Perhatikan! Ini Bahaya Mengguncang Bayi

  Jumat, 06 September 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Sindrom mengguncang bayi ibarat sekumpulan teroris pembuat miris. Betapa tidak? Hanya mengguncang-guncang bayi tiada lama, namun berpotensi membuatnya kehilangan nyawa. Bapak, ibu, kakek, nenek, atau pengasuh anak menjadi tersangka utamanya.

Kejadian sindrom mengguncang bayi (SMB) telah diketahui sejak beberapa dekade lalu. Dimulai pada tahun 1946. Saat itu, John Caffey mengobservasi SMB pada bayi dengan perdarahan di bagian dalam tengkorak kepala (intrakranial) dan patah (fraktur) tulang panjang.

Berlanjut di tahun 1960an, dokter beserta tim medis mengidentifikasi beragam tanda radiografis serta tanda-tanda klinis terkait kekerasan bayi.

Pada tahun 1972, Caffey mengungkapkan terminologi battered baby syndrome untuk menyebutkan SMB. Barulah di tahun 2000 an, SMB menjadi topik menarik yang terus diperbincangkan di Amerika Serikat. Di Indonesia.

Di berbagai literatur medis, SMB dikenal memiliki beberapa sinonim. Misalnya: sindrom mengguncang si Kecil, shaken baby syndrome, shaken impact syndrome, whiplash shaken infant syndrome, pediatric abusive head trauma, inflicted traumatic brain injury, nonaccidental head injury, nonaccidental head trauma.

Insiden SMB diprediksi 15-30 kejadian per 100 ribu bayi berusia kurang dari 1 tahun. Bayi berusia kurang dari 1 bulan hingga anak berusia 5 tahun berpotensi besar mengalami SMB.

Pencetus utama kejadian SMB adalah tangisan kuat bayi yang berkelanjutan. Tangisan itu sulit dihentikan. Orang-orang di sekitar atau di dekat bayi, seperti: ibu, bapak, kakek, nenek, paman, kakak, tetangga, pengasuh anak, secara otomatis langsung berusaha untuk menenangkannya.

Umumnya, hal-hal yang dapat mereka lakukan adalah mengayun, menepuk, atau mengguncang bayi supaya berhenti menangis.

Mengguncang bayi tidaklah serupa dengan menggoyang bayi dengan perlahan, mengayun bayi dengan kaki yang bertujuan untuk menghibur sambil bersenda-gurau. Memperlakukan bayi dengan cara mengguncang-guncang secara kuat, keras, atau kasar berpotensi menimbulkan efek whiplash yang mencederai organ dalam, sehingga terjadi perdarahan di berbagai organ, seperti mata dan otak.

Penyebab

Lynoe dan Eriksson (2019) mengemukakan teori hipoksia kapiler sebagai penyebab SMB. Menurut teori ini, kekurangan oksigen (hipoksia) menyebabkan pembengkakan otak dan peningkatan tekanan intraserebral, yang pada gilirannya menyebabkan perdarahan subdural berbasis kapiler.

Menurut teori hipoksia-kapiler, mengguncang tanpa disertai tanda atau dampak tertentu bukanlah prasyarat berlangsungnya trias SMB (hematoma subdural, ensefalopati, dan perdarahan retina).

Teori lain yang mendasari SMB didasarkan pada teori patogen, di sini dinamakan teori traditional shaken baby. Teori ini menjelaskan; hanya kekuatan energi tinggi yang dapat menyebabkan hematoma subdural, ensefalopati, dan pendarahan retina. Menurut teori ini, terdapat tiga faktor terpisah dan independen yang mempengaruhi otak, vena, dan mata.

Guncangan keras seharusnya: (1) memiliki dampak langsung pada otak dengan merusak serabut saraf, (2) merobek satu atau lebih vena penghubung, menyebabkan hematoma subdural dan (3) merobek bodi vitreous dari retina, mengakibatkan perdarahan retina, yang diduga patognomonik.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perdarahan retina tidak patognomonik, tetapi sekunder akibat peningkatan tekanan intrakranial. Selain itu, ensefalopati disebabkan oleh hipoksia, edema otak, dan peningkatan tekanan intrakranial, bukan oleh disrupsi (gangguan) serabut saraf.

Jadi dapatlah disimpulkan bahwa mengguncang saja, yang tidak berdampak pada kepala bayi, belumlah cukup untuk menghasilkan trias SMB.

Dokter dan tim medis yang terlibat investigasi kasus SMB, pilihan teori dipengaruhi oleh nilai dan preferensi yang terkait dengan tujuan yang berlaku untuk melindungi bayi dari SMB.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar