Perjuangan Bertahap untuk Demokrasi di Hong Kong

  Sabtu, 24 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Seorang kurir jasa cuci pakaian berjalan melewati barikade yang dibuat pengunjuk rasa saat demonstrasi, yang mendukung pemogokan di seluruh kota dan menyerukan reformasi demokrasi, di Tin Shui Wai di Hong Kong, China, Senin (5/8/2019). (ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/wsj)

Sudah berulang kali terjadi demonstrasi menuntut ‘kebebasan’ di Hong Kong, tetapi unjuk rasa kali ini yang dimulai sejak tiga bulan lalu bisa mengubah wajah bekas koloni Inggris itu. Para pendemo, mahasiswa sebagai unsur utama, menuntut pencabutan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradiksi karena memungkinkan Beijing mengekstradiksi penentang, penyelidikan atas tindak kekerasan polisi dalam menangani unjuk rasa dan sebagainya.

Tuntutan tersebut sepertinya tidak akan dipenuhi seluruhnya karena pemerintah Hong Kong dan Cina tak mungkin tunduk dengan tekanan massa. Langkah berikutnya, kemungkinan pemerintah Cina akan mengembangkan kota-kotanya untuk melampaui Hong Kong.

Demonstrasi telah merusak reputasi bekas koloni Inggris yang diserahkan ke Cina tahun 1997 itu. Ratusan penerbangan dari dan ke Hong Kong ditunda atau dibatalkan. Pramuniaga departement stores kini lebih banyak disapa angin dan diterpa gas air mata ketimbang pembeli. Transaksi perbankan dan nilai saham di bursa Hong Kong merosot tajam. Kerugian juga melanda restoran-restoran dan bisnis eceran.

Unjuk rasa yang masif ini mengganggu sendi-sendi perekonomian. Mata pencaharian mayoritas penduduk, total mencapai enam juta jiwa, pasti terganggu. Padahal sebelumnya, Hong Kong sudah terusik akibat perang dagang Cina dengan Amerika Serikat.

Diperkirakan perlu waktu cukup lama agar perekonomian kembali ke situasi sebelum demo. Pemerintah Indonesia hendaknya tidak melupakan nasib sekitar 165.000 ribu Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Hong Kong.

Mutiara di Timur

AYO BACA : Ribuan PNS Hong Kong Ikut Demo bersama Mahasiswa

Bagi Cina, Hong Kong adalah cerita duka. Menurut sejarah, dinasti Qing menentang penjualan candu yang dilakukan Inggris ke Cina Daratan.  Tentara Inggris menyerang sambil memperdagangkan candu di kalangan rakyat.

Akhirnya berdasarkan perjanjian Nanjing dan Tianjing, Cina harus menyerahkan Hong Kong, Makao, dan Taiwan kepada Inggris, Prancis dan Portugis. Hong Kong baru dikembalikan ke Cina pada 1997, sedangkan Makao dari Portugis pada 20 Desember 1999.

Bagi para turis yang mengunjungi rumah Dr. Sun Yat Sen di Nanjing kiranya dapat memahami mengapa ada rasa benci terhadap bangsa-bangsa Barat. Di selembar papan di pintu masuk rumah itu, tertulis pernyataan...Bangsa-bangsa Barat telah mempermalukan dan menipu dalam perang candu....

Setelah menguasai, Inggris sangat memanfaatkan posisi Hong Kong secara maksimal sebagai etalase politik demokrasi dan ekonomi ala Barat. Inggris menguasai dan mengendalikan semua sektor mulai dari keuangan, transportasi hingga pendidikan. Dunia membandingkan Hong Kong yang gemerlap dengan Cina yang kelam dan terkekang di bawah paham komunis.

Pulau seluas 1.106 km persegi ini juga ditumbuhkan sebagai pusat keuangan dunia bersama New York, London, Tokyo, dan Paris. Bursa Hong Kong pun menjadi mata rantai perdagangan surat-surat berharga internasional. Indeks pada penutupan di sore hari akan diperhitungkan mempengaruhi perdagangan di Wall Street, New York pada pagi hari berikutnya.

Jutaan wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia, membanjiri pulau yang padat ini. Bisnis pariwisata dikelola dengan promosi yang canggih hingga turis tertarik mencicipi kuliner, melihat festival budaya, bahkan naik kereta ke Mount Peak.

AYO BACA : Pariwisata Hong Kong Terpuruk Akibat Unjuk Rasa

Lucunya, penumpang akan tertipu bila mengharapkan kereta bergerigi ini melewati belantara. Kereta ternyata mendaki dengan melewati rumah-rumah berkaca yang menempel di bukit. Penumpang kereta bisa melihat tuan rumah yang sedang menonton TV. Sampai di atas ternyata banyak mobil yang naik lewat jalan lain.

Sulit Hilang

Perlakuan Inggris selama seabad lebih sudah mempengaruhi pola pikir dan pola tindak masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Pemerintah Cina memahami kondisi itu dengan menerapkan model satu negara dan dua sistem.

Hong Kong dibiarkan memiliki sistem hukum dan pengadilan sendiri, angkatan kepolisian, dinas pelayanan publik dan organisasi di tingkat distrik walaupun tanpa kekuatan politik.

Sementara ini, Cina memanfaatkan tetangga mininya sebagai ‘pintu mengenal’ dunia Barat. Lebih dari seribu perusahaan Cina listed di Bursa Hong Kong dengan meraih dana lebih dari US$800 miliar. Sebanyak 22 dari 152 bank yang beroperasi berasal dari Cina dan 200 perusahaan Cina memiliki kantor regional di Hong Kong. Sekalian entitas itu beroperasi ala perusahaan Barat.

Aksi demo memperlihatkan aspirasi masyarakat yang menginginkan Hong Kong setahap demi setahap lepas dari pengendalian Beijing. Masyarakat Hong Kong boleh jadi tengah menempuh cara lain setelah masyarakat di provinsi Xinjiang gagal melepaskan diri.

Seiring dengan berjalannya waktu dan Cina yang makin kokoh, aspirasi itu mustahil dipenuhi sebab dapat menjadi contoh bagi 22 provinsi, lima kawasan otonom dan empat wilayah administratif yang langsung dikendalikan pemerintah. Maka dari itu kepolisian Hong Kong yang didukung kalangan bisnis akan menumpas pendemo dengan dalih ketertiban dan kestabilan.

Farid Khalidi

AYO BACA : Demonstrasi Hong Kong di Stasiun Metro Berakhir dengan Bentrokan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar