Kemacetan Kota Bandung Dinilai Bisa Rugikan Sektor Pariwisata

  Jumat, 18 Oktober 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi -- Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Sabtu (8/6/2019). (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat Herman Muchtar menyebut, kemacetan di Kota Bandung dapat menggangu bahkan merugikan sektor wisata.

Menurutnya, lalu lintas yang terganggu dapat menyebabkan terhambatnya mobilitas. Akhirnya para wisatawan, kata dia, memilih untuk tidak berlama-lama di Kota Bandung.

"Pernah kejadian orang datang ke Bandung, rencana mereka menginap di Bandung itu tiga malam, mereka jalan-jalan terus mereka datang di hotel lagi jam 11 malam karena kemacetan, akhirnya mereka tidak jadi menginap," kata Herman di Bandung, Jumat (18/10/2019).

AYO BACA : Bila Terus Bangun Fly Over, Pengamat: 5 Tahun Lagi Bandung Kolaps

Berdasarkan kejadian tersebut, menurutnya, mereka memilih untuk tidak berlama-lama di Kota Bandung. Karena menurutnya, mereka sudah memperhitungkan esok harinya bakal terjadi kemacetan yang sama.

"Karena macet itu, mereka pulang lagi ke Jakarta, mereka tahu besoknya akan macet lagi," katanya.

Memang, menurutnya, Bandung merupakan salah satu destinasi utama bagi para wisatawan khususnya warga dari Jakarta. Namun, dia menyebut setelah adanya label Kota Bandung sebagai kota termacet di Indonesia, jangan sampai para wisatawan lebih memilih daerah lain.

AYO BACA : Bandung Termacet se-Indonesia, Pemkot Akan Keluarkan 4 Kebijakan

"Karena daerah lain semakin maju, Semarang semakin maju, Jogja semakin maju, jadi orang (wisatawan) akan berpindah nanti, jadi kita harus berhati-hati bila wisatawan enggan datang ke Bandung," kata dia.

Selain itu, menurutnya, kemacetan ini dapat berdampak bagi banyak sektor, bukan hanya dari sektor wisata.

Dengan demikian, ia berharap seluruh pihak dapat mencari solusi agar masalah kemacetan ini dapat terselesaikan. Karena setiap pihak baik pemerintah, aparat, maupun pengusaha itu berbeda kompetensi dan memiliki solusi yang berbeda.

"Beda selera kita (warga) dengan pemerintah dan dengan pengusaha, pengusaha itu yang paham dengan untung ruginya, ini harus kita cari solusinya," kata Herman.

Sebelumnya, Kota Bandung menjadi kota termacet se-Indonesia atau peringkat ke-14 termacet se-Asia berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB).

Dalam survei yang dilakukan oleh ADB, ada sedikitnya 278 kota yang diteliti dari sebanyak 45 negara di Asia. Kota Bandung berada di peringkat ke-14, lebih parah dari Jakarta yang berada di peringkat ke-17 dan Surabaya peringkat ke-20.

AYO BACA : Macet, Sejumlah Fly Over Akan Dibangun di Bandung Hingga 2022

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar