Mengintip Pesawat N-250, Karya Habibie yang Terhenti

  Kamis, 12 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Pesawat N-250. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM--Buah karya cemerlang presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie di bidang penerbangan salah satunya terparkir di hanggar pesawat PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) hingga saat ini. Ialah pesawat N-250, pesawat penumpang sipil jenis ATR yang terbang perdana di langit Indonesia pada 1995, menjelang HUT ke-50 RI.

Pesawat tersebut memiliki tekonologi fly by wire, yang memungkinkannya untuk beratraksi di udara. Selain itu, N-250 mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam dan kecepatan ekonomis 555km/jam. Kecepatan tersebut merupakan yang tertinggi di kelas turprop 50 penumpang kala itu.

Pesawat N-250 ini dibuat ke dalam sejumlah prototipe. Prototipe yang saat ini berada di hanggar PTDI adalah prototipe pertama, yang kemudian dinamai "Gatot Koco" oleh Soeharto. Warnanya didominasi biru dan putih, dan memiliki lukisan gambar tokoh pewayangan Gatot Kaca di sisi depan kanan dan kirinya.

AYO BACA : Pesawat Karya Habibie Bakal Dipamerkan di Museum Dirgantara Yogyakarta

Corporate Secretary PTDI, Irlan Budiman menyebutkan, pesawat tersebut mulai dikerjakan pada 1986 dan berhasil diterbangakan perdana pada 1995. Prosesnya pembuatannya melibatkan hingga 3.000 orang karyawan.

Dirinya juga menyebutkan, pesawat N-250 Gatot Koco ini sempat membuat 'geger' dunia pada 1997. Kala itu, pesawat yang sekaligus menjadi karya terkahir Habibie bersama PTDI ini dipamerkan di Paris Air Show, Perancis.

"Inilah yang membuat geger dunia bahwa saat itu putra-putra bangsa sudah mampu. Mereka mampu mengembangkan teknologi, khususnya dirgantara dalam membuat pesawat di kelas ATR. Pesawat ini sudah terbang sampai ke Eropa, dan tentunya membuat dunia melek," ungkapnya ketika ditemui di hanggar PTDI, Kamis (12/9/2019).

AYO BACA : Sebelum Sakit, BJ Habibie Sempat Minta Makanan Khas Sunda

Pesawat ini merupakan pesawat pertama yang murni dikerjakan oleh Habibie bersama tim yang keseluruhannya merupakan anak bangsa di IPTN (sebelum berubah menjadi PTDI), tanpa ada kerjasama dengan asing. Meski membanggakan, pengembangan dan tahap produksi pesawat ini harus terhenti akibat krisis moneter yang menghantam Indonesia pada 1997.

"Iya (terhenti) karena krisis moneter. Ini hal yang sangat menyedihkan. Kita sebagai negara berkembang saat itu mampu menunjukan kepada dunia bahwa kita sudah advanced di bidang teknologi. Di Paris Air Show itu kita sudah menujukan bahwa teknologi Indonesia sudah di depan," ungkapnya.

Dirinya mengatakan, fakta bahwa Indonesia sebagai negara berkembang mampu mengembangkan teknologi canggih membuat sejumlah negara merasa takut tersaingi. Dana dari International Monetary Fund (IMF) yang digunakan untuk membiayai pesawat N-250 kemudian dihentikan.

"Artinya ada beberapa negara memang ketakutan pada saat itu (Indonesia) bisa menyaingi. Pada akhirnya ya berpikir bagaimana mematikan N-250 dengan cara distop pendanaannya, maka selesai semua," ungkapnya.

Saat ini, upaya untuk kembali meneruskan mimpi Habibie adalah dengan membuat pesawat N-219, pesawat dengan ukuran dan kapasitas yang lebih kecil, yang diperuntukkan bagi konektivitas daerah tertinggal.

"Ini sudah dikembangkan dari riset kita sejak 2007. Sekarang sedang tahap sertifikasi untuk memenuhi jam terbang," ungkapnya.

AYO BACA : Sekolah di SMAK Dago, Habibie Dikenal Hargai Perbedaan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar