Kota Tegal. (Akhmad Fatikhurrizqi)

Tak dipungkiri lagi bahwa mayoritas wilayah Indonesia adalah perairan. Ya, Indonesia dengan negara kepulauan yang kaya akan segala sumber daya alam baik di daratan maupun perairan harus mampu memberdayakan kekayaan ini.

Kita tahu bahwa kekayaan daratan yang sangat luar biasa, seperti pertambangan minyak dan batu bara, perkebunan kelapa sawit dan karet, serta masih banyak lagi. Sedangkan bagaimana hasil kekayaan perairan wilayah Indonesia?

Indonesia dengan negara kepulauannya dari Sabang sampai Merauke tentu memiliki banyak wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang luas dan strategis. Kekayaan yang melimpah di wilayah tersebut menjadi salah satu pilar pembangunan nasional.

Presiden Jokowi menyebutkan dalam salah satu konsep Nawacitanya yaitu memperkuat Indonesia dalam poros maritim. Pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk menuju pembangunan yang merata melalui konektivitas antar pulau yang mudah.

Hal ini bertujuan untuk kegiatan distribusi hasil perairan laut di pulau-pulau kecil mampu tersalurkan dengan baik menuju wilayah perkotaan. Salah satu hambatan bagi nelayan yaitu ikan harus dijual dalam keadaan segar, namun akses menuju wilayah perkotaan sulit, sehingga hanya beredar di wilayahnya sendiri dengan nilai yang tentunya jauh lebih kecil.

Tidak hanya perbaikan infrastruktur, tetapi juga kebijakan-kebijakan perairan dan kelautan yang semakin tegas sudah dilakukan oleh Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia. 

Pemberantasan IUU (Illegal, Unreported, Unregulated) Fishing sangat memberi dampak yang positif khususnya bagi hasil tangkap ikan dan stok ikan yang semakin meningkat. Pada tahun 2018, Menteri Susi mengatakan bahwa produksi ikan Indonesia terus meningkat, bahkan mengalahkan negara Asia lainnya, seperti Cina, Malaysia, dan Vietnam.

Kabar menarik lainnya yaitu pada 19 Juli 2019 telah dilaksanakan ekspor raya 8,9 ribu ton hasil perikanan di lima pelabuhan besar, yaitu Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Emas Semarang, Belawan Medan, dan Soekarno Hatta Makassar.

Deskripsi Hasil Produksi Kelautan Indonesia

Hasil kelautan Indonesia salah satunya yaitu produksi perikanan tangkap terus mengalami peningkatan, terutama perikanan laut. Berdasrkan sumber aplikasi satu data, tahun 2016 produksi perikanan laut sebesar 6.115.469 ton dan tahun 2017 sebesar 6.424.114 ton.

Berdasarkan sumber yang sama juga menyebutkan bahwa produksi perikanan tangkap di laut pada Januari-September 2018 mengalami pertumbuhan sebesar 4,19% dibandingkan pada Januari-September 2017.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengeluarkan data produksi perikanan dengan menggunakan pendekatan jumlah hasil perikanan yang dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada di seluruh Indonesia.

Produksi perikanan yang dijual di TPI dari tahun 2004 hingga 2017 cenderung meningkat. Produksi paling tinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 730.286 ton sedangkan data ter-update terakhir pada tahun 2017 sebesar 657.491,74 ton.

Seiring semakin meningkatnya produksi perikanan ini, Menteri Susi terus mengkampanyekan kepada seluruh masyarakat agar gemar makan ikan. Beliau membawa berbagai tagline saat berkampanye, seperti “Ayo Makan Ikan Biar Pintar”, “Milenial Doyan Makan Ikan”, dan “Ayo Makan Ikan Setiap Hari”.

Kampanye gemar makan ikan ini dapat dikatakan berhasil dan mampu mendorong masyarakat untuk mengonsumsi ikan. Berdasarkan data angka konumsi ikan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), prognosa capaian konsumsi ikan tahun 2018 adalah 50,69 kg/kapita, sedikit lebih tinggi dari target yaitu sebesar 50,65 kg/kapita.

Kontribusi Hasil Perikanan Bagi Pembangunan Indonesia

Hasil produksi perikanan yang tinggi tentunya akan meningkatkan angka Produk Domestik Bruto (PDB) bagi suatu negara, begitu juga Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai PDB atas dasar harga konstan (ADHK) selalu mengalami peningkatan dari tahun 2011 hingga 2017, yaitu mencapai 227.278,9 triliun rupiah pada tahun 2017.

Pertumbuhan PDB perikanan dalam persen (%) setiap triwulan selalu mengalami fluktuasi dan memiliki pola musiman setiap tahunnya. Selalu terjadi penurunan persentase PDB pada akhir tahun (triwulan ke-4) yaitu terjadi pada tahun 2016 dan 2017.

BPS juga mencatat bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan PDB perikanan dari triwulan ke-4 2017 yaitu sebesar 6,85% menjadi 3,71% pada triwulan ke-3 tahun 2018. Namun, jika dilihat dari nilai PDB perikanan mengalami kenaikan dari Rp57,84 triliun pada triwulan ke-4 tahun 2017 menjadi Rp59,98 triliun pada triwulan ke-3 tahun 2018.

Hasi produksi yang tinggi, selain meningkatkan angka PDB suatu negara, juga dapat meningkatkan nilai ekspor sektor tersebut.

Nilai ekspor hasil perikanan sangat dapat diandalkan bagi pendapatan nasional. Pada tahun 2014-2018, nilai ekspor hasil perikanan berkisar pada angka 3,9 hingga 4,6 miliar USD.

Sedangkan nilai impor hasil perikanan pada tahun 2014-2018 hanya berkisar 0,33-0,43 miliar USD. Artinya, neraca hasil perikanan Indonesia memberikan efek surplus bagi pendapatan nasional. (Sumber: BPS dan diolah Ditjen PDS-Kementerian Kelautan Perikanan)

Adapun besarnya ekspor berdasarkan komoditas hasil laut dan perikanan utama dengan volume tertinggi yaitu komoditas rumput laut sebesar 175,64 ribu ton dengan proporsi kontribusi sebesar 28,27% terhadap ekspor hasil laut dan perikanan dari segi volume pada periode Januari-Oktober 2018.

Pada tahun yang sama, ekspor komoditas hasil laut dan perikanan dari segi nilai tertinggi yaitu komoditas udang dengan nilai 1.462,09 miliar USD dan proporsi kontribusi sebesar 46,67% terhadap ekspor hasil laut dan perikanan segi nilai. (Sumber: BPS dan diolah Ditjen PDS-Kementerian Kelautan Perikanan).

Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan pesan pada tahun berakhirnya sebagai menteri, pada Oktober 2019, "Saya menitipkan ke Anda semua, tetap jaga laut untuk masa depan bangsa kita. Masa depan itu untuk anak cucu, cicit, anak-anak kita. Anda semua bisa," ucap Susi pada acara Deep and Extreme Indonesia, Sabtu (6/4/2019) di JCC, Jakarta.

Beliau yakin sepenuhnya  kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat menjaga lautan. Menurutnya, peran lautan pada perekonomian Indonesia sangat besar, hal ini terbukti dari capaian Indonesia sebagai pemasok ikan tuna terbesar di dunia.

Akhmad Fatikhurrizqi, mahasiswa Politeknik Statistika STIS.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar