That's Life: Catatan Tentang Arthur Fleck

  Minggu, 13 Oktober 2019   Dadi Haryadi   Netizen
Poster film Joker. (istimewa)

I said, that's life (that's life) and as funny as it may seem
Some people get their kicks
Stompin' on a dream
But I don't let it, let it get me down
'Cause this fine old world it keeps spinnin' around

I've been a puppet, a pauper, a pirate
A poet, a pawn and a king
I've been up and down and over and out
And I know one thing
Each time I find myself flat on my face
I pick myself up and get back in the race

Bagi saya inilah puncak emosi dari film Joker besutan Todd Phillips. Ketika suara berat nan renyah Frank Sinatra mengalunkan lirik tersebut dalam komposisi swing jazz yang bikin betah di telinga. Saat Joker tuntas memuntahkan amarahnya atas ketidakadilan dan olok-olok dunia kepadanya. 

Dengan menghadirkan lagu yang berjudul That’s Life ini, Todd Phillips seperti sedang menyampaikan simpulan. Itulah hidup, seperti Arthur Fleck, Sang Joker. Ketika baginya hidup tak lebih dari sekadar lelucon, sekaligus penghiburan atas makna kebahagiaan yang semu. 

Itulah mengapa Arthur Fleck dihinggapi penyakit pseudobulbar affect—tertawa tanpa sebab. Karena ia sudah kehilangan ruang kebahagiaan yang hakiki di dunia yang sudah uzur ini, hingga ketersiksaan pun mesti ia curahkan dengan tertawa tidak pada tempatnya. 

Itulah hidup, manusia cenderung ingin meraih mimpinya yang terbesar, tak peduli meski pada akhirnya harus terperangkap di dalam kubangan delusi. Seperti Joker yang mengalami gangguan delusi psikosis yang diturunkan oleh ibu angkatnya. 

Namun bukankah manusia sebagai mahluk individu kerap berdelusi tentang angan-angan yang tak tergapai dengan takaran yang berbeda-beda? Jika memang demikian, maka Joker hadir sebagai satu contoh kasus saja.

Manusia sebagai mahluk individu sejatinya kerap tenggelam dalam kesendirian. Merasakan dirinya berada dalam keterasingan, yang mengakibatkan timbulnya keadaan-keadaan pesimistis yang melemahkan jiwa. 

Joker adalah kisah penderitaan seorang individu bernama Arthur Fleck. Muncul sebagai reaksi ekstrim atas ketidakberdayaan dan keterpurukan menghadapi hidup yang tidak memihaknya, juga tentang manusia yang selalu menilai rendah manusia lainnya. 

Arthur Fleck adalah contoh individu yang tidak beruntung. Ia seperti sedang menyunggi aneka rupa nasib buruk, akibat dunia yang bersikap tak adil terhadapnya. Orang-orang tak henti mengolok-olok dirinya. Lantas ia pun terperangkap dalam ruang sempit bernama keterasingan. Dan sialnya lagi, ia hidup dalam sistem bobrok yang tidak bisa menolongnya. 

Lagu That’s Life membuktikan bahwa pada era sinema masa kini, unsur lagu latar (soundtrack) sudah menjadi bagian penting dalam upaya membangun suasana dan emosi sebuah film selain unsur penata musik. 

Todd Phillips menghadirkan Joker dengan tak sedikit pun memberikan ruang untuk bernafas lega. Itulah yang ingin ia suguhkan, yaitu dengan sungguh-sungguh menghadirkan secara gamblang gambar-gambar menyesakkan yang menyiksa perasaan sepanjang pertunjukan berlangsung. 

Dan pada akhirnya, secara tidak disadari membikin kita bersimpati kepada kejahatan. Barangkali hal itu yang sebenarnya dikhawatirkan segelintir orang, bahwa kita akan terjebak dalam rasa kasihan kepada seorang sosok villain. 

Joker adalah panggung Joaquin Phoenix. Todd Phillips tidak salah memilihnya. Ia berhasil memaksimalkan peran Phoenix.  Dan Phoenix pun membayar kepercayaan Phillips dengan akting yang nyaris sempurna. 

Kegelisahan batiniah antara kesakitan dan amarah, berhasil dibangun dengan sabar, cermat,  dan detil hingga mencapai klimaks ketika ia menari di atas mobil dengan diiringi lagu That’s Life dari Sinatra itu. 

Beruntung Phoenix memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan karakter Joker, karena film ini berkisah tentang Joker. Selama ini Joker selalu hadir sebagai pelengkap, dalam karakter yang sudah jadi tanpa kita tahu asal-usul dan sebab-musababnya mengapa akhirnya ia menjadi seorang villain. 

Sebelumnya Joker hadir dengan berbagai karakter yang menarik dan tak kalah memukau. Jack Nicholson mengadirkan Joker dalam karakter tengil dan menyebalkan. Heath Ledger tampil mengagumkan dengan karakter Joker yang bengis dan kejam. Lain pula Jared Leto, ia menghadirkan karakter nyentrik dan urakan dalam diri Joker. 

Lalu Joker pun menyisakan tanya dan kegelisahan bagi kita. Seperti apa yang dikatakannya, “Apakah orang sakit jiwa harus pura-pura berlagak normal supaya bisa di terima oleh masyarakat?"

Ataukah sebaliknya, agar kita bisa menerima orang yang sakit jiwa, kita harus berpura-pura menjadi seperti mereka? Sanggupkah kita?

BUDI MUGIA RASPATI
Penikmat Film

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar