Momentum Hari Statistik Nasional

  Selasa, 10 September 2019   Rizma Riyandi
Dadang Darmansyah, S,Si, MM, Kepala Seksi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis

Dalam pidato kenegaraan, Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita, kini data lebih berharga dari minyak. Demikian pula menurut  Pengamat telekomunikasi dari ICT Institute Heru Sutadi kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/8/2019). Heru mengatakan  Perkembangan dunia saat ini, disebut data adalah new oil, bahkan new currency, mata uang baru. Bagaimana kita menggunakan data, melindungi data, yang amat sangat berharga,

Dengan demikian, data menjadi bagian penting yang tidak bisa terabaikan. Pemanfaatan  digitalisasi telah mempercepat terwujudnya era big data.  Hal ini sejalan dengan pertumbuhan bisnis berbasis digital. Revolusi industri 4.0 juga memicu pebisnis memanfaatkan teknologi tingkat tinggi.

Dari sisi masyarakat, sebagai konsumen sangat dimanjakan dengan kemudahan bertransaksi menggunakan berbagai aplikasi. Istilahnya sudah tidak asing lagi dunia dalam genggaman. Namun  disadari atau tidak,  data individu terkumpul begitu cepatnya. Beberapa waktu yang lalu menjadi viral adanya kebocoran data individu. Data pribadi yang disalahgunakan untuk berbagai kepentingan oleh kalangan tertentu.   

Data, sebenarnya belum bisa menjadi suatu informasi tanpa pengolahan statistik. Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia,  statistik merupakan data yang berupa angka yang dikumpulkan, ditabulasi, digolong-golongkan sehingga dapat memberi informasi yang berarti mengenai suatu masalah atau gejala. Oleh sebab itu, data  terkait erat dengan statistik. Mencermati perkembangan produsen data di era digital, bisa dikatakan statistik makin membumi.  

Sebagai mana kita ketahui bersama, Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan salah satu produsen data di negeri ini. Dalam perjalanannya, BPS telah menjalankan  berbagai macam metode pengumpulan data. Metode pengumpulan data tersebut  mulai bergeser ke arah penggunaan teknologi. Diantaranya adalah  Survei Kerangka Sampel Area (KSA). KSA  memanfaatkan  teknologi sistem informasi geografi (SIG), pengideraan jauh, teknologi informasi, dan statistika.   Saat ini sedang diimplementasikan di Indonesia untuk perolehan data dan informasi pertanian tanaman pangan.

Demikian pula dalam survei wisatawan menggunakan Mobile Positioning  Data (MPD). Tidak hanya itu, BPS juga mulai menggunakan  metode CAPI (computer assisted personal interviewing) dalam surveinya. Pada Sensus Penduduk 2020 tahun depan juga akan menggunakan metode CAWI (computer assisted web  interviewing).

Adapun hubungan produsen data pebisnis dan produsen data lainnya sangat terkait erat dengan BPS. BPS disamping mengimbangi pengunaan teknologi dalam metode pengumpulan datanya, juga diberikan amanah sebagai pembina data. Hal ini tertuang dalam Perpres nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia.  
\n 
\nBPS sebagai pembina statistik diharapkan  menjadi  trigger  Hari Statistik Nasional (HSN) yang diperingati tanggal 26 September.  Dilihat dari sejarahnya, hari statistik sangat berkaitan erat dengan ditetapkannya undang-undang nomor 16 tahun 1997 tentang statistik. Berdasarkan undang-undang tersebut BPS yang semula bernama Biro Pusat Statistik berubah menjadi Badan Pusat Statistik dan sekaligus menetapkannya sebagai Hari Statistik Nasional.

Namun demikian, hari statistik bukanlah hari ulang tahun BPS. Hari statistik merupakan milik semua insan statistik.  Insan statistik, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat. Mereka dalam kapasitas sebagai produsen data ataupun sebagai pengguna data.  Setidaknya terdapat dua hal yang bisa kita maknai dari hari statistik;

Makna pertama, meningkatkan peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk membangun statistik. Masyarakat harus di dorong untuk sadar statistik. Membangun kesadaran masyarakat dalam memberikan data dan jawaban yang jujur apa adanya. Masyarakat juga harus memahami urgensi perlindungan data pribadinya. Tidak membuka ruang pelanggaran dan penyalahgunaan data pribadinya oleh pihak tertentu. Meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam memberikan data dengan jaminan kerahasiaan data. Dalam undang-undang nomor 16 tahun 1997 tentang statistik pasal 21 menyebutkan bahwa penyelenggara kegiatan statistik wajib menjamin kerahasiaan keterangan yang diperoleh dari responden. Juga Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik.

Makna kedua, mendorong para pelaku statistik untuk melakukan kegiatan statistik sesuai kaidah statistik yang baku. Proses statistik yang objektif, bebas dari kepentingan dan dapat dipertanggungjawabkan. Produsen data juga harus mampu menghasilkan data berkualitas. Dimana kerangka penjaminan data kualitas terdiri dari relevance (relevansi), accuracy (akurasi), timeliness (aktualitas), punctuality (tepat waktu), accessibility (aksesibilitas), interpretability (interpretabilitas), coherence (koherensi) dan comparability (keterbandingan) atau lebih dikenal dengan QAF-BPS (Quality Assurance Framework-BPS). Saat ini telah banyak data tersedia yang dihasilkan oleh berbagai produsen data. Data yang tersaji harus semakin bersifat easier (lebih mudah diakses), faster (lebih cepat tersedia), better (lebih berkualitas) dan cheaper (lebih murah).

Dengan memahami ini semua, hari statistik diharapkan dapat membangun kesadaran kita semua. Terdapat tanggungjawab besar dalam seluruh proses kegiatan statistik. Tanggungjawab partisipasi masyarakat dalam membangun statistik, tanggungjawab  kualitas data yang dihasilkan para pelaku dan penyelenggara kegiatan statistik serta tanggungjawab perlindungan data individu.

Dadang Darmansyah, S,Si, MM
\nKepala Seksi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar