Lipkhas: PBSI Kota Bandung Prihatin PB Djarum vs KPAI

  Kamis, 12 September 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Sejumlah anak mengikuti Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 PB Djarum di GOR Satria Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019). Tahun 2019 menjadi tahun terakhir berlangsungnya Audisi Umum Bulu Tangkis, setelah PB Djarum memutuskan menghentikan event tersebut mulai tahun depan, terkait polemik dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menganggap bahwa ajang tersebut memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan merek Djarum yang identik dengan produk rokok. (ANTARA)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Keputusan salah satu klub bulutangkis terbesar di Indonesia, Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum menghentikan ajang Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis dalam menyaring bibit-bibit muda mengejutkan dunia olahraga di Tanah Air. Padahal sejatinya, sejak 2006, Djarum Foundation terus menjaring calon bintang bulutangkis masa depan, lewat Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum. Namun, perhelatan pada 2019 ini akan menjadi audisi terakhir.

Keputusan ini diambil PB Djarum karena tudingan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa PB Djarum memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan merek Djarum. KPAI menilai ada eksploitasi terselubung dalam audisi umum yang digelar. Lantaran, anak-anak yang mengikuti audisi harus mengenakan kaus dengan brand 'Djarum' yang diindikasikan berkorelasi dengan merek dagang rokok.

Polemik yang terjadi ini pun sangat disayangkan oleh banyak pihak salah satunya, Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Bandung yang menilai penghentian ini bisa memutus regenerasi atlet bulutangkis Tanah Air. Demisioner Plt Ketua Umum PBSI Kota Bandung, Gun Gun Germania mengaku prihatin dengan penghentian Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum mulai 2020.

Pasalnya keputusan itu menjadi pukulan besar untuk bulutangkis Indonesia, khususnya dalam pencarian bibit pemain. Gun gun menilai penghentian audisi membuat pencarian bibit pemain akan semakin sulit, dan imbasnya bisa berpengaruh pada prestasi bulutangkis Indonesia di masa depan.

"Sikap KPAI memutuskan PB Djarum terkesan mengekspolitasi anak-anak sebetulnya kurang bijak. Coba kita lihat ke belakang perjalanan PB Djarum terhadap sumbangsih perbulutangkisan Indonesia bahkan dunia, PB Djarum itu sudah banyak menelurkan atlet andal Indonesia yang bisa mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional," ucapnya.

"Pihak PB Djarum ini pun menurut saya secara finansial tak mendapatkan untung banyak dari perbulutangkisan, mereka lebih ke adanya rasa kererpanggilan sebagai anak bangsa mecoba memberikan kontribusi terbaik, mungkin salah satunya melalui beasiswa bulutangkis ini," ungkap Gun Gun saat berbincang dengan ayobandung.com, di Jalan Banda, Kota Bandung, Rabu (11/9/2019).

AYO BACA : KPAI: Audisi PB Djarum Dekatkan Anak pada Rokok

Gun gun menilai, Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum terbukti telah menghasilkan atlet-atlet hebat, bukan mengeksplotasi anak seperti yang dituduhkan beberapa pihak. Bahkan sederet nama yang berhasil ditelurkan yakni pemain Pelatnas yang merupakan jebolan Audisi Djarum antara lain Kevin Sanjaya Sukamuljo, pasangan juara dunia junior 2019 Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil, serta Ribka Sugiarto yang baru saja mencapai semifinal Chinese Taipei Terbuka 2019 di sektor ganda putri. Bukan hanya itu, beberapa legenda bulutangkis lain juga berasal dari klub PB Djarum, seperti Susy Susanti, Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad, hingga Mohammad Ahsan.

"Adapun ada proses audisi sendiri, kan itu memang menjadi salah satu mekanisme untuk memilih bibit pebulutangkis potensial, karena juga kuota terbatas makanya ada audisi. Namun dengan sikap KPAI saat ini perlu ditinjau kembali dan ini memang sebetulnya ranah pemerintah menyampaikan keputusan PB Djarum melakukan eksplotasi anak atau tidak," katanya.

"Saya sendiri sebagai insan bulutangkis, yang sebagian besar hidup saya dan mungkin dari kecil saya hidup di lapangan bulutangkis saat mendengat pernyataan KPAI sampai PB Djarum menyatakan pamit cukup disayangkan dan merasa miris, kok KPAI secepat itu melakukan suatu sikap yang mungkin dinilai kurang bijak. Jadi saya pikir pemerintah harus turun tangan, karena kalau enggak saya khawatir komunitas bulu tangkis secara masal akan melakukan satu protes," jelasnya.

Justru, Gun gun berharap semua pihak baik pemerintah, pihak swasta, pelaku bulutangkis, dan masyarakat bahu membahu dan bergandengan tangan demi bulutangkis Indonesia, bukan sebaliknya. Apalagi, selama ini bulutangkis menjadi cabang olahraga andalan Indonesia untuk berprestasi di kancah dunia. Pasalnya menurut Gun gun, tak banyak pihak klub bulutangkis yang punya perhatian, kepedulian, dan dana yang besar untuk mendukung bulutangkis Indonesia. Seharusnya semua pihak bergandengan tangan demi bulutangkis Indonesia.

"Maka dari itu saya berharap keputusan KPAI membuat pernyataan seperti itu untuk bisa ditinjau kembali, coba berpikir dari segi kontribusi PB Djarum untuk pengembangan bulutangkis di Indonesia," katanya.

Terlebih Gun gun menilai pemerintah belum tentu sanggup apabila harus menggantikan peran klub bulutangkis tersebut dalam merekrut calon atlet-atlet bulutangkis berkualitas. Pasalnya, sudah ada pos pembagian anggaran untuk setiap cabang olahraga. Oleh karena itu, Gun gun berharap dalam proses pencarian bibit-bibit atlet berbakat, pemerintah dalam hal ini Kempora harus bisa menengahi.

AYO BACA : Anak Tak Boleh Terpapar Promosi Rokok

"Kalau misal ada pernyataan akhirnya pemerintah yang menghandle, terus terang saja pemerintah terbatas dananya. Kalau pun bisa mungkin kecil kemungkinan pemerintah bisa menghandle masalah pembiayaan bulutangkis. Bukan pemerintah tidak memikirkan tapi kan pemerintah yang diurus banyak hal," katanya.

"Di sisi lain saya sendiri merasakan aura kemajuan bulutangkis Indonesia betul-betul ditopang PB Djarum. Dan Djarum Fondation ini pun bukan baru setahun dua tahun ada tapi udah lama, dan negara pun merasakan kontribusinya," lanjutnya.

Bukan hanya itu, Gun gun juga mengomentari akar masalah soal Audisi Beasiswa Bulutangkis Djarum. Menurut Gun Gun tudingan Komisi Perlinduangan Anak Indonesia (KPAI) yang menganggap ada unsur eksploitasi anak oleh industri rokok dalam audisi tersebut terlalu berlebihan. Pasalnya menurut Gun gun PB Djarum dan Djarum yang merupakan produsen rokok adalah dua identitas berbeda. Begitu juga dengan progrsm beasiswa Djarum Foundation yang membawahi audisi tersebut.

"Pernyataan KPAI terkait eksploitasi anak peserta audisi PB Djarum menurut saya terlalu berlebihan. Program Djarum Foundation ini kan dengan jelas bukan mengenalkan produk dari pabrik rokoknya tapi mereka memiliki program pengembangan talenta dan mereka pun tidak mengaudisi anak-anak untuk merokok kok. Gak ada kaitannya, PB Djarum pun mengaudisi anak bukan untuk sebagai perokok, tapi untuk calon pebulutangkis yang profesional ke depannya," tutur Gun Gun.

Kendati demikian, Gun gun tak menampik, di satu sisi KPAI ingin memberikan perlindungan kepada anak. Namun di sisi lain olahraga Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari peran swast dalam upaya membantu pembibitan atlet maupun prestasi olahraga Indonesia.

Apalagi menurut Gungun, dukungan yang dilakukan Djarum Fondation tak sekadar menjadi sponsor turnamen atau pertandingan saja. Akan tetapi pembinaan atlet secara berjenjang. Semua pihak, lanjut Gun gun, bisa saja punya dana besar, tetapi belum tentu fokus dan konsentrasi ke olahraga bulutangkis.

"makanya saya harap pemerintah bisa menyelamatkan programnya. Bukan maksud menyelamatkan PB Djarum ini dengan tujuan untuk memasarkan rokok, bukan, tapi karena PB Djarum punya program beasiswa untuk kemajuan bulutangkis Indonesia. Makanya saya pribadi berharap pemerintah turun tangan menengahi masalah ini," ujar Gun gun.

AYO BACA : KPAI Bantah Permasalahkan PB Djarum karena Dana dari Bloomberg

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar