Joko Anwar, Dari Film Noir ke Superhero

  Senin, 09 September 2019   Dadi Haryadi
Film Gundala karya Joko Anwar. (istimewa)

Jagat Sinema Bumilangit hadir di tengah gempuran para superhero impor. Ini sesuatu yang menyegarkan walau kemunculannya terkesan ikut-ikutan. Bukankah Marvel dan DC pun—meski tidak secara terang-terangan, selalu bersaing sekaligus saling menginspirasi? 

Saya menyebutnya begitu, sekadar untuk menghibur diri dari ketidak tahuan siapa di antara keduanya yang pertama kali “ikut-ikutan”? Jadi kalau begitu tak ada salahnya jika Jagat Sinema Bumilangit memang terinspirasi oleh keduanya? Boleh-boleh saja, bukan?

Setidaknya kita tidak melulu dicekoki aksi para jagoan luar yang sudah mulai membikin kursi bioskop menjadi tempat untuk menyambut datangnya rasa kantuk yang paling nyaman. Sebab tak ada lagi hal-hal baru dari film-film jagoan Marvel dan DC itu, selain kecanggihan efek visual yang begitu-begitu saja. Kedalaman karakter dan cerita sudah terabaikan, karena ada yang lebih penting dari sekadar film sebagai karya seni mumpuni, yaitu duit yang terus menggelontor ke dalam pundi-pundi para pemilik modal. 

Joko Anwar menggarap Gundala seperti gaya Christopher Nolan saat menangani Batman atau Bryan Singer ketika menafsirkan Superman. Joko Anwar tidak ingin tejebak dalam karakter stereotip komik superhero yang cenderung naif dan tak berjiwa. Seperti halnya Nolan dan Singer, Joko Anwar mencoba mengambil jalan memanusiakannya, meskipun dalam pengungkapannya tidak sedalam The Dark Night Trilogy atau Man of Steel. 

Menikmati Gundala terasa seperti bukan sedang menonton film lokal. Joko Anwar dengan berani telah memanfaatkan teknologi CGI dengan hasil yang tidak memalukan.  Seperti ingin membuktikan bahwa sineas Indonesia pun sudah bisa membuat film dengan standar tinggi seperti Hollywood. Hal itu dibuktikan lewat gambar-gambar memikat dengan tone warna yang memanjakan mata. 

Kemampuan teknis Joko Anwar sebagai sutradara memang terlihat semakin matang. Keterlibatannya dalam garapan serial televisi bergenre fantasi gelap produksi HBO Asia yang berjudul Halfworlds turut mempengaruhi kemampuannya itu, dan menjadi pengalaman yang penting dalam karirnya.  

Gundala juga berhasil melepaskan stigma Joko Anwar sebagai sutradara pemuja film noir. Kesukaannya pada film horor, telah menggiringnya untuk menyukai genre film noir yang biasanya diwakili oleh suasana kelam, dengan cahaya rendah, berikut gambaran moral yang ambigu dari para tokoh-tokoh cerita. Tengok saja film-filmnya yang kental dengan gaya film noir  seperti: Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. 

Dengan rancangan skenario yang tidak bertele-tele, bagian pertama film Gundala berhasil dieksplorasi Joko Anwar untuk menghasilkan adegan-adegan dramatik lewat rentetan gambar tragedi penuh penderitaan tokoh Sancaka kecil dan orangtuanya. Sisipan kritik sosial dan politik  menambah nilai lebih, bahwa film ini bukan sekadar film superhero biasa. 

Joko Anwar pun berhasil menghadirkan beberapa adegan “easter egg” yang tak berkesan garing. Jangan dilewatkan juga  kehadiran mengejutkan dari beberapa artis seperti Aming, Ari Tulang, Sujiwo Tejo, dan tentu saja Pevita Pearce. Kehadiran mereka seolah menjadi bocoran bahwa selanjutnya akan hadir suguhan aksi superhero yang lebih memikat lagi. 

Gundala sudah membukakan pintu untuk menyambut masa depan cerah Jagat Sinema Bumilangit. Joko Anwar pasti sedang sumringah dan bungah dengan hasil yang sudah dicapai Gundala. Saya rasa dia memang berhasil membuat Gundala sebagai sebuah tontonan yang mengasyikan. Dan saya pun sudah tak sabar menunggu kehadiran Sujiwo Tejo sebagai tokoh antagonis Ki Wilawuk untuk bertarung dengan Gundala dalam sekuel berikutnya.

Budi Mugia Raspati
Pegawai Ditjen Pajak

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar