“Milangan Gunung” Bandung

  Rabu, 16 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Gunung Manglayang terlihat dari pinggir jalan di daerah Cinambo, Kota Bandung. (Atep Kurnia)

“Milangan gunung” adalah kata kerja yang digunakan oleh pangeran dan rahib pengelana dari Kerajaan Sunda, Perebu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, pada akhir abad ke-15. Kata kerja ini merujuk kepada penyebutan nama-nama gunung yang dilihat sang rahib selama kembaranya di tanah Jawa dan Bali, dalam dua kali muhibah telaah.

Namun, sebelum lebih jauh membahas pertautan gunung dengan Bujangga Manik, kiranya, ada baiknya untuk berkenalan dengan naskah yang melakonkan perjalanan sang pangeran dari Istana Pakuan, Bogor, tersebut. Naskah Bujangga Manik tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris, dengan kode naskah MS. Jav.b.3 (R), sejak 1627 atau paling lambat pada 1629.

Orang pertama yang menemukan kembali naskah tersebut adalah Jacobus Noorduyn, pada 1968. Ia mengumumkan naskah ini dalam BKI 138 (1982), yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Sunda oleh Iskandarwassid (1984). Upaya menggarap Bujangga Manik dan dua naskah Sunda lainnya yang dilakukan Noorduyn, dilanjutkan oleh A. Teeuw. Karena Noorduyn jatuh sakit dan meninggal pada 1994. Hasil kerja ketiga naskah Sunda kuna itu diterbitkan pada 2006 dan diindonesiakan pada 2009.

Dari dua kali kelana, Bujangga Manik menyinggahi lebih dari 450 tempat, termasuk sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai, terbentang dari Bogor (Pakuan) sampai Pulau Bali. Dari 90 nama gunung itu, 16 di antaranya berada di Bandung Raya. Ke-16 gunung tersebut adalah Bukit Patuha, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Marucung, Bukit Burangrang, Gunung Sembung, Bukit Karesi, Bukit Langlayang, Bukit Palasari, Bukit Pala, Bukit Patégéng, Gunung Wayang, Bukit Malabar, Bukit Bajogé, Gunung Mandala Wangi, Gunung Kéndan, dan Gunung Ratu.

Memandang Gunung

Gunung-gunung di Bandung Raya itu dijadikan tempat mendaki, menikmati pemandangan, perenungan, singgah dan bertapa oleh Bujangga Manik. Ia dengan caranya, merinci satu per satu gunung yang didaki dan dinikmati pemandangannya (milangan gunung). Misalnya, sesaat setelah melewati Cikuray dia mendaki Papandayan, yang juga disebut Panenjoan. Di situ ia memandang pegunungan, di bawahnya, hingga menjangkau yang tidak terlihat di matanya.

Foto-02

Potongan lempir naskah Bujangga Manik. (Aditia Gunawan)

Antara lain, Bujangga Manik menyatakan, “Sananjak ka Papandayan, ngaranna na Panenjoan, ti inya aing nenjo gunung, dereja dangka ri kabeh, para manuh para dangka, paninggal Nusia Larang. Aing milang-milang inya (Mendaki ke Gunung Papandayan, yang biasa disebut Panenjoan, dari situ kuamati gunung-gunung, disebut satu per satu di antara semuanya, yang terlihat kecil dan jauh, sesuai daya pandang Nusia larang. Aku menghitungnya satu demi satu).

Dari kutipan tersebut, tampak sejak dulu, kegiatan menikmati pemandangan dari puncak gunung sudah dilakukan orang. Jadi, bukan kegiatan baru yang dilakukan oleh anak-anak muda masa kini, melainkan juga dilakukan anak muda di masa lampau. Karena, saya menduga, Bujangga Manik saat itu masih berumur sekitar akhir belasan tahun atau awal 20-an tahun umurnya. Hal ini sesuai dengan daur hidup penganut agama Hindu (ashrama), yang mempunyai empat fase, yakni Brahmacharya (siswa), Grihastha (rumah tanggal), Vanaprastha (pensiun) and Sannyasa (mengasingkan diri dari kehidupan duniawi).

Fase Brahmacharya, menurut RK Sharma (Indian Society, Institutions and Change, 1999), menggambarkan masa belajar bagi seorang bujangan. Fase ini terhitung sejak usia awal hingga berumur 24-29 tahun dan menitikberatkan pada pendidikan, termasuk praktik pembujangan (celibacy). Pada fase ini, siswa mendatangi gurukul (rumah guru) lalu tinggal bersama guru, untuk memperoleh pelbagai pengetahuan, praktik disiplin diri, bekerja untuk mendapatkan dakshina sebagai biaya selama menuntut ilmu, dan sekaligus mengamalkan dharma (kebenaran, moral, dan kewajiban).

Dengan memandang keindahan gunung-gunung yang kecil dan jauh tersebut, Bujangga Manik menyadari betapa dirinya adalah manusia biasa yang suka menikmati hal-hal yang indah (Beuteung bogoh ku sakitu). Selain dari penjelajahan ke gunung-gunung tersebut menyebabkannya melakukan peribadatan (puja) dan perenungan (dititineungkeun). Orang Sunda di masa lalu menganggap gunung sebagai tempat yang istimewa.

AYO BACA : Gunung Tangkuban Parahu: Sejarah Terbentuk dan Letusannya

Menurut Agus Aris Munandar (“Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”, 1991), gunung dijadikan tempat keramat bagi masyarakat Jawa Barat. Keyakinan ini telah ada sebelumnya, yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah, yang terlihat pada peninggalan megalitik seperti pada situs Gunung Padang, Pangguyangan, Salak Datar, Lebak Sibedug, Arca Domas (Baduy), Batu Lulumpang, Cipari, Cireme, dsb.

Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16), gunung juga begitu sentral perannya, karena bertaut dengan keyakinan kosmologis mengenai Gunung Mahameru.

Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa, dan tentu saja ke Jawa Barat. Oleh karena kekeramatan itulah, gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal, pengamalan keagamaan, dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha, yang dilindungi kerajaan di Tatar Sunda. Dalam beberapa hal, bagaimana penguasa melindungi situs keagamaan di gunung dan sekitarnya dapat disimak dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa dan Niskala Wastukancana.

Tidak heran, gunung dan sekitarnya, seperti puncak gunung (hulu), bukit, menjadi pilihan para penulis-penyalin naskah Sunda Kuna untuk menulis. Antara lain kita mendapatkan nama Gunung Kumbang, Gunung Larang Sri Manganti (nama lama Cikuray), Gunung Larang Sela, Gunung Cikuray, Gunung Jedang, Giri Sunya, dan Gunung Cupu.

Selain itu, menurut Bujangga Manik, gunung berfungsi juga sebagai batas administratif sebuah wilayah (tanggeran). Dalam konteks gunung-gunung di Bandung Raya, dikatakan bahwa “Eta na bukit Patuha, tanggeran na Majapura” (Itu adalah Gunung Patuha, sebagai tiang tapal batas Majapura); “Itu Tangkuban Parahu, tanggeran na Gunung Wangi. Itu ta gunung Marucung, tanggeran na Sri Manggala. Itu ta bukit Burangrang, tanggeran na Saung Agung”.

Apa yang diungkapkan Bujangga Manik diafirmasi oleh naskah Sunda Kuna lainnya. Misalnya, naskah Fragmen Carita Parahyangan (Kropak 406). Di dalamnya antara lain disebutkan bahwa wilayah yang mendekati atau meliputi gunung-gunung di Bandung Raya adalah wilayah Puntang.

Batas-batas wilayah ini sebelah barat lereng Gunung Pakujang sampai Gunung Mandalawangi, sebelah utara lereng Gunung Kalahedong hingga Gunung Haruman, dan sebelah timur tepi Ciharus (“Alasna Puntang ti barat hanggat Pakujang Gunung Mandalawangi, ti kaler hanggat Kalahedong Gunung Haruman, ti timur hanggat Ciharus”). Hanya saja istilahnya berbeda, di sini bukan tanggeran, melainkan hulu alas.

Selain itu, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan morfologi gunung yang disebutkan oleh Bujangga Manik, yaitu tonggong gunung (punggung gunung), pipir gunung (balik atau pinggir gunung), dan landeuhan bukit (kaki gunung). Namun, yang lebih penting lagi adalah istilah untuk gunung itu sendiri.

Di dalam narasinya, Bujangga Manik saling bergantian menggunakan kata gunung dan bukit untuk menyebut gunung. Ia, misalnya, menyebut gunung untuk Tangkuban Parahu, Wayang, Mandala Wangi, Kéndan, dll. Sementara Patuha, Burangrang, Langlayang, Malabar, disebutnya bukit. Apa perbedaannya? Barangkali tidak ada perbedaan. Atau bisa jadi di masa Bujangga Manik, sebutannya memang demikian.

Tinjauan Toponimi

Sejauh ini, sepanjang yang saya ketahui, orang yang berupaya secara intens menafsirkan toponimi gunung-gunung di Bandung Raya adalah ahli geografi T. Bachtiar. Hasilnya, antara lain, dapat disimak dalam buku kumpulan tulisannya Bandung Purba, Panduan Wisata Bumi (2014). Gunung-gunung yang berhasil ditelusuri toponiminya adalah Gunung Patuha, Tangkuban Parahu, Burangrang, Manglayang, Patégéng, Wayang, Malabar, dan Kéndan.

Dalam praktiknya, T. Bachtiar sering menyelidikinya secara leksikografis, melalui  kamus Sunda, Jawa, dan lainnya. Ia sering pula menggunakan pengetahuan geomorfologi dan kebumian lainnya. Demikian pula dengan naskah Sunda kuna dan lama, tinjauan sejarah, dan sebagainya. Semuanya digunakan untuk mendekati kebenaran di balik lahirnya toponimi gunung di Bandung itu.

AYO BACA : Bandung Baheula : Secuil Sejarah Pahit di De Majestic

Kata Patuha disusurinya dari Kamus Sunda-Inggris karya Jonathan Rigg (1862). Menurut T. Bachtiar, kata patuha sangat mungkin perubahan dari kata patuka, yang berarti lereng yang menurun atau tebing yang curam. Atau dari putha yang berarti matahari atau api. Atau dari pathuwa, yang berasal dari kata huwa yang berarti suara memanggil, sama artinya dengan hu yang merupakan suara teriakan. Lalu jadi pathuwa, yang artinya api yang bergemuruh. Katanya, hal ini bertalian erat dengan kegiatan gunung ini yang pernah bergemuruh dan mengeluarkan api yang menurun di lerengnya yang curam.

Gunung Tangkuban Parahu yang nampak seperti perahu terbalik, menurutnya, hanya akan terlihat demikian bila dipandang dari selatan gunung ini. Karena tidak akan demikian bila dilihat dari sisi barat, timur atau utara. Hal ini menyebabkannya beranggapan bahwa yang membuat legenda Gunung Tangkuban Parahu dengan tokoh utama Sang Kuriang dan Dayang Sumbi itu berasal dari selatan gunung ini yang setiap hari melihat bentuk gunung yang imajinatif itu.

Dalam legenda tersebut, tunggul pohon lametang yang dijadikan perahu menjadi Bukit Tunggul. Perahunya yang ditendang menjadi Gunung Tangkuban Parahu, dan dahan, ranting, dan dedaunan dari pohon lametang itu menjadi Gunung Burangrang. Sedangkan bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi disebut Gunung Putri.

Toponimi Burangrang disandarkannya pada keadaan gunung tersebut yang cenderung berlembah dalam dengan punggungan jarang. Katanya, bisa jadi lereng gunung yang jarang inilah yang menjadi sumber inspirasi toponimi Burangrang. Kata tersebut berasal dari rang, lalu berubah menjadi rangrang yang berarti jarang, seperti nampak pada kata a-rang, ca-rang, ca-rang-cang, ca-rang-ka, ja-rang, rang-ke-bong, nga-rang-rangan, boeh la-rang, rang-ka, ke-rang-ka, rang-gas, rang-kas (“Gunung Burangrang”, PR daring, 6 Juli 2019).

Toponimi Gunung Manglayang, atau Langlayang menurut Bujangga Manik, ini berasal dari kata layang yang ditambah awal ma. Lahirlah kata malayang lalu manglayang. Awalan ma yang sekarang tidak produktif, dulu sering digunakan, seperti kata mariuk, marieus, maleber, malabar, dll. yang menunjukkan maksud seperti atau menyerupai. Oleh sebab itu, menurut T. Bachtiar, Bukit Manglayang itu seperti bukit yang melayang.

Bukit Patégéng, menurut T. Bachtiar, harusnya dibaca Pategéng. Kata tersebut berakar dari kata tegéng yang kemudian mengalami penyengauan menjadi patengéng, sehingga ada nama geografis Patengéng dan Nengéng. Baik tegéng dan tengéng, merujuk kepada tubuh yang pinggangnya melengkung ke dalam, sehingga pantatnya lebih menonjol. Itulah sebabnya dinamakan Bukit Pategéng atau Patengéng, karena bila dipandang dari salah satu sisinya, terlihat tengéng, seperti pose peragawati.

Dalam penafsiran T. Bachtiar, kata wayang dalam Gunung Wayang tidak merujuk kepada kata wayang (golek). Ia memisahkan akar kata wa dan yang. Kata wa

berarti angin atau berangin lembut, dan yang atau hyang artinya dewa atau Tuhan. Jadi kata wayang yang menjadi nama gunung ini berarti angin sorgawi atau angin dewata yang lembut, yang mencirikan gambaran keindahan alam abadi. T. Bachtiar juga menggunakan legenda Gunung Wayang yang ditulis ulang oleh Nji Anah, juru mamaos Cianjuran, dalam Beschrijving van Pangalengan en Omstreken.

Toponimi Gunung Malabar dia tafsirkan dari kata labar-leber atau leber-labar, yang berarti meluber, melebar ke semua arah. Menjadi demikian karena adanya penambahan awalan ma. Toponimi ini, katanya, erat kaitannya dengan bentuk muka bumi gunung ini yang besar, lereng-lereng meluber, melebar ke semua arah, sebagai jejak letusannya di masa lalu.

Demikian pula dengan Gunung Kéndan di Nagreg, Cicalengka. Menurut T. Bachtiar, toponiminya berasal dari kata indra dengan awalan ka- dan akhiran –an, sehingga ditulis ka-indra-an disingkat kéndran lalu menjadi kéndan. Kata ini merujuk kepada batu kaca (obsidian), karena bila dipecah menjadi sangat tajam seperti kaca, sangat berguna untuk berbagai keperluan ketika besi belum ditemukan. Karena banyak terdapat batu kéndan inilah kemudian nama geografinya disebut Kendan.

Catatan di atas merupakan semacam makalah yang saya sampaikan pada diskusi bertajuk Loka “Mandra Carita: Kajian Onomastika (Onomalogi) Nama Gunung Wilayah Bandung Raya”. Diskusi yang diselenggarakan Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) pada 13 Oktober 2019 pagi, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jl. Garut No. 2, Bandung, ini sekaligus menandai peringatan milangkala komunitas tersebut yang ke-9 serta serah terima ketua baru.

Namun, yang mencengangkan saya adalah presentasi pegiat JGB, Pepep D.W., yang menyebutkan bahwa di Bandung Raya ada 700 gunung. Katanya, hingga sekarang sedang dilakukan inventarisasi untuk penyusunan semacam ensikopedia gunung di Bandung. Wah, kata saya dalam hati, pasti Bujangga Manik akan sukar sekali “milangan gunung” bila di Bandung saja jumlahnya sebanyak itu.

Atep Kurnia, Peminat Literasi Dan Budaya Sunda

AYO BACA : Bandung Baheula: Pesta di Lapang Tegallega, Dulunya Tempat Pacuan Kuda

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar