Menengok Perkebunan di Atap Gedung Singapura

  Rabu, 04 September 2019   Rizma Riyandi
Kebun sayuran dan buah di atap gedung Funan Mal, Singapura, Urban Farm dikelola oleh Edible Garden City (ANTARA/Desi Purnamawati)

SINGAPURA, AYOBANDUNG.COM--Siapa yang tidak tahu Singapura, sebuah negara kecil yang modern dan menjadi pusat bisnis global di Asia Tenggara.
\n
\nNamun Singapura adalah negara kecil dengan sumber daya alam yang terbatas, dengan luas 721 kilometer per segi dan jumlah penduduk 5,6 juta jiwa.
\n
\nDengan lahan yang sedikit lebih luas dari Jakarta, mungkin orang akan heran bagaimana negara dengan ikon kepala singa itu bisa begitu maju dibandingkan negara lainnya di kawasan yang sama.
\n
\nJadi pertanyaan, bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan pangan warganya dengan minimnya lahan yang bisa ditanami?
\n
\nHingga 2013 hanya tersisa 700 hektare atau satu persen dari lahan di Singapura yang berproduksi.
\n
\nMaka tidak heran hampir 90 persen kebutuhan pangan mereka diimpor dari sejumlah negara termasuk Indonesia mulai dari daging, ayam, babi, ikan, buah, minyak goreng hingga sayuran.
\n
\nBerdasarkan data Pemerintah Singapura pada 2015, mereka mengimpor 13 persen sayuran, 24 persen telur dan 10 persen ikan dari sejumlah negara.
\n
\nDi samping itu, data di tahun yang sama juga mencatat bahwa sisa makanan yang terbuang cukup besar, mencapai 800 ribu ton per tahun atau setara dengan 1.500 kolam renang ukuran olimpiade.
\n
\nJadi bagaimana mereka bisa mandiri dan tidak tergantung terhadap pangan impor khususnya sayur segar dan buah dengan kondisi kekurangan lahan menjadi sebuah tantangan.
\n
\nKondisi inilah yang mendorong sejumlah masyarakat untuk mencari terobosan agar tidak tergantung sepenuhnya dengan produk impor.
\n
\nSalah satunya terobosan yang dilakukan masyarakat yang tergabung dalam Edible Garden City (EGC), mereka menanam sayur dan buah yang dimakan sendiri dengan cara memanfaatkan atap gedung (rooftop) sebagai lahan bercocok tanam.
\n
\nKebun di atap gedung
\n
\nEdible Garden City mengelola Urban Farm yang menyulap atap Funan Mal menjadi kebun sayuran dan buah. Terobosan ini menjadi langkah besar bagi pertanian di Singapura yang tanpa lahan dan di tengah perkotaan.
\n
\nSebagai negara kecil dengan lahan terbatas, tidak memungkinan kami untuk menanam dengan cara tradisional, kata salah seorang pendiri dan Direktur Utama Edible Garden City Bjorn Low.
\n
\nBjorn dan koleganya sudah menggalakkan program yang sama di sejumlah titik. Mulai dari Marina Bay Sands, Resort World Sentosa, Raffles City Rooftop, Fairmont Hotel, Six Senses, hingga di Funan Mal.
\n
\nFunan Mal, tampak lebih modern setelah direnovasi dan dibuka kembali pada 28 Juni 2019. Di atap gedung seluas 5.000 kaki persegi terlihat menghijau dengan beragam sayuran dan buah.
\n
\nDi Urban Farm, mereka menanam berbagai jenis sayuran, buah, bunga, rempah-rempah, tanaman herbal hingga jamur.
\n
\nKetika diajak berkeliling ke Funan Urban Farm, dari tangga menuju ke atap, langsung terlihat pohon pisang berjajar rapi di samping beberapa pohon pepaya yang sedang berbuah. Di bagian dalamnya, cabai rawit merah tumbuh subur.
\n  
\nDi bagian lain, tersusun bayam jepang yang berdaun runcing berwarna kemerahan. Di sisi lain, ditanam pohon buah naga.
\n
\nDi ruang tertutup yang dilapisi kaca layaknya jendela, terlihat jamur di media tanam tersendiri dan di bagian tertutup lainnya, berjejer rapi pot-pot tanaman rempah serta bunga yang bisa dimakan.
\n
\nSemua varietas yang ditanam telah ditentukan, bukan hanya rasa tetapi juga kemudahan dalam menanam di iklim tropis atau di salah satu ruangan penanaman khusus dengan iklim terkontrol menjadi pertimbangan.
\n
\nLebih dari 50 jenis tanaman yang ditumbuh di Funan Urban Farm, mulai dari lemon, serai, mint, pandan, jahe, kunyit, buah naga, markisa, okra dan kembang telang.
\n
\nBeberapa tanaman asli Singapura, atau tanaman peninggalan sejarah yang hampir terlupakan, seperti ulam raja juga ditanam disana.
\n
\nTentunya semua tanaman bebas pestisida sehingga terjamin kesegaran dan lebih sehat tentunya.
\n
\nMenurut Bjorn Low, terobosan ini sejalan dengan target Pemerintah Singapura untuk menghasilkan 30 persen makanan nasional secara lokal pada 2030 atau dikenal dengan tujuan 30 per 30.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar