Memilih Sistem Penanaman Padi yang Produktif

  Sabtu, 19 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi sistem penanaman padi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun secara otomatis juga akan meningkatkan jumlah kebutuhan beras.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan luas lahan sawah yang terus berkurang. Seperti dapat kita lihat, banyak lahan sawah yang telah berubah fungsi menjadi perumahan, tempat makan, ataupun mal.

Pengalihan fungsi lahan sawah tersebut dilakukan karena dianggap lebih dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar dalam waktu yang singkat. Dapat kita bayangkan kalau sebagian besar lahan sawah beralih fungsi, maka kita akan semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan akan beras.

Lahan sawah sudah mustahil untuk kita tambah, yang dapat dilakukan adalah adanya upaya bersama antara pemerintah dengan petani untuk meningkatkan produktivitas padi.

Pemerintah sebagai penentu kebijakan memiliki suatu program, yaitu Program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) sebagai bentuk penerapan hasil-hasil teknologi pertanian yang selalu berkembang.

Program PPT ini mengintegrasikan teknologi-teknologi pertanian secara terpadu dalam setiap tahapan pertanian, mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih, sistem tanam, pengairan, pemupukan, pengendalian hama serta pengelolaan panen dan pasca panen.

Keberhasilan penerapan teknologi ini juga sangat membutuhkan peran aktif petani dalam menentukan teknologi yang hendak diterapkan berdasarkan kemampuan  dan kondisi lingkungan dan sosial budaya yang sesuai. Salah satu teknonogi yang ditawarkan dalam program PTT adalah sistem tanam jajar legowo.

Sistem Tanam Jajar Legowo berasal dari kata-kata bahasa Jawa: jajar yang berarti baris, lego yang berarti luas dan dowo yang berarti memanjang yang mengacu pada pemberian baris kosong/lorong pada setiap jumlah baris tanaman padi tertentu dan menyisipkan rumpun padi pada setiap baris di kiri-kanan lorong sehingga jarak tanam pada baris terluar menjadi lebih pendek.

Tujuannya adalah meningkatkan jumlah populasi tanaman dan memaksimalkan penyinaran matahari karena mayoritas tanaman berada di pinggir lorong, dengan demikian diharapkan produksi padi yang dihasilkan juga akan meningkat.

Sistem Tanam Jajar Legowo memodifikasi sistem tanam tegel yang umum digunakan oleh petani (jarak tanam 25 x 25 cm) dengan memberikan baris kosong/lorong sebesar 2x jarak tanam (50 cm) setiap jumlah baris tertentu dan menyisipkan rumpun padi pada setiap baris di kiri-kanan lorong sehingga jarak tanam pada baris terluar menjadi ½ jarak tanam (12,5 cm). Penerapan banyaknya jumlah baris tanaman padi di antara setiap lorong yang umum digunakan adalah 2, 3, 4 atau 6 (biasa disebut jajar legowo 2:1, 3:1, 4:1 atau 6:1)

Produktivitas padi diukur oleh BPS bersama-sama dengan Kementerian Pertanian melalui Survei Ubinan. Survei Ubinan merupakan gabungan wawancara terhadap petani pada rumah tangga sampel terkait tanaman padi yang dikelolanya dan observasi hasil panen dan jumlah rumpunnya pada plot 2,5 x 2.5 m yang dipilih secara acak pada lahan sawah yang ditanami padi yang diusahakan oleh petani (BPS dan Kementan 2015).

Hasil ubinan untuk komoditas padi dinyatakan dalam satuan kilogram (Kg) dengan kualitas standar Gabah Kering Panen (GKP). Ruang lingkup data yang digunakan adalah wilayah Kabupaten Sleman pada tahun 2016 dan 2017 yang tiap tahunnya terdiri dari 3 subround (musim tanam) yaitu : Januari – April, Mei – Agustus dan September – Desember.

Berdasarkan data ubinan tahun 2016 dan 2017, hanya sekitar 17,3% petani di Kabupaten Sleman yang sudah menerapkan sistem tanam jajar legowo.

Hal ini juga didukung karena para petani merasa bahwa sistem jajar legowo membutuhkan lebih banyak benih, tenaga kerja dan waktu untuk proses penanamannya.

Selain itu, petani juga belum terbiasa dalam pemeliharaan tanaman dengan sistem jajar legowo. Hal utama yang menjadi alasan bagi petani adalah belum adanya gambaran yang nyata bahwa sistem penanaman jajar legowo akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan sistem penanaman yang selama ini mereka gunakan jika diterapkan di Kabupaten Sleman.

Setelah dilakukan pengolahan data ubinan Kabupaten Sleman Tahun 2016 dan 2017 dapat ditarik hasil bahwa secara perhitungan memang ada perbedaan rata-rata produktivitas padi yang signifikan antara sistem tanam jajar legowo dibanding dengan sistem tanam non jajar legowo.

Sesuai dengan teori, hasil menunjukkan bahwa sistem tanan jajar legowo dapat meningkatkan produktivitas padi, rata-rata produktivitas padi yang ditanam dengan sistem jajar legowo lebih tinggi.

Dengan adanya tulisan ini semoga dapat memberikan gambaran kepada petani bahwa sistem tanam jajar legowo dapat diterapkan di Kabupaten Sleman. Petani tidak perlu ragu lagi untuk berperan aktif menerapkan sistem tanam ini.

Akan tetapi, yang tidak boleh kita lupakan juga adalah bahwa sistem ini bukanlah suatu teknologi pertanian yang berdiri sendiri, melainkan suatu sistem yang bersifat terpadu. Pihak pemerintah yang terkait juga dapat memberikan perannya dengan melakukan penyuluhan kepada petani dan juga sekaligus melakukan pendampingan agar teknologi jajar legowo ini diterapkan secara terpadu sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal.

Fathonah Tri Hastuti, ASN Badan Pusat Statistik.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar