Bonus Demografi, Menyejahterakan atau Menyengsarakan?

  Senin, 14 Oktober 2019   M. Naufal Hafizh   Netizen
Sensus Penduduk 2020. (Istimewa)

Ingar bingar pesta demokrasi telah usai. Tidak lama lagi, pemimpin negeri ini segera dikukuhkan. Masih ingat di benak kita ketika debat Cawapres beberapa bulan lalu, ketenagakerjaan menjadi satu isu yang dibahas selain pendidikan, kesehatan, serta sosial, dan kebudayaan. Namun, sayangnya masih sedikit bahasan mengenai isu bonus demografi, yang berdampak pada ketenagakerjaan dan juga memiliki keterkaitan dengan dunia pendidikan Indonesia. Padahal respons terhadap bonus demografi pada akhirnya akan menentukan kondisi perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah memperkirakan, Indonesia akan menikmati era bonus demografi pada tahun 2020-2035. Pada masa tersebut, jumlah penduduk usia produktif diproyeksi berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah. Era bonus demografi itu juga ditandai dengan dominasi jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) atas jumlah penduduk tidak produktif (usia 0-14 tahun dan 65+), yang bisa dilihat dari angka rasio ketergantungan yang rendah. Rasio ketergantungan sendiri merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia tidak produktif dengan jumlah penduduk usia produktif.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk besar sangat beruntung mendapat bonus demografi. Keuntungan paling utama dari bonus demografi adalah ketersediaan tenaga kerja usia produktif sebagai modal utama dalam pembangunan. Dalam rangka memanfaatkan bonus demografi agar ekonomi Indonesia tumbuh secara optimal, hal yang harus dipersiapkan adalah kesehatan dan pendidikan sebagai prasyarat dari produktivitas tenaga kerja. Setelah aspek kualitas, tentunya kuantitas lapangan kerja harus tersedia untuk penduduk produktif.

Sebenarnya dalam posisi ini, negara mendapatkan beberapa keuntungan. Banyaknya penduduk produktif sangat berdampak dalam bidang sosial-ekonomi. Indonesia berpotensi menaikkan produk domestik bruto (PDB). Memiliki jumlah penduduk usia produktif mempunyai kesempatan kerja dan produktif, tentu saja memicu pertumbuhan ekonomi. Selain itu Indonesia juga berpeluang untuk memajukan kesejahteraan dan kemakmuran yang dapat menunjang serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan negara.

AYO BACA : Bisakah Indonesia Optimalkan Potensi Bonus Demografi?

Keuntungan yang mungkin dicapai tentunya tidak lepas dari peran pemerintah dalam memperhatikan sumber daya manusia yang ada. Jika pemerintah tidak bisa menyiapkan lapangan pekerjaan, maka banyak usia produktif akan menjadi pengangguran. Bonus demografi bukan hasil instan, tapi merupakan investasi jangka panjang dari rencana kependudukan yang bakal berdampak positif berupa peningkatan ekonomi masyarakat jika dikelola dengan benar. Sebaliknya, jika tidak diatur dan diawasi, maka akan menjadi petaka bagi bangsa ini. Mulai benahi diri dari sekarang, bonus demografi masih berjalan. Bagaimana caranya? Perkuat basis data kependudukan!

Era Baru Sensus Penduduk 2020

Memperkuat basis data kependudukan sejalan dengan semangat Satu Data Indonesia. Sejalan juga dengan semangat Sensus Penduduk 2020. Era baru pelaksanaan Sensus Penduduk tahun 2020 segera dimulai, Bangsa Indonesia akan melaksanakan Sensus Penduduk yang ke-7. Jika pada tahun 2019 kita baru saja melaksanakan pemilu serentak atau pesta demokrasi, maka pada 2020 nanti kita akan mengadakan pesta demografi atau sensus penduduk.

Satu hal yang membuat Sensus Penduduk 2020 berbeda dengan Sensus Penduduk sebelumnya adalah Sensus Penduduk 2020 menggunakan metode kombinasi, yaitu menggabungkan pencacahan metode tradisional seperti sensus penduduk sebelumnya dan metode berbasis data dasar penduduk dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Metode kombinasi ini diimplementasikan untuk mewujudkan satu data kependudukan Indonesia dan mewujudkan “register based census” sesuai dengan rekomendasi dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

AYO BACA : Maksimalkan Bonus Demografi

Sisi positif metode pendataan ini adalah data output akan lebih cepat diakses. Akan tetapi, tantangan berikutnya bahwa pendataan penduduk tahun ini sangat penting melibatkan berbagai kalangan masyarakat dari masyarakat biasa, akademisi, instansi dan berbagai lembaga formal dan nonformal. Terutama dalam tahap awal yakni sosialisasi pentingnya data kependudukan. Jalinan dan koordinasi yang terintegrasi akan dapat menjamin data penduduk yang akurat sehingga mampu disajikan hingga level terkecil.

Hasil yang diharapkan dari Sensus Penduduk 2020 adalah tersedianya data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk Indonesia menuju Satu Data Kependudukan, tersedianya sampling Frame untuk survei, tersedianya data parameter demografi (fertilitas, mortalitas, dan migrasi), serta karakteristik penduduk lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan proyeksi penduduk, indikator SDGs, dan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi pembangunan.

Tantangan

Banyak tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengelola sumber daya manusia. Di samping basis data registrasi kependudukan yang belum begitu kuat, Indonesia dihadapkan pada permasalahan ketenagakerjaan yang kompleks. Berdasarkan data BPS melalui Berita Resmi Statistik edisi bulan februari 2019, jumlah angka pengangguran turun 50.000 dari 6,87 juta orang (bulan Februari 2018) menjadi 6,82 juta orang (bulan Februari 2019). Angka tersebut masih terlalu tinggi apalagi dalam menghadapi bonus demografi.

Perlu upaya keras bersama untuk menurunkan tingkat pengangguran. Memperhatikan pendidikan masyarakat adalah hal penting, mengingat penyumbang pengangguran tertinggi adalah penduduk dari kalangan pendidikan tinggi. Penciptaan lapangan pekerjaan melalui pengembangan kewirausahaan kiranya dapat menjadi alternatif mengatasi permasalahan kesempatan kerja.

Harapannya masalah kependudukan dapat teratasi dengan baik dan dapat membantu menyerap pengangguran. Bukankah tujuan akhir dari pembangunan adalah mengurangi angka pengangguran dan mengentaskan kemiskinan, sehingga tercipta masyarakat yang sejahtera. Hingga pada saatnya nanti, ketika bangsa ini menikmati fase bonus demografi, yang tercipta adalah bonus demografi yang menyejahterakan.

Singgah Satrio Prayogo, Statistisi di BPS Provinsi Jawa Barat.

AYO BACA : Jemput Bonus Demografi, LP Maarif akan Gembleng Tenaga Pendidik

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar