Katong Samua Basodara

  Minggu, 15 September 2019   Dadi Haryadi
Ilustrasi persaudaraan. (pixabay.com)

Pada masa-masa lalu, pembauran manusia satu identitas dengan identitas lain masih terbatas. Keterbatasan karena aspek gerak dan akses sarana. Karena itu, kemenyatuan antarsuku etnis, dan ras belum tampak sempurna. Masing-masing identitas primordial tidak jarang menghadirkan superioritas. Puncaknya bisa dilihat kala menyeruak dikotomi Barat dan Timur. Peradaban Barat dengan segala tipikal kemajuan pengetahuan sementara peradaban Timur sebagai objek penderita dengan stigma keterbelakangan.

Imbasnya, dikotomi Barat dan Timur menciptakan jurang pembeda yang sering berujung pada interpretasi berlebihan nan absurd. Dampak paling terasa, hubungan manusia Barat dan manusia Timur –sebagai sesama penghuni bumi- terus merenggang dan menahbiskan suasana permusuhan sembari membawa jarak lebar. Padahal, bila ditilik mendalam, pendikotomian tersebut mengada-ada dan ahistoris. 

Barat dan Timur merupakan pendefinisian yang kabur. Berpotensi menguarkan hasrat saling curiga satu sama lain. Benturan peradaban di antara keduanya senyatanya merupakan mitos dengan tujuan semakin menenggelamkan manusia dalam kecamuk konflik dan merenggangkan kesatuan persaudaraan. Jurang masa lalu berupa dikotomi Barat-Timur harus kita mampatkan bersama demi pemuliaan dan kesederajatan manusia.

Siapakah Barat itu? bila terimajinasikan kumpulan negara Eropa plus Amerika Serikat, toh nyatanya mereka bukan satu entitas. Di dalamnya, terdiri banyak suku yang berbeda bahasa dan adat. Begitu pun Timur, nyatanya tidak bisa dipahami sebagai kesatuan etnis, bahasa, dan agama. Timur tidak identik Islam. Karena Kristen, Yahudi, Buddha dan Hindu bermuasal dari Timur. Karena itu, baik Barat maupun Timur masing-masing mempunyai bermacam-macam identitas yang tidak bisa dikatakan sebagai kemanunggalan untuk kemudian dihadap-hadapkan.

Sejarah komunitas manusia lintas etnis dan ras selama berpuluh-ratus abad lampau. Upaya saling belajar dan merajut koneksi lintas peradaban sudah tercipta; sehingga bisa dijadikan tamsil menihilkan superioritas. Dalam fase peradaban Arab, tidak bisa terdaku sebagai murni hasil keringat sendiri tanpa campur tangan peradaban sebelumnya. Terbabar dalam sejarah manakala Khalifah Harun al-Rasyid mengeluarkan kebijakan berupa penerjemahan secara besar-besaran terhadap karya-karya filsuf Yunani dan Romawi. 

Kegiatan berikutnya adalah mengembangkan dan menjadikan suatu disiplin ilmu pengetahuan yang lebih tersistem. Dari peradaban Arab-lah, lantas peradaban-peradaban selanjutnya mengambilnya dan mengembangkannya lagi. Setiap peradaban sejatinya mengambil sedikit-banyak dari peradaban lain. Karena itu, semestinya pula, setiap peradaban atau personal manusia tidak sepantasnya merasa jumawa paling maju-berpengetahuan yang kemudian berujung melakukan keculasan dan kolonialisasi terhadap manusia lain.

Apalagi, seiring kemajuan teknologi-komunikasi, perwujudan persaudaraan lintas batas negara dan bahkan antarbenua nyatanya semakin mudah direngkuh. Kecanggihan zaman hari ini secara langsung telah mengubur batasan tempat untuk kemudian menyempitkan jarak dan mengeratkan interaksi antarsesama. Termasuk pula pelajar Amerika berbondong-bondong menimba ilmu di banyak universitas di Asia. Perempuan Indonesia menikah dengan lelaki Perancis, misal, setali tiga uang dengan rumusan menjalin koneksi dalam diktum saling belajar dan menghargai antarkebudayaan.

Pada hari ini, rajutan persaudaraan universal macam itu secara positif telah membentuk prinsip-prinsip asasi kemanusiaan; di mana satu dengan yang lain saling menguatkan. Seperti halnya pada kesatuan sikap dan suara umat manusia dalam mengecam aneka peperangan. Mereka juga menibakan keibaan dan keprihatinan bersama pada laku penindasan dan genosida; serta berupaya bersama pula memijak langkah mengurangi pemanasan global dan menentang senjata nuklir.

Pada konteks sebagai bangsa Indonesia, rajutan persaudaran mesti menjadi pendulum gerak utama. Sama persis narasi di atas, masyarakat Indonesia merupakan kumpulan dari aneka suku, etnis, dan beragam agama dan kepercayaan. Masing-masing identitas kesukuan mempunyai sebentuk keunggulan (kearifan lokal) sebagai khazanah kekayaan bangsa untuk kemudian bisa saling jumpa dalam rupa asimilasi dan akulturasi. Karena itu, tidak benar bila menganggap sukunya terkata paling maju.

Memilin persaudaraan sebangsa-setanah air sudah banyak dilakukan. Ikhtiar itu bisa dilihat kala pernikahan lintas suku di Indonesia makin sering ditemui. Suku Jawa menikah dengan suku Dayak. Warna-warni masyarakat Indonesia seyogianya menjadi kesadaran kolektif kita bersama untuk merawat aset besar ini dari ancaman perpecahan. Para bijak bestari telah memberikan resep mujarab mewujudkan kelanggengan ikatan persaudaraan. Tak ada cara lain selain lebih banyak melihat hamparan persamaan ketimbang mencari-cari titik perbedaan.

Indonesia rukun

Setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri. Dalam bahasa Indonesia salah satu bentuk keunikan itu bisa dijumpa dari kata “kita” dan “kami”. Berbeda dengan kata “we” dalam bahasa Inggris atau “nahnu” dalam bahasa Arab, kata “kita” dan “kami” terasa lebih kompleks. Dalam arti kepunyaan dan identitas, “kami” dikhususkan terhadap penisbatan bersifat primordial. Sebaliknya, “kita” menggambarkan kesatuan atas aneka sub-intern yang berkohesi dengan saling penerimaan  untuk melebur dalam satu tubuh.  

Dalam konteks kebangsaan, keberbedaan sebagai manifestasi sunnatullah, “kami”  menyempitkan arti kesukuan, marga, dan keturunan; termasuk pada babakan agama. Sementara “kita” telah meluaskan pemaknaan melepas sekat-sekat tersebut dalam ruang bersama bersebut Indonesia. “Kita” merupakan jembatan dari pelbagai identitas untuk merangkai kehidupan harmonis dan ikhtiar memelihara  perdamaian. “Kita” digunakan sebagai mantra ampuh mengurai konflik dan meredam keegoisan primordial. Melalui “kita”, adalah semacam kunci atas kesadaraan antarkami yang sama-sama lahir dan tinggal di wilayah Indonesia.

Indonesia yang hingga kini masih patut sebagai representasi keberhasilan menjaga kerukunan dan perdamaian, bukan berarti nihil konflik. Konflik dan perseteruan penah terjadi. Faktor ekonomi-politik yang kemudian disulut melalui bahan pemantik berupa suku-agama seakan-akan menamsilkan hidup rukun dalam balutan multikultural adalah utopia. Namun, melalui kata “kita” sebagai kekhasan bahasa Indonesia, rupanya ampuh mengikat kembali sekat-sekat yang sempat tercerai berai. Konflik yang pernah mendera masyarakat Ambon yang kemudian mengerucut dalam perseteruan antarpemeluk agama, rupanya bisa diredam dengan kesadaran kebersatuan.

Melalui slogan “Katong Samua Basodara”, masyarakat Ambon menjadi lakon cerminan bagaimana slogan itu tidak sekadar simbol dan semacam petuah moralistik. Melainkan benar-benar bisa dilaksanakan dan dibuktikan. Kata “kita” atau “katong” menjadi ikatan persaudaraan dan pondasi perdamaian di atas kehidupan keagamaan dan etnisitas masyarakat Ambon yang multikultural. Imaji persatuan dalam kata “katong” telah memberi arahan dan makna mendalam. Menyadarkan untuk kembali merenungi asal-muasal dan titik persamaan. Kala perbedaan adalah keniscayaan, kata “kita” juga dimaksudkan sebagai pengikat lantaran persatuan/kesamaan sesungguhnya juga merupakan sunnatullah.

“Katong” rupanya mematahkan anggapan banyak orang bahwa konflik Ambon selesai hingga tiga-empat generasi. Sebaliknya, masyarakat Ambon bergerak cepat menanggalkan ke”kami”an dan merujuk ke”katong”an, sehingga sukses mengembalikan kedamaian tidak sampai satu generasi. Tesis Deddy Mulyana dalam Membongkar Komunikasi Budaya (2017) membabar realisasi konkret atas dasar spirit “katong”.  Komunitas muslim dan komunitas kristiani bahu-membahu menggalang kerjasama dalam banyak kegiatan. Semisal dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), orang Kristen turut berpartisipasi menjadi panitia. Pembangunan masjid dan gereja juga melibatkan elemen lintas pemeluk agama.

Sekat-sekat berupa: kami orang Jawa, kami bersuku Batak, kami dari Dayak, merupakan perbedaan alamiah. Namun, dengan kata “kita” orang Indonesia, merupakan unsur utama pemersatu sebagai sesama orang yang tinggal dan mencintai Indonesia. Pada cakupan lebih luas, sengkarut rasisme yang masih sering terjadi di ranah global, kata “kita” akan selalu mencari sisi kesamaan. Yakni, di antara perbedaan dan keanekaragaman ras manusia, bukankah “kita” semua adalah manusia.

Kemanusiaan merupakan termin aras pemersatu. Dan, kata “kita” telah menjadi obat terhadap penyakit superioritas ras. Inilah yang dilakukan Nelson Mandela untuk menyadarkan masyarakat internasional bahwa “kita”, baik kulit hitam maupun kulit putih adalah bersederajat sama sebagai sesama manusia.

Hal yang kiranya sama juga bisa diimplementasikan dalam ruang kehidupan beragama. Hampir dalam setiap agama, ada banyak aliran, mazhab, sekte dan ormas keagamaan. Keragaman varian pemahaman atas ajaran agama tersebut tak jarang memantik perseteruan berkepanjangan. Masing-masing pihak merasa menjadi yang paling benar. Penggunaan kata “kami” sebagai batas definisi pembeda dengan yang lain sering diuarkan: ”‘kami’ merasa benar karena sesuai Sunnah Nabi, sementara ibadahmu bidah lantaran menyalahi aturan agama”.

Padahal, menurut Rumi, masing-masing pihak sama-sama memungut pecahan kaca. Karena itu, meredam fenomena takfiri yang marak belakangan ini, “kami” mestilah diganti dengan “kita” demi menuju persamaan; karena sama-sama memegang kaca. Bukankah perbedaan itu ada titik simpul berupa kesamaan atas satu agama, “kita” sama-sama Islam. Baik NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, dan lain sebagainya memiliki pangkal sama: memercayai Alquran dan Hadis.

Segmentasi ke "kami-an" dalam rupa bersuku-berbangsa sebagaimana tersurat dalam Alquran (syu’uba wa qabaila) juga diselaraskan dengan narasi ke”kita”an berupa kata “li ta’arafu”; di mana menyimpan makna untuk lekas bergumul dan melebur dalam aras tunggal kemanusiaan. Semua perbedaan berpangkal kepada kesamaan sebagai hamba Tuhan. Nabi Saw telah meneladankan kepada kita dengan senantiasa berbaik laku kepada saban orang, gemar berbagi kepada tetangga, dan lekas menjenguk yang sedang terbaring sakit meski mereka berlainan agama. Bilamana tidak bisa bersaudara dalam agama, kita semua tetap bersaudara sebangsa dan bersaudara berdasar sesama manusia.

Muhammad Itsbatun Najih
Alumnus UIN Yogyakarta

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar